Melbourne Day 7: I wanna go home…


It’s not even a week since I landed safely in Melbourne, but I passed my honeymoon phase already.

Yang sekarang dirasakan adalah rasa gelisah, gak betah dan ingin pulang. Cuaca yang dingin mungkin adalah salah satu penyebabnya, mungkin juga karena roommate saya akan pulang ke Indonesia (di saat perjuangan saya yang panjang baru akan dimulai), mungkin karena tugas-tugas di kampus yang sudah menumpuk (baru juga week ke-2, tapi tugas sudah menanti tiap minggu :'() atau mungkin juga karena ada banyak hal yang mendorong saya ‘gak kerasan’ di sini. Saya kembali menanyakan ke diri saya sendiri alasan mengapa saya ingin kuliah jauh di luar negeri. Dulu saat di Indonesia, ide sekolah jauh dari rumah sepertinya sangat menarik. Saya ingin sebuah kesempatan untuk melihat ‘dunia luar’, kesempatan untuk lebih menjadi diri sendiri tanpa terus menerus dipantau oleh keluarga, namun saat ini semua kehangatan keluarga terasa sangat mewah. Jangan dikira bahwa kehidupan di luar jauh lebih mudah, kenyataannya masih banyak penyesuaian diri yang harus dilakukan.

Sulit beradaptasi dengan lingkungan baru adalah salah satu sifat buruk saya. Di negeri orang, saya diharapkan mandiri. Sebuah tatanan keseharian yang sudah dibangun dan dibiasakan sejak dulu harus serta merta diubah mengikuti kondisi baru. Ada kendala bahasa, budaya, cuaca dan keseharian yang harus dijembatani agar jurang antara kita sebagai individu dan sebagai makhluk sosial tidak semakin luas.

I don’t belong here or anywhere. So where do I belong? 

Selalu muncul perasaan bahwa saya tidak cocok di suatu tempat, namun setelah saya lihat ke belakang, ternyata perasaan seperti itu selalu muncul. Perasaan tidak nyaman berada di suatu tempat. Inilah saat dimana saya harus memaksakan diri saya berubah (atau setidaknya beradaptasi) agar tidak terus menerus tenggelam dalam perasaan ‘I don’t belong anywhere‘. This is the time when I should tolerate less to my own feeling and brace myself for the new challenges in life. Bukankah memang akan selalu ada rasa enggan untuk beranjak dari zona nyaman kita? Well they said, it’s the only way we can grow up.

Catatan minggu pertama saya di Australia adalah tentang upaya mengenal diri saya sendiri. Sudah ada rasa tidak betah dan ingin pulang ke Indonesia, namun beban studi selama 1,5 tahun harus tetap dijalani. Langkah pertama yang saya buat saat pertama kali mencoba aplikasi beasiswa dari Kementerian adalah sebuah komitmen yang harus dijalankan seberat apapun dan setidaknyaman apapun perasaan saya saat ini.

Am I going here for the wrong reason?

Dulu saya merasa bahwa bersekolah ke luar negeri akan meningkatkan rasa self-esteem saya terhadap diri sendiri. Dan jujur saja, alasan lain yang kuat mendorong untuk pergi dari Jakarta adalah rasa enggan dan jenuh akan berbagai macam tanggung jawab dan beban di kantor. Saya pikir, bila bukan sekarang, kapan lagi saya akan keluar dari kantor ini. Kabur dari tanggungjawab sepertinya adalah alasan yang salah untuk bersekolah karena saat ini pun ada banyak beban tugas yang menanti saya. Kemana lagi saya akan kabur? Entah apakah ini merupakan hal yang wajar dari manusia untuk selalu lari dari tanggunjawab, atau ini hanyalah persoalan saya semata? Tapi saya selalu merasa ingin berlari saat merasa tertekan. Saya ingin hidup yang santai, aman, dikelilingi oleh orang-orang terkasih. Nyatanya, untuk sampai pada tahap seperti itu diperlukan lebih banyak pengorbanan dan waktu. Yang saya lakukan saat ini adalah tetap berlari mencari rasa aman untuk diri sendiri. Kemanakah harus kucari rasa aman itu? Bila memang rasa aman itu bersumber dari diri sendiri, mengapakah sulit sekali untuk memunculkannya?

Yang coba saya pegang untuk menguatkan diri sendiri saat ini adalah perasaan yang mungkin akan muncul di masa depan apabila saya melihat ke belakang dan melihat betapa banyak serial kehidupan yang saya jalani dan banyaknya episode berwarna yang telah saya lewati. Pencapaian itu pasti akan terasa sangat manis apalagi bila saya sadar dan ingat betapa sulitnya untuk berjalan dari hari ke hari untuk mencapainya.

Semoga perasaan tidak aman, tidak betah, tidak nyaman dan kegalauan ini akan segera berlalu. Mungkin di masa depan saya akan merindukan berada di sini lagi; sebuah perasaan yang saat ini saya pikir tidak mungkin akan saya rasakan. Who knows?

*catatannisa: Hari ke-7 di Melbourne

Advertisements

3 comments

  1. Red · August 4, 2012

    *puk puk macho* *ambil gitar* *nyanyiin Welcome to Wherever You Are nya Bon Jovi*
    Cemungudh eaaaa kakaaaak…!!! :D

  2. Miiiaaa · August 2, 2012

    Pasti bisa Nisaaa ;) semangat yaaa, ditunggu cerita-cerita selanjunya dear! *peluk*

  3. Anggie · August 1, 2012

    *puk puk* kk. Pasti bisa! Semangat! Semangat! Semangat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s