[film review] Hello Strangers


Gandrungnya Anggie terhadap film-film Asia (baca: Korea, India dan Thailand) belakangan ini membuat gw terbawa arus. Sejak Bangkok Traffic Love Stories meniupkan angin segar gaya humor ala Thailand, gw dan Anggie akhirnya memutuskan untuk menonton salah satu film Thailand lain yang sedang tayang di Blitz Megaplex, Hello Strangers.

Blitz selalu menjadi pilihan terakhir buat gw nonton film di bisokop. Kenapa? Hm, mungkin karena alasan ekonomis atau bahkan karena alasan kenyamanan diri -gw selalu gak nyaman menginjakkan kaki di mall mewah macam Grand Indonesia; merasa kalau mall seperti itu hanya untuk pengunjung kelas atas:p Apalagi pengalaman pertama gw nonton di Blitz untuk film Dear John waktu itu gak terlalu OK; mulai dari kursi yang keras, subtitle yang gak bagus dan secara teknis gak menunjang kenyamanan membaca bagi mata (misalnya: saat background-nya putih, tulisannya hilang gak kelihatan), lokasi yang terlalu jauh dari tempat parkir dan berada di sisi East Wing yang jauuuh banget (klo masuk dari gerbang utama!).

Menambahkan daftar ketidaksukaan gw menonton di Blitz, menurut Anggie, masuk ke Blitz tuh membawa berjuta perasaan; mulai dari ‘perasaan terintimidasi’ yang muncul saking mall-nya mewah banget:p, imej klo Blitz sebagai tempat nongkrong anak-anak gaul, cantik, model yang ekslusif banget, layarnya yang terlalu lebar, kursi yang terlalu sempit, sepinya auditorium saking kursinya kebanyakan, pemilihan font subtitle yang gak bagus dan yang paling mengganggu (masih menurut Anggie!) adalah bahasa terjemahannya yang gak baku! (Sebagai seorang pecinta bahasa, Anggie tuh sensitif banget untuk hal yang ‘bagi-kebanyakan-orang-sepertinya-itu-cuma-hal-sepele-saja’ kayak begini:))

Well, supaya lebih adil, gw juga punya beberapa poin yang bagus yang tidak bisa gw ingkari tentang Blitz. Blitz punya banyak banget Auditorium yang muter beragam jenis film; gak cuma major film production aja yang tayang, tapi banyak film-film independen dan film asing lain (selain Hollywood) yang diputar. Jadi, untuk varian film, Blitz patut dikasih bintang 5 :)) hehe.

Competitive advantage lain yang dimiliki oleh Blitz adalah keramahan dari orang-orang yang bekerja di sana; keluar dari Auditorium aja masih di sambut senyum. Toiletnya juga bersih, wangi dan banyaak, jadi gak perlu ngantri:) Bisa sambil ngaca pula di tempat wastafel yang gak kalah panjang kayak deretan kamar WC-nya:D

Yang mejik adalah sejuta luapan emosi yang muncul di dada gw saat keluar auditorium dan berjalan di sepanjang red carpet-nya yang menurun. Saking lebarnya tuh jalan dan adanya efek lighting yang bagus, sampai-sampai gw merasa abis keluar dari perhelatan penghargaan akbar  *lebay :D Pokoknya kalau masuk udah ke Blitz, pas keluar tuh jadi berasa keren aja. wkwkw (Salut untuk tim Image Branding-nya yang oke dan ngena banget)

Gw sedikit terlambat masuk ke Auditorium 2 untuk pemutaran film Hello Strangers jam 19.00 WIB, alasannya tidak lain adalah karena jauhnya letak si Blitz. Kalau di Djakarta Theatre atau XXI EX kan tinggal jalan sedikit aja udah sampai, kalau ke Blitz GI perlu waktu lebih dan seharusnya memang diperhitungan sih. #ApaDayaBaruBisaKeluarKantorAbisMagrib

Hello Strangers bercerita tentang dua orang yang sepanjang film saling memanggil dengan nama ‘KUN’ (baca: Kamu). Dua tokoh utama di film ini gak tahu nama masing-masing dan mempertahankan untuk menjaga kemisteriusan nama mereka hingga akhir dengan alasan berbicara dengan ‘orang asing’ seringkali lebih mudah dibandingkan dengan berbicara dengan teman. Kita bisa berbicara semaunya tanpa memperhatikan perasaan orang tersebut dan jujur bersikap tanpa adanya kepura-puraan demi menyenangkan mereka. Semuanya relatif tanpa hidden agenda!

Toh semua tidak saling kenal dan pada akhirnya akan berpisah menjalani kehidupan masing-masing. Gw pernah baca kalau manusia cenderung bersikap berdasarkan kepentingan, jadi saat orang lain tidak ‘penting’ dalam menunjang pemenuhan kebutuhan/ kepentingan tersebut, maka hubungan relatif tidak terjalin. Bahasa bekennya, kecenderungan bersikap oportunis!

Tiba-tiba gw berfikir, entah adakah orang lain yang seperti gw yang kadang lebih nyaman menumpahkan perasaan terhadap orang asing dibandingkan ke teman atau keluarga? Gw merasa, seringkali gw butuh bercerita tanpa mengharapkan adanya ‘judgment’ dari orang-orang. Bercerita ke ‘orang asing’ bisa jadi salah satu solusi. *loh kok curhat? :p

Si kun-perempuan dan kun-laki-laki secara tidak sengaja bertemu dalam perjalanan wisata ke Korea. Menurut Anggie, film Thailand banyak menampilkan isu-isu sosial sebagai potret dari kondisi di sana. Korea menjadi benang merah di film ini karena orang Thailand sedang gandrung sekali dengan fenomena K-Pop; anak-anak muda Thailand berkiblat ke kultur korea, mulai dari gaya berpakaian, gaya rambut, pemakaian krim pemutih yang berlebihan bahkan ekstrimnya adalah imitasi wajah agar terlihat seperti orang Korea melalui prosedur operasi. Menurut berita yang gw baca, fenomena K-Pop sangat meresahkan pihak otoritas Thailand hingga mereka banyak melakukan pelarangan terhadap kondisi ini. Bahkan celana legging hitam produk impor dari Korea dianggap bertanggungjawab dalam peningkatan jumlah penduduk usia 10-24 tahun yang tekenal Demam Berdarah:) (sumber: Global Post)

Guyonan ala Thailand di film ini terkemas renyah, gw sendiri gak malu tertawa terbahak-bahak sepanjang film karena lelucon yang mengena. Tidak hanya unggul di komedi, film ini juga membawa kisah romantis. Pilihan musiknya ‘pandai’ membawa penonton ke suasana yang diharapkan oleh sang pembuat film. Gw suka adegan ‘berpegangan tangan dalam bayangan’ dan ‘gaya kejut-kejut’ mereka. Aktornya juga ganteng (Chantavit Dhanasevi) dan cantik (Neungtida Sophon):)

Namun demikian, Hello Strangers ternyata gak bisa menggeser posisi film Thailand nomor satu di hati Anggie, yaitu Bangkok Traffic Love Story. Alasannya? Biar Anggie saja yang jawab ^^ hehe. Berikut ringkasannya:

1. Jalan ceritanya sangat sangat standar. Dan tidak didukung dengan pernak-pernik yang oke. BTS juga standar, tapi dengan melihat kebudayaan masyarakat Metropolis Bangkok, kita jadi mendapat nilai lebih.

2. Ini yang menjengkelkan. Adegan drama dan komedinya dibuat dengan memaksa kita untuk merasakan drama dan komedinya. Seriusan deh, terasa bgt dipaksa untuk ikut hanyut dalam scene-scene-nya, beda dengan BTS, yang, yaa ampuuun..lucu banget. Dramanya juga halus menyentuh. Sampe ga sadar kita simpati sama si tokoh.

3. Jokesnya jauh lebih segar BTS. Lebih orisinil.

4. Ini yang keterlaluan. Orang Korea kok kesannya porno gitu. Kaya adegan di rumah orang tua Min Ahn.

5. Pas nonton film ini, nguap sampe tiga kali. Adegan endingnya gak habis-habis. Rada aneh kenapa si cowok harus NUNGGU SETAHUN untuk nelpon.

Satu hal yang juga gw perhatikan saat menonton film ini adalah tentang perasaan sakit yang menjalar dari mulai ujung rambut sampai kaki gw setiap kali ada kata-kata atau adegan yang sedih. Gw gak suka perasaan seperti itu, tapi gw mencandu untuk menonton film-film yang bisa kasih sensai perasaan seperti itu ke gw. Bukan gw yang disakiti di film itu, tapi tetap aja rasa sakit itu tertusuk di hati gw. Stupid! *mulai delusional dan gak bisa membedakan mana yang nyata dan fiksi :p

Menonton film Hello Strangers mengingatkan gw tentang buku Karena Kita Tidak Kenal-nya Farida Susanty. Buku itu adalah salah satu buku terbaik versi gw. Gw suka cara sang penulis meng-eksplor ilmu psikolog-nya dan dibenturkan dengan fenomena-fenomena sosial yang terjadi di masyarakat. Ini link-nya ke Tumblr Farida Susanty yang sedang membangun sebuah komunitas @writingsession yang menggugah kreatifitas ‘pengikutnya’ untuk menulis setiap hari setiap jam 9 malam. Lain kali gw akan coba bikin review tentang buku itu.

Untuk yang tertarik dengan masalah kejiwaan atau sekedar ingin terhibur dari kepenatan aktivitas sehari-hari, menonton dan membaca buku bisa menjadi pilihan.

It’s no wonder that truth is stranger than fiction. Fiction has to make sense. Mark Twain

Advertisements

4 comments

  1. Anggie-yang-itu · September 23, 2010

    Wew..kalo tau pendapat Ang ditulis ulang mentah-mentah, mestinya tadi bikin kalimat yang lebih ciamik, eh.., oke maksudnya *masih kena virus C :))* Daan..ada beberapa hal yang perlu diklarifikasi *dehem*:

    1) Layar lebar itu poin plus-nya Blitz. Di notes ini keliatannya kok malah jadi hal yang negatif. Ang bilang kalo begitu masuk auditorium Blitz, atmosfir eksklusifnya langsung berasa. I didn’t use ‘terlalu’ word anyway :P Dan sepinya itu, mungkin karena harga tiket yang mahalll. Dua kali lipatnya 21 -__-”

    2) Maksud ‘kursi sempit’ itu, saat dibandingkan dengan kursi XXI EX, yang lebih empuk dan lebar. Tapi kalo dibandingkan bioskop lain, standar lah.

    Sekian konfirmasinya.

    Nah, kembali ke topik :D
    Kita sudah berdiskusi banyak tentang film ini. Closing statement-nya cuma satu: Tetap saja, setiap film meninggalkan kesan berbeda pada tiap-tiap penontonnya. Kadarnya tidak akan sama. Mungkin kita sama-sama tertawa ketika menonton Ice Age, tapi siapa yang tahu siapa tertawa lebih keras ketika Scrat mencoba terbang ketika hendak jatuh ke jurang?

    Hidup Bangkok Traffic (Love) Story!

    • Annisa F. Wulandari · September 23, 2010

      Paopaokuuuwh… Perlu revisi tulisan gak nih? :) haha
      Lagi ngomongin film Thailand, tiba-tiba ambil analoginya kok film Ice Age? hehe Pasti saking berkesan banget yah?
      Btw, tertawa lebih keras bukan berarti paling terhibur loh. Sebagai orang pelupa seperti kk, semua film hanya akan meninggalkan efek 2×24 jam. Setelah itu, semuanya jadi sama aja:))
      *kecuali untuk Grey’s Anatomy yang memang setiap hari diputar:))
      Makasiii untuk komentarnya, tadi agak bingung menuliskan kembali komentar Ang, jadi langsung copy paste aja dengan edit-an minor. Mau merubah pendapat, silahkan di-edit aja, paopao, nanti di-re-publish^^

  2. Nengky · September 23, 2010

    this is ur blog??. nice…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s