.kisah tentang Indonesia, keong racun dan twitter.


Selalu saya bertanya kepada diri sendiri alasan di balik mengapa saya berbagi cerita atau menyampaikan sebuah cara pandang terhadap sebuah permasalahan atau isu yang sedang dibicarakan. Apakah saya mencari pembenaran atas opini yang saya sampaikan? Apakah saya mencari khalayak yang bisa mendukung pemikiran saya (hal ini didasari sebuah premis yang muncul di masyarakat –dan tidak dapat dihindari- tentang betapa ‘berkuasanya’ suara mayoritas). Sebagai konsekwensi logis dari premis tersebut, maka semakin banyak orang yang menyuarakan pendapat yang senada denganmu, maka pemikiran itulah yang (dianggap) paling benar.

Saya tergelitik menuliskan notes ini setelah membaca notes seorang sahabat yang merasa bersedih karena ternyata banyak orang yang tidak mampu menghargai perbedaan dan cara pandang yang diambilnya dalam mencintai Indonesia.

Saya senang Indonesia yang tidak pernah tidur, tidak pernah sepi dari cerita bombastis, yang selalu dikejar-kejar para wartawan, yang tidak pernah tenang, yang banyak demonstrasi. Bukan berarti saya tidak ingin Indonesia damai dan stabil, tapi perbedaan dan friksi yang terjadi di masyarakat merupakan sebuah potret nyata betapa dinamis kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Berbagai macam persoalan mudah sekali tersulut. Yang awalnya hanya bisik-bisik tetangga dapat berkembang hingga menjadi isu nasional; kasus pornografi, pelecehan seksual terhadap anggota paskibra, penculikan anak, korupsi, tabung elpiji 3 kg meledak, pemadaman listrik, kekerasan kelompok garis keras, perceraian, sengketa dengan negara tetangga sampai kisah pencarian keadilan yang dilakukan oleh seseorang hingga rela berjalan kaki ratusan kilometer dari kota Malang demi bertemu dengan presiden.

Sebut saja sebuah tema, maka semua hal akan ditemukan di halaman demi halaman surat kabar, laman elektronik, radio, televisi dan semua media massa mulai dari yang tradisional (word-of-mouth) hingga aplikasi micro-blogging/ social networking site.

Saya bersyukur bahwa perkembangan teknologi informasi mampu membawa sebuah peradaban dan budaya yang berbeda untuk orang Indonesia. Dulu Indonesia menuntut kebebasan berpendapat hingga berhasil mengkudeta seorang presiden dan menggaungkan kata-kata REFORMASI.

Sebuah perkembangan yang organik dari upaya itu sedang terjadi saat ini, yaitu sebuah evolusi kebebasan berinformasi yang efeknya dapat kita rasakan begitu cepat menyentuh hingga ke level terdasar.

Bagaimana caranya sebuah isu rumah tangga bisa menjadi isu nasional?  Jawabannya adalah karena adanya aliran informasi yang mengalir dan menghubungkan tiap individu yang tanpa disadari berada dalam 2,4,6 bahkan 10 level pertemanan yang saling terkait satu sama lain. Dalam hitungan detik, video Keong Racun bisa diakses oleh banyak manusia di penjuru Indonesia bahkan menjadi trending topic internasional. Semua disebabkan oleh alat bernama Twitter dan micro-blogging lainnya.

Melihat perkembangan itu, bukan rasa gelisah yang saya rasakan, melainkan sebuah rasa bangga dan syukur. Layaknya perkembangan manusia, negara Indonesiapun sedang berkembang menjadi ‘manusia dewasa’. Saat ini adalah saat dimana kita mulai mencari jati diri, mencoba banyak hal, jatuh, terluka, berdiri kembali dan terjatuh lagi, memaknai semua hal yang terjadi, menganalisa semua pilihan yang diambil dan menjadikan semua itu sebagai pengalaman. Saat ini Indonesia sedang begitu bersemangat untuk mencoba semua hal, layaknya seorang Ababil (baca: ABG labil bahasa trend-nya sekarang) yang begitu mudah meledak dan mengambil pilihan-pilihan yang tidak rasional (dan mungkin akan disesali di kemudian hari), sedang terlena dengan betapa besarnya aset bangsa dan sumber daya alam yang dimiliki dan begitu mudah sekali emosi dan menjadikan kekerasan sebagai cara mengatasi semua masalah.

Mungkin ini adalah hasil belajar selama 65 tahun. Mereka bilang bila anak diajarkan keekerasan, maka dia akan tumbuh dengan menjadikan kekerasan sebagai cara meraih apa yang diinginkan. Indonesiaku tumbuh dengan kekerasan, penjajahan, pengekangan berpendapat dan sikap agresif oleh pemerintah zaman dahulu, Indonesiaku tumbuh menjadi negara anarki dan memilih menggunakan kekerasan demi mendapatkan keinginannya. Ini adalah sebuah logika sederhana yang bisa saya analogikan.

Lalu apa yang perlu dilakukan?

Saya tidak akan menyampaikan apa yang dapat kamu lakukan atau saya anggap tepat untuk mereka lakukan menyikapi hal seperti ini. Saya ingin semua orang merayakan kebangkitan Indonesia, mensyukuri tumbuhnya sikap kritis yang (tidak dapat dipungkiri) dibarengi dengan sikap yang penuh dengan emosi yang muncul di tiap-tiap jiwa rakyat Indonesia yang baru 65 tahun ini merdeka. Saya ingin melihat cara-cara yang berbeda yang diambil oleh orang lain untuk menunjukkan kecintaannya kepada Indonesia.

Saya selalu merasa sebagai orang yang memiliki jiwa toleransi tinggi serta pemikiran yang terbuka. Saya tidak suka memaksakan pendapat -walau tidak dapat dipungkiri akan merasa senang sekali menemukan orang-orang lain yang memiliki pendapat serupa dengan saya. Dari hidup, saya belajar bahwa tiap-tiap manusia selalu ingin merasa benar dan didengar; cenderung mengabaikan pendapat orang lain yang berseberangan atau berbeda dengan pendapatnya dan ingin sekali mengumpulkan dukungan. Namun hal tersebut tidak lantas menjadi sebuah justifikasi pemaksaan pendapat atas orang lain

Jiwa yang merdeka dan sedang tumbuh ini juga harus mengembangkan sikap hormat dan toleran terhadap orang lain. Artinya, tidak menjadikan pendapatnya sebagai sebuah hal yang mutlak dan paling benar. Dalam bahasa yang lebih sederhana, kita tidak lantas mentertawakan orang lain yang memiliki pendapat yang berbeda, tidak kemudian marah dan mencaci maki orang lain yang 180 derajat memiliki cara pandang yang berbeda, tidak menghina dan mengucilkan suara-suara yang sumbang dan tidak menutup mulut mereka yang juga punya hak bersuara.

Saya selalu berfikir bahwa apa yang muncul di dalam otakmu adalah otoritasmu sendiri; kamu bisa berfikir seluas-luasnya, senaif-naifnya, se-normatif apapun, se-radikal apapun selama pemikiran itu berkutat di otakmu sendiri. Hasil dari kontemplasi dan self-communication ini biasanya menyimpulkan bahwa sesuatu hal/ sikap/ pendapat sebagai sebuah hal terbaik dan super benar. Namun saat kamu menyampaikan semua hal absurd yang awalnya hanya ada di kepalamu agar dapat didengar oleh sesuatu yang lebih besar darimu, maka ada sebuah sikap yang harus dijadikan sebuah pakem bertindak; sikap menghormati.

Saya menghormati kamu, maka saya mendengarkan pendapatmu dan terbebas dari perasaan terintimidasi untuk menganggap bahwa pendapatmu lebih baik dari pendapat saya atau sebaliknya. Silahkan berkata apapun semaumu, silahkan bersikap apapun seenak perutmu, namun berhentilah mendoktrinku agar memiliki pendapat yang seragam denganmu karena saya juga tidak memaksakan agar kamu bersikap afirmatif terhadap apa yang saya yakini. Itulah sikap hormat yang saya maksud.

Saat semua orang berhenti memaksakan pendapatnya, berhenti saling menunjuk dan belajar menghormati orang lain, maka saat itulah Indonesia menjadi dewasa dan sejahtera.

Dulu, saya tidak banyak berpendapat saat kasus video mesum merebak; saya menjalani pilihan saya untuk diam, tidak mengunduh, tidak membahas, tidak ikut arus trending topic, tidak mencela, tidak menghujat, tidak menghakimi, tidak bersimpati, tidak menyampaikan pendapat saya secara verbal/ tertulis. Saya diam. Diam saya adalah sebagai upaya untuk menghormati ragam sikap lainnya yang diambil orang selain saya. Diam saya adalah sebuah pilihan yang juga bisa dipilih oleh orang lain; bahwa kita tidak harus selalu tersulut arus yang ada, bahwa salah satu cara memberantas pornogafi (yang saya lakukan) adalah dengan tidak membuat orang lain tertarik mencari tahu tentang pornografi hanya karena begitu maraknya manusia yang menyebut-nyebut pornografi dan nama-nama tertentu. Saya men-stop diri dari membantu menciptakan global trending yang akan memicu lebih banyak lagi orang mengakses informasi tersebut.

Namun pernahkan kamu berfikir bahwa kata-kata dan statusmu adalah pemicu rasa ingin tahu orang lain? Saat kata-kata dan status itu termanifestasi dalam bentuk hal yang negatif, maka itu adalah pemicu bagi orang lain untuk mencari tahu hal negatif itu.

Pernahkah kamu berfikir bahwa ucapanmu tentang pornografi sebagai sebuah pemicu rasa penasaran orang lain sehingga membuat mereka terjerumus untuk menontonnya?

Memilih untuk ‘diam’, merupakan sebuah sikap. Semua dengan perhitungan pemikiran dan konsekwensi yang saya takar terbaik bagi saya (dan orang lain). Kita senang menghakimi, tetapi selalu terluka bila dihakimi. Namun kondisi tersebut tidak serta merta membuat kita berhenti menghakimi orang lain. Saat kita belum berhasil berhenti menghakimi orang lain, maka akan banyak orang lain yang dengan suka cita menghakimi diri kita.

Ideal sekali dunia utopis saya; dunia yang begitu beragam namun selalu damai dan penuh toleransi. Saya memulainya dengan lingkungan kecil di sekitar saya. Saya tidak bisa menciptakan perubahan besar, namun saya selalu berniat menjadikan Indonesia sebagai tempat yang layak ditinggali anak dan cucu saya nanti. Dan cara yang saya ambil pasti berbeda dengan cara kamu atau mereka, namun niat yang sama mungkin akan membawa kita bertemu di satu titik yang sama. Suatu saat nanti…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s