[film review] Hello Strangers


Gandrungnya Anggie terhadap film-film Asia (baca: Korea, India dan Thailand) belakangan ini membuat gw terbawa arus. Sejak Bangkok Traffic Love Stories meniupkan angin segar gaya humor ala Thailand, gw dan Anggie akhirnya memutuskan untuk menonton salah satu film Thailand lain yang sedang tayang di Blitz Megaplex, Hello Strangers.

Blitz selalu menjadi pilihan terakhir buat gw nonton film di bisokop. Kenapa? Hm, mungkin karena alasan ekonomis atau bahkan karena alasan kenyamanan diri -gw selalu gak nyaman menginjakkan kaki di mall mewah macam Grand Indonesia; merasa kalau mall seperti itu hanya untuk pengunjung kelas atas:p Apalagi pengalaman pertama gw nonton di Blitz untuk film Dear John waktu itu gak terlalu OK; mulai dari kursi yang keras, subtitle yang gak bagus dan secara teknis gak menunjang kenyamanan membaca bagi mata (misalnya: saat background-nya putih, tulisannya hilang gak kelihatan), lokasi yang terlalu jauh dari tempat parkir dan berada di sisi East Wing yang jauuuh banget (klo masuk dari gerbang utama!).

Menambahkan daftar ketidaksukaan gw menonton di Blitz, menurut Anggie, masuk ke Blitz tuh membawa berjuta perasaan; mulai dari ‘perasaan terintimidasi’ yang muncul saking mall-nya mewah banget:p, imej klo Blitz sebagai tempat nongkrong anak-anak gaul, cantik, model yang ekslusif banget, layarnya yang terlalu lebar, kursi yang terlalu sempit, sepinya auditorium saking kursinya kebanyakan, pemilihan font subtitle yang gak bagus dan yang paling mengganggu (masih menurut Anggie!) adalah bahasa terjemahannya yang gak baku! (Sebagai seorang pecinta bahasa, Anggie tuh sensitif banget untuk hal yang ‘bagi-kebanyakan-orang-sepertinya-itu-cuma-hal-sepele-saja’ kayak begini:))

Well, supaya lebih adil, gw juga punya beberapa poin yang bagus yang tidak bisa gw ingkari tentang Blitz. Blitz punya banyak banget Auditorium yang muter beragam jenis film; gak cuma major film production aja yang tayang, tapi banyak film-film independen dan film asing lain (selain Hollywood) yang diputar. Jadi, untuk varian film, Blitz patut dikasih bintang 5 :)) hehe.

Competitive advantage lain yang dimiliki oleh Blitz adalah keramahan dari orang-orang yang bekerja di sana; keluar dari Auditorium aja masih di sambut senyum. Toiletnya juga bersih, wangi dan banyaak, jadi gak perlu ngantri:) Bisa sambil ngaca pula di tempat wastafel yang gak kalah panjang kayak deretan kamar WC-nya:D

Yang mejik adalah sejuta luapan emosi yang muncul di dada gw saat keluar auditorium dan berjalan di sepanjang red carpet-nya yang menurun. Saking lebarnya tuh jalan dan adanya efek lighting yang bagus, sampai-sampai gw merasa abis keluar dari perhelatan penghargaan akbar  *lebay :D Pokoknya kalau masuk udah ke Blitz, pas keluar tuh jadi berasa keren aja. wkwkw (Salut untuk tim Image Branding-nya yang oke dan ngena banget)

Gw sedikit terlambat masuk ke Auditorium 2 untuk pemutaran film Hello Strangers jam 19.00 WIB, alasannya tidak lain adalah karena jauhnya letak si Blitz. Kalau di Djakarta Theatre atau XXI EX kan tinggal jalan sedikit aja udah sampai, kalau ke Blitz GI perlu waktu lebih dan seharusnya memang diperhitungan sih. #ApaDayaBaruBisaKeluarKantorAbisMagrib

Hello Strangers bercerita tentang dua orang yang sepanjang film saling memanggil dengan nama ‘KUN’ (baca: Kamu). Dua tokoh utama di film ini gak tahu nama masing-masing dan mempertahankan untuk menjaga kemisteriusan nama mereka hingga akhir dengan alasan berbicara dengan ‘orang asing’ seringkali lebih mudah dibandingkan dengan berbicara dengan teman. Kita bisa berbicara semaunya tanpa memperhatikan perasaan orang tersebut dan jujur bersikap tanpa adanya kepura-puraan demi menyenangkan mereka. Semuanya relatif tanpa hidden agenda!

Toh semua tidak saling kenal dan pada akhirnya akan berpisah menjalani kehidupan masing-masing. Gw pernah baca kalau manusia cenderung bersikap berdasarkan kepentingan, jadi saat orang lain tidak ‘penting’ dalam menunjang pemenuhan kebutuhan/ kepentingan tersebut, maka hubungan relatif tidak terjalin. Bahasa bekennya, kecenderungan bersikap oportunis!

Tiba-tiba gw berfikir, entah adakah orang lain yang seperti gw yang kadang lebih nyaman menumpahkan perasaan terhadap orang asing dibandingkan ke teman atau keluarga? Gw merasa, seringkali gw butuh bercerita tanpa mengharapkan adanya ‘judgment’ dari orang-orang. Bercerita ke ‘orang asing’ bisa jadi salah satu solusi. *loh kok curhat? :p

Si kun-perempuan dan kun-laki-laki secara tidak sengaja bertemu dalam perjalanan wisata ke Korea. Menurut Anggie, film Thailand banyak menampilkan isu-isu sosial sebagai potret dari kondisi di sana. Korea menjadi benang merah di film ini karena orang Thailand sedang gandrung sekali dengan fenomena K-Pop; anak-anak muda Thailand berkiblat ke kultur korea, mulai dari gaya berpakaian, gaya rambut, pemakaian krim pemutih yang berlebihan bahkan ekstrimnya adalah imitasi wajah agar terlihat seperti orang Korea melalui prosedur operasi. Menurut berita yang gw baca, fenomena K-Pop sangat meresahkan pihak otoritas Thailand hingga mereka banyak melakukan pelarangan terhadap kondisi ini. Bahkan celana legging hitam produk impor dari Korea dianggap bertanggungjawab dalam peningkatan jumlah penduduk usia 10-24 tahun yang tekenal Demam Berdarah:) (sumber: Global Post)

Guyonan ala Thailand di film ini terkemas renyah, gw sendiri gak malu tertawa terbahak-bahak sepanjang film karena lelucon yang mengena. Tidak hanya unggul di komedi, film ini juga membawa kisah romantis. Pilihan musiknya ‘pandai’ membawa penonton ke suasana yang diharapkan oleh sang pembuat film. Gw suka adegan ‘berpegangan tangan dalam bayangan’ dan ‘gaya kejut-kejut’ mereka. Aktornya juga ganteng (Chantavit Dhanasevi) dan cantik (Neungtida Sophon):)

Namun demikian, Hello Strangers ternyata gak bisa menggeser posisi film Thailand nomor satu di hati Anggie, yaitu Bangkok Traffic Love Story. Alasannya? Biar Anggie saja yang jawab ^^ hehe. Berikut ringkasannya:

1. Jalan ceritanya sangat sangat standar. Dan tidak didukung dengan pernak-pernik yang oke. BTS juga standar, tapi dengan melihat kebudayaan masyarakat Metropolis Bangkok, kita jadi mendapat nilai lebih.

2. Ini yang menjengkelkan. Adegan drama dan komedinya dibuat dengan memaksa kita untuk merasakan drama dan komedinya. Seriusan deh, terasa bgt dipaksa untuk ikut hanyut dalam scene-scene-nya, beda dengan BTS, yang, yaa ampuuun..lucu banget. Dramanya juga halus menyentuh. Sampe ga sadar kita simpati sama si tokoh.

3. Jokesnya jauh lebih segar BTS. Lebih orisinil.

4. Ini yang keterlaluan. Orang Korea kok kesannya porno gitu. Kaya adegan di rumah orang tua Min Ahn.

5. Pas nonton film ini, nguap sampe tiga kali. Adegan endingnya gak habis-habis. Rada aneh kenapa si cowok harus NUNGGU SETAHUN untuk nelpon.

Satu hal yang juga gw perhatikan saat menonton film ini adalah tentang perasaan sakit yang menjalar dari mulai ujung rambut sampai kaki gw setiap kali ada kata-kata atau adegan yang sedih. Gw gak suka perasaan seperti itu, tapi gw mencandu untuk menonton film-film yang bisa kasih sensai perasaan seperti itu ke gw. Bukan gw yang disakiti di film itu, tapi tetap aja rasa sakit itu tertusuk di hati gw. Stupid! *mulai delusional dan gak bisa membedakan mana yang nyata dan fiksi :p

Menonton film Hello Strangers mengingatkan gw tentang buku Karena Kita Tidak Kenal-nya Farida Susanty. Buku itu adalah salah satu buku terbaik versi gw. Gw suka cara sang penulis meng-eksplor ilmu psikolog-nya dan dibenturkan dengan fenomena-fenomena sosial yang terjadi di masyarakat. Ini link-nya ke Tumblr Farida Susanty yang sedang membangun sebuah komunitas @writingsession yang menggugah kreatifitas ‘pengikutnya’ untuk menulis setiap hari setiap jam 9 malam. Lain kali gw akan coba bikin review tentang buku itu.

Untuk yang tertarik dengan masalah kejiwaan atau sekedar ingin terhibur dari kepenatan aktivitas sehari-hari, menonton dan membaca buku bisa menjadi pilihan.

It’s no wonder that truth is stranger than fiction. Fiction has to make sense. Mark Twain

The-most-anticipated September 23rd!!


Yaaayyy… It’s September 23rd here in Indonesia, I’ve been longing for this date for a while. Wondering when I’ll finally be able to see my favorite doctors of Grey’s Anatomy (again!). Here’s the collages of some cast promo pics^^

MerDer | Calzona | Crowen

These couples are definitely MFEO!!

Richard | Mark | Jackson | Miranda | Alex | Lexie | April | Teddy

Grey’s Anatomy Season 7 welcomes the new regular casts; Dr. April Kepner (Sarah Drew) and Dr. Jackson Avery (Jesse Williams)^^ Well, to be honest I hate April (and Teddy); more regular casts means less time for my favorite couples to be on the screen :(

whatta fancy dresses, Doctors!!

.dear my #ex… [a dedicated tweets]


.the stages of love.

  • Pispot always reminds me of my ex; how he took care of me and my pispot when I stayed in the hospital. He surely have a place in my heart #ex
  • He was the first person other than my family who showed great attention that he never hesitate taking care of my pispot. #ex
  • The worst and gross (yet sweet) thing was that I was having my period by that time and I can move nowhere, so I have to use the pispot. #ex
  • I love how he held my hand when I was asleep. He sat in the chair next to my bed and spent the night at the hospital. #ex
  • He’s the reason I believe there are good man out there who’ll show me what true love means. He opened my heart to the new definition of love. #ex
  • I could never find a single reason to hate him; well, the only reason is because he let me go. I am worth-keeping, but he let me go anyway. #ex
  • He was a friend, he was a lover and now he’s gone away. I never understand the reason why we separate, it doesn’t make any sense to me. #ex
  • We were laughing and sharing for hours, we don’t keep secret. I was too blind to see what’s wrong with the relationship. #ex
  • 6 years of being his friend and loving him secretly was memorable. When we finally an item, it was the most amazing thing happened to me. #ex
  • I have always wanted to have a simple man, the one who’ll take care of me; my dignity. The one who’ll guide me through the right path. #ex
  • He was ‘that’ man. He was the right ‘imam’, we only held hands and walked together and talked and talked to spend time. #ex
  • The only wrong thing was that he doesn’t want to keep me waiting until he’s ready to tie the knot. He said he still need to prove many things. #ex
  • I said I was not asking him to marry me. I was asking him for a chance to embrace his love, to feel this amazing love. #ex
  • I was asking for the reason why we should end things up. He said he cant stay in Jakarta, he said I deserve someone better than him. #ex
  • He said he can’t give any certainty to the future of our relationship, maybe he  freaked out with the commitment and unsure of himself. #ex
  • I was fragile & unsecured, I’m looking for someone to hold on to, to get me out of my dark & twisted mind. Looking for a soul to settle myself down #ex
  • He’s not perfect, but all this time, I am the one who thinks that I’m not cut off to be his (future) wife. I am the one who doesn’t deserve him. #ex
  • In fact, we don’t deserve each other! The day we broke up, I ran away, cried like a baby, questioned myself why I cant keep a good soul like him #ex
  • I keep blaming myself for not being good enough for him. It’s always easier to blame other people, but not in this case. #ex
  • He said, if I need more explanation, he’ll explain it all over again. He wanted me to take care of myself, to stop blaming myself. #ex
  • He’s leaving Jakarta. He always said he wanted to contribute to his village, stayed there, took care of his mom&sister. Jakarta never fits him. #ex
  • I wish him a sincere prayer; we simply are not meant for each other. Nothing is wrong, it’s just the world conspired to separate us. #ex
  • God has better plan for me & him. I can’t figure it out (yet), but I remind myself that His promises are real. I just have to keep the faith. #ex
  • It’s not that I’m not moving on. Now I am waiting for someone else to happily-ever-after spend my life with, but I’m afraid I’m waiting in the wrong place. #ex
  • Farewell, my love. Your love taught me in a way I can’t describe. You passed my life for a reason. The reason is yet to be understood. #ex

Grey’s Anatomy Premier’s Photo ^^


Here’s the collages of some premier’s photo of the upcoming Grey’s Anatomy Season 7. I hope y’all enjoy it as much as I do. Dont you think Cristina and Owen look cute together? I love the smile on Meredith face and the awesome dimples of Dr. Arizona Robbins^^

Dr. Christina Yang and Dr. Owen Hunt finally tie the knot ^^

Callie Arizona | Christina Owen | Meredith Mark

Here are my favorite Sara Ramirez and Jessica Capshaw… xoxo

Yaaayy..It's Callie and Arizona ^^

[Source: Seriously Grey Lovers]

I am counting down the days… It’s 8 days to go to the Season 7 Premiere of Grey’s Anatomy^^

PS. I randomly remember Sara Ramirez sang Silent Night in Holidaze episode. Her voice is effing amazing:p

Here’s the link to the song if you wish to download it…

Grey’s Anatomy Official Season 7 Poster


Yaaayyy.. finally the posters are out to be voted now^^

I wish I could have the posters, I’ll definitely put them in my room so I’ll feel much closer to the awesome Doctors of Grey’s Anatomy…

Grey's Anatomy Official Season 7 Posters

‘Grey’s Anatomy’ First Look: Check out the official season 7 poster(s)! (via The Ausiello Files)


I LOVE GREY’S ANATOMY!! Cant hardly wait for September 23rd for its 7th season premiere ^^

[tiImage url="http://img2.timeinc.net/ew/dynamic/imgs/100907/Greys-Anatomy-5_510.jpg" credit="" align="left"]You're looking at the official poster for Grey's Anatomy's upcoming seventh season. Maybe. In a shrewd marketing gimmick, ABC is letting fans select the picture from a field of six possible images—all of which are featured here. [tiImage url="http://img2.timeinc.net/ew/dynamic/imgs/100907/Greys-Anatomy_510.jpg" credit="" align="left"] [tiI … Read More

via The Ausiello Files

.kisah tentang Indonesia, keong racun dan twitter.


Selalu saya bertanya kepada diri sendiri alasan di balik mengapa saya berbagi cerita atau menyampaikan sebuah cara pandang terhadap sebuah permasalahan atau isu yang sedang dibicarakan. Apakah saya mencari pembenaran atas opini yang saya sampaikan? Apakah saya mencari khalayak yang bisa mendukung pemikiran saya (hal ini didasari sebuah premis yang muncul di masyarakat –dan tidak dapat dihindari- tentang betapa ‘berkuasanya’ suara mayoritas). Sebagai konsekwensi logis dari premis tersebut, maka semakin banyak orang yang menyuarakan pendapat yang senada denganmu, maka pemikiran itulah yang (dianggap) paling benar.

Saya tergelitik menuliskan notes ini setelah membaca notes seorang sahabat yang merasa bersedih karena ternyata banyak orang yang tidak mampu menghargai perbedaan dan cara pandang yang diambilnya dalam mencintai Indonesia.

Saya senang Indonesia yang tidak pernah tidur, tidak pernah sepi dari cerita bombastis, yang selalu dikejar-kejar para wartawan, yang tidak pernah tenang, yang banyak demonstrasi. Bukan berarti saya tidak ingin Indonesia damai dan stabil, tapi perbedaan dan friksi yang terjadi di masyarakat merupakan sebuah potret nyata betapa dinamis kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Berbagai macam persoalan mudah sekali tersulut. Yang awalnya hanya bisik-bisik tetangga dapat berkembang hingga menjadi isu nasional; kasus pornografi, pelecehan seksual terhadap anggota paskibra, penculikan anak, korupsi, tabung elpiji 3 kg meledak, pemadaman listrik, kekerasan kelompok garis keras, perceraian, sengketa dengan negara tetangga sampai kisah pencarian keadilan yang dilakukan oleh seseorang hingga rela berjalan kaki ratusan kilometer dari kota Malang demi bertemu dengan presiden.

Sebut saja sebuah tema, maka semua hal akan ditemukan di halaman demi halaman surat kabar, laman elektronik, radio, televisi dan semua media massa mulai dari yang tradisional (word-of-mouth) hingga aplikasi micro-blogging/ social networking site.

Saya bersyukur bahwa perkembangan teknologi informasi mampu membawa sebuah peradaban dan budaya yang berbeda untuk orang Indonesia. Dulu Indonesia menuntut kebebasan berpendapat hingga berhasil mengkudeta seorang presiden dan menggaungkan kata-kata REFORMASI.

Sebuah perkembangan yang organik dari upaya itu sedang terjadi saat ini, yaitu sebuah evolusi kebebasan berinformasi yang efeknya dapat kita rasakan begitu cepat menyentuh hingga ke level terdasar.

Bagaimana caranya sebuah isu rumah tangga bisa menjadi isu nasional?  Jawabannya adalah karena adanya aliran informasi yang mengalir dan menghubungkan tiap individu yang tanpa disadari berada dalam 2,4,6 bahkan 10 level pertemanan yang saling terkait satu sama lain. Dalam hitungan detik, video Keong Racun bisa diakses oleh banyak manusia di penjuru Indonesia bahkan menjadi trending topic internasional. Semua disebabkan oleh alat bernama Twitter dan micro-blogging lainnya.

Melihat perkembangan itu, bukan rasa gelisah yang saya rasakan, melainkan sebuah rasa bangga dan syukur. Layaknya perkembangan manusia, negara Indonesiapun sedang berkembang menjadi ‘manusia dewasa’. Saat ini adalah saat dimana kita mulai mencari jati diri, mencoba banyak hal, jatuh, terluka, berdiri kembali dan terjatuh lagi, memaknai semua hal yang terjadi, menganalisa semua pilihan yang diambil dan menjadikan semua itu sebagai pengalaman. Saat ini Indonesia sedang begitu bersemangat untuk mencoba semua hal, layaknya seorang Ababil (baca: ABG labil bahasa trend-nya sekarang) yang begitu mudah meledak dan mengambil pilihan-pilihan yang tidak rasional (dan mungkin akan disesali di kemudian hari), sedang terlena dengan betapa besarnya aset bangsa dan sumber daya alam yang dimiliki dan begitu mudah sekali emosi dan menjadikan kekerasan sebagai cara mengatasi semua masalah.

Mungkin ini adalah hasil belajar selama 65 tahun. Mereka bilang bila anak diajarkan keekerasan, maka dia akan tumbuh dengan menjadikan kekerasan sebagai cara meraih apa yang diinginkan. Indonesiaku tumbuh dengan kekerasan, penjajahan, pengekangan berpendapat dan sikap agresif oleh pemerintah zaman dahulu, Indonesiaku tumbuh menjadi negara anarki dan memilih menggunakan kekerasan demi mendapatkan keinginannya. Ini adalah sebuah logika sederhana yang bisa saya analogikan.

Lalu apa yang perlu dilakukan?

Saya tidak akan menyampaikan apa yang dapat kamu lakukan atau saya anggap tepat untuk mereka lakukan menyikapi hal seperti ini. Saya ingin semua orang merayakan kebangkitan Indonesia, mensyukuri tumbuhnya sikap kritis yang (tidak dapat dipungkiri) dibarengi dengan sikap yang penuh dengan emosi yang muncul di tiap-tiap jiwa rakyat Indonesia yang baru 65 tahun ini merdeka. Saya ingin melihat cara-cara yang berbeda yang diambil oleh orang lain untuk menunjukkan kecintaannya kepada Indonesia.

Saya selalu merasa sebagai orang yang memiliki jiwa toleransi tinggi serta pemikiran yang terbuka. Saya tidak suka memaksakan pendapat -walau tidak dapat dipungkiri akan merasa senang sekali menemukan orang-orang lain yang memiliki pendapat serupa dengan saya. Dari hidup, saya belajar bahwa tiap-tiap manusia selalu ingin merasa benar dan didengar; cenderung mengabaikan pendapat orang lain yang berseberangan atau berbeda dengan pendapatnya dan ingin sekali mengumpulkan dukungan. Namun hal tersebut tidak lantas menjadi sebuah justifikasi pemaksaan pendapat atas orang lain

Jiwa yang merdeka dan sedang tumbuh ini juga harus mengembangkan sikap hormat dan toleran terhadap orang lain. Artinya, tidak menjadikan pendapatnya sebagai sebuah hal yang mutlak dan paling benar. Dalam bahasa yang lebih sederhana, kita tidak lantas mentertawakan orang lain yang memiliki pendapat yang berbeda, tidak kemudian marah dan mencaci maki orang lain yang 180 derajat memiliki cara pandang yang berbeda, tidak menghina dan mengucilkan suara-suara yang sumbang dan tidak menutup mulut mereka yang juga punya hak bersuara.

Saya selalu berfikir bahwa apa yang muncul di dalam otakmu adalah otoritasmu sendiri; kamu bisa berfikir seluas-luasnya, senaif-naifnya, se-normatif apapun, se-radikal apapun selama pemikiran itu berkutat di otakmu sendiri. Hasil dari kontemplasi dan self-communication ini biasanya menyimpulkan bahwa sesuatu hal/ sikap/ pendapat sebagai sebuah hal terbaik dan super benar. Namun saat kamu menyampaikan semua hal absurd yang awalnya hanya ada di kepalamu agar dapat didengar oleh sesuatu yang lebih besar darimu, maka ada sebuah sikap yang harus dijadikan sebuah pakem bertindak; sikap menghormati.

Saya menghormati kamu, maka saya mendengarkan pendapatmu dan terbebas dari perasaan terintimidasi untuk menganggap bahwa pendapatmu lebih baik dari pendapat saya atau sebaliknya. Silahkan berkata apapun semaumu, silahkan bersikap apapun seenak perutmu, namun berhentilah mendoktrinku agar memiliki pendapat yang seragam denganmu karena saya juga tidak memaksakan agar kamu bersikap afirmatif terhadap apa yang saya yakini. Itulah sikap hormat yang saya maksud.

Saat semua orang berhenti memaksakan pendapatnya, berhenti saling menunjuk dan belajar menghormati orang lain, maka saat itulah Indonesia menjadi dewasa dan sejahtera.

Dulu, saya tidak banyak berpendapat saat kasus video mesum merebak; saya menjalani pilihan saya untuk diam, tidak mengunduh, tidak membahas, tidak ikut arus trending topic, tidak mencela, tidak menghujat, tidak menghakimi, tidak bersimpati, tidak menyampaikan pendapat saya secara verbal/ tertulis. Saya diam. Diam saya adalah sebagai upaya untuk menghormati ragam sikap lainnya yang diambil orang selain saya. Diam saya adalah sebuah pilihan yang juga bisa dipilih oleh orang lain; bahwa kita tidak harus selalu tersulut arus yang ada, bahwa salah satu cara memberantas pornogafi (yang saya lakukan) adalah dengan tidak membuat orang lain tertarik mencari tahu tentang pornografi hanya karena begitu maraknya manusia yang menyebut-nyebut pornografi dan nama-nama tertentu. Saya men-stop diri dari membantu menciptakan global trending yang akan memicu lebih banyak lagi orang mengakses informasi tersebut.

Namun pernahkan kamu berfikir bahwa kata-kata dan statusmu adalah pemicu rasa ingin tahu orang lain? Saat kata-kata dan status itu termanifestasi dalam bentuk hal yang negatif, maka itu adalah pemicu bagi orang lain untuk mencari tahu hal negatif itu.

Pernahkah kamu berfikir bahwa ucapanmu tentang pornografi sebagai sebuah pemicu rasa penasaran orang lain sehingga membuat mereka terjerumus untuk menontonnya?

Memilih untuk ‘diam’, merupakan sebuah sikap. Semua dengan perhitungan pemikiran dan konsekwensi yang saya takar terbaik bagi saya (dan orang lain). Kita senang menghakimi, tetapi selalu terluka bila dihakimi. Namun kondisi tersebut tidak serta merta membuat kita berhenti menghakimi orang lain. Saat kita belum berhasil berhenti menghakimi orang lain, maka akan banyak orang lain yang dengan suka cita menghakimi diri kita.

Ideal sekali dunia utopis saya; dunia yang begitu beragam namun selalu damai dan penuh toleransi. Saya memulainya dengan lingkungan kecil di sekitar saya. Saya tidak bisa menciptakan perubahan besar, namun saya selalu berniat menjadikan Indonesia sebagai tempat yang layak ditinggali anak dan cucu saya nanti. Dan cara yang saya ambil pasti berbeda dengan cara kamu atau mereka, namun niat yang sama mungkin akan membawa kita bertemu di satu titik yang sama. Suatu saat nanti…