.(I guess) I need a shrink.


Hanya layar putih saja yang terhampar di laptopku, ada gundah yang ingin diceritakan, ada kisah yang ingin dibagikan, namun entah apa yang menahan diriku dari menuliskannya. Matahari di hari Minggu ini sepertinya bersinar malu-malu. Awan mengajaknya bermain hingga dia lupa menyinarkan energi untuk manusia di bumi. Bukan salahnya juga sih, mungkin untuk sejenak saja Matahari ingin berlibur dari tugasnya. It’s SUNDAY… The day for sun to take a day off for a little while :D

Thesis?

Jangan ditanya! Setelah dua minggu lalu bertemu pembimbing yang mengacak-acak proposal saya, semua semangat untuk segera lulus seperti menguap. Hilang ditelan waktu yang terus berputar.

Kerjaan kantor?

Well, minggu lalu akhirnya saya berhasil menginjakkan kaki di Kalimantan. 24 jam mungkin bukan waktu yang cukup untuk menjelajah pulau Borneo, namun cukup memberikan pemahaman bahwa listrik sering sekali mati di sana dan menambah sedikit pengetahuan bahwa nama Bandara di Pontianak adalah Supadio.

Selama bulan Ramadhan, waktu kerja yang disampaikan di dalam Edaran Sekjend Kemendag sesuai dengan Edaran Gubernur DKI Jakarta, yaitu pukul 08.00 WIB – 15.00 WIB, namun bagi sebagian dari kami, ada sebuah footnote tak kasat mata di bawah surat edaran tersebut bahwa waktu kerja harus menyesuaikan atasan. Si bos pulang jam 7 atau jam 8, ya harus ngikutin. Tapi Alhamdulillah, si bos toleran sekali di bulan ini, beberapa kali saya mendapat izin untuk pulang jam 17.00 WIB.

Pacar?

Sudah 18 bulan dan 2 hari menjomblo.

Kenapa bisa sedemikian lama sendiri?

Well, bukan karena tidak bisa melupakan yang terakhir, tapi memang beberapa orang yang disukai sepertinya lebih menyukai diri mereka tidak bersama saya:D haha. Maka, Ramadhan kali ini (lagi-lagi!) harus sendiri tanpa pasangan. (Well, gak terlalu mengenaskan sih melihat track record 25 tahun hidup saya dan hanya 2 tahun diantaranya memiliki status ‘in relationship’ yang dihabiskan dengan kegiatan telepon/menelepon di kala Sahur dan buka puasa bersama di atas gedung pencakar langit).

Iri dengan yang sudah punya pasangan?

Errr…sejujurnya, gak juga sih. Mungkin Tuhan belum mempercayakan saya untuk berada dalam sebuah hubungan karena saya belum cakap untuk memilikinya.

Terlalu takut jatuh cinta lagi kah?

Hm…mungkin. Soalnya selama ini saya terlalu mudah jatuh cinta dan sebaliknya orang lain begitu sulit jatuh cinta terhadap saya.

Ada kisah cinta baru?

Tidak untuk saat ini. Setelah #HSJ dan #Boi berlalu, sepertinya saya perlu berhenti sejenak untuk mengevaluasi diri sendiri. Seperti kepompong yang akhirnya bermetamorfosis menjadi kupu-kupu cantik. Mungkin saya harus berdiam diri sejenak. Menaruh hati pada seseorang punya konsekuensi gak sedikit dan semakin saya mengekspos hati saya, semakin rapuh saja hati ini. Tapi belakangan ini ada seseorang dari masa lalu yang mencoba berteman kembali. Seseorang yang tidak pernah berani saya temui karena di dalam badan yang begitu besar ini terdapat hati yang sangat kerdil. Saya ingin sekali menangis tiap kali menyadari bahwa saya terlalu pengecut untuk jatuh cinta dan membuka diri untuk orang lain. Layaknya dalam sebuah permainan, saya adalah pemain yang ingin tetap berada di dalamnya dengan konsisten bertaruh dalam jumlah yang sedikit namun terus mengharapkan mendapatkan jackpot dan kemenangan besar.

Ceritakan lagi tentang dia…

Well, seseorang dari masa lalu ini adalah orang yang konsisten berhubungan melalui telepon dan sms saat saya masih kuliah dulu. Entah apa nama untuk hubungan jenis ini? Setiap kali dia ngajak ketemuan, pasti saya selalu punya alasan untuk menghindar. Selama satu tahun hubungan ini terus kami jalani. Pada akhirnya semua selesai juga karena hubungan kami jalan di tempat dan tidak mengarah ke manapun. Bibirnya terlalu manis, kata-katanya begitu membuai dan saya terlalu takut bahwa semua itu palsu. Maka saya memutuskan untuk menjauh dan dia pun mungkin merasa sudah tidak mampu lagi menemukan alasan untuk menggerakan saya agar mau bertemu muka dengannya. Dia tidak pernah paham bahwa saya terlalu takut berkomitmen dan percaya padanya. Dia tidak cukup sabar untuk menunggu saya membuka diri ini lebih lagi kepadanya. Berakhirlah kisah cinta yang tak pernah benar-benar dimulai ini. Seriously, I have some issues in here. I think I need to see a shrink!! McTreemy or Jack ‘mental’ Gallagher would be lovely;D

Well, you are talking to me now. You don’t need McTreemy or Jack to solve your problem. I’m here for you… Just talk to me… Share your burden….

Belakangan setelah hubungan ‘jelas-jelas-tak-jelas’ ini kandas, sang pria masih sering menghubungi dan bercerita. Saya punya alasan untuk tidak pernah setuju bertemu langsung dengan dia. Well, sejujurnya satu-satunya alasan adalah karena saya tidak percaya diri dan merasa diri saya begitu gendut dan jelek sehingga mungkin dia tidak akan menghubungi saya lagi setelah akhirnya bertemu muka. See, I really think I need to speak to someone about this!!

Yea..keep going… Kenapa kamu merasa jelek?

Saya memang jelek. Saya tidak pernah mampu menarik lawan jenis saya untuk mendekat atau mengajak saya pacaran. Dari zaman SD, SMP, SMA bahkan kuliah tidak ada yang mendekati saya, jadi saya menyimpulkan bahwa diri saya tidak cukup cantik untuk membuat mereka datang mendekat atau mengerubungi saya. Saya jelek!! Saya kadang benci diri saya. Saya benci bapak ibu saya, saya benci semua hal tentang saya dan semua hal menjadikan diri saya sebagai saya yang berwajah jelek ini. Kalau saya menonton kisah ‘total make–over’ di TV, kadang saya membayangkan bagaimana kalau saya adalah orang yang menjalani gastrectomy, operasi wajah dan sedot lemak. Mungkin kalau berat badan saya 55 kg dengan tinggi saya yang hanya 158 cm ini saya akan merasa lebih cantik. Mungkin akan ada seseorang yang mendekati saya. Mungkin…

Ceritakan lagi tentang pria itu…

Saya tidak pernah paham, tapi seperti ada sesuatu yang menahan diri saya untuk mendekat padanya. Seperti ada sesuatu yang mengingatkan bahwa dia bukan yang terbaik untuk saya. Bahwa dia bukanlah orang yang selama ini saya tunggu. Saya menahan diri untuk tidak lebih jauh terlibat dengan dia, terus menolak untuk bertemu karena saya sadar bila kami bertemu, hubungan ini akan semakin menjadi nyata. Semakin nyata hubungan ini, semakin sulit terlepas. Belakangan saya sadar bahwa itu bukan hanya sekedar insting yang salah.

Ada kejadian apa yang membawa kamu pada kesimpulan itu?

Suatu hari –setelah kami putus dan lama tak berhubungan, dia mengirimkan sebuah pesan. Pesannya terdengar sangat depresi. Campuran kekecewaan, kesedihan dan ketakutan. Dia terus bilang bahwa dia gak akan sanggup untuk bertanggung jawab, bahwa semua ini hanya permainan perempuan itu yang menggodanya hingga akhirnya mereka melakukannya di kosan sang wanita, bahwa walau perempuan itu tidak hamil tapi dia dipaksa bertanggungjawab, bahwa dia gak sanggup menceritakan semua ini kepada orang tuanya dan melemparkan semua keluh kesahnya ke saya. Dammit! I wasn’t ready to hear this kind of story.

Apa reaksimu saat itu?

Well, saya kaget sekaligus lega karena akhirnya menemukan alasan di balik sikap curiga terhadapnya; sebuah insting yang selalu saya pertanyakan kebenarannya. Dan saya begitu berterimakasih kepada Tuhan karena Dia menjaga saya dari mengenal pria ini lebih jauh. I see the big picture now!! Saya tanya berapa kali mereka melakukannya. Saya ingin melihat kebenaran yang tersembunyi.

Apa jawabnya?

Dia bilang mereka melakukannya beberapa kali, di rumahnya dan di kosan sang perempuan.

Lalu apa yang kamu lakukan?

Saya bilang bahwa dia harus bertanggungjawab untuk semua hal yang dia lakukan. Bahwa saya merasa mereka berdua melakukannya atas dasar suka sama suka dan tidak ada seorangpun yang dipaksa melakukan hubungan itu. Bahwa dia berbohong dan mencoba membela diri atas kesalahan yang dia lakukan. Bahwa dia adalah seorang pengecut kalau dia sampai lari dari tanggung jawabnya.

Apa yang dia katakan?

Dia bilang kalau dia tidak siap untuk menikah muda, dia ingin meniti karir lebih baik, ingin menjadi laki-laki yang sukses dan bahwa dia tidak menyukai perempuan itu. Ah,, bulshit!! Kata-katanya dulu begitu manis dan saya selalu terbuai, namun saya ragu untuk benar-benar jatuh ke dalamnya. Untung saya tidak pernah benar-benar percaya padanya. Tuhan sayang saya…

Hal itu yang kemudian membuatmu takut jatuh cinta?

Well, aku gak tahu kalau itu membuatku takut jatuh cinta, tapi kejadian itu membawa premis baru dalam hidupku; bahwa pria romantis yang selalu berkata-kata manis tidak bisa dipercaya. Bahwa saya harus lebih hati-hati terhadap orang lain. Bahwa mereka yang berwajah manis mungkin menyembunyikan wajah setan. Mungkinkah itu awal dari trust issue yang saya miliki?

Mungkin saja. Saya belum bisa menyimpulkan dari satu kisah yang kamu ceritakan itu. Bisa saja itu adalah akumulasi dari beberapa kejadian di masa lalumu. Tidak harus selalu berhubungan dengan pria, bisa saja kejadian dengan orang tua atau teman. Namun kejadian dengan pria itu sepertinya men-trigger sebuah pemikiran yang membawamu ke dalam situasi saat ini. Pria itukah yang datang lagi dalam hidupmu sekarang?

Setelah cerita terakhir darinya, dia sama sekali tidak pernah menghubungi saya. Mungkin dia malu atau mungkin dia menyesal telah menceritakannya kepada saya. Dia seperti hilang ditelan bumi. Belakangan saya temui di situs jejaring sosial bahwa dia sudah berhubungan dengan seseorang. Entah pasangannya itu adalah perempuan yang dia ceritakan dulu atau bukan. Saya tidak terlalu peduli. Yang penting saya sudah tidak mau berhubungan lagi dengannya. Namun anehnya, beberapa hari belakangan dia seperti ingin memulai cerita lagi dengan saya. Dia menanyakan nomor telepon saya dan mulai mengirimkan sms. Singkat, namun intens. Setelah saya tanyakan, dia bilang dia sudah tidak lagi berhubungan dengan wanita yang saya lihat di situs jejaring itu.

Menurutmu kenapa dia menghubungimu lagi?

Well, saya juga bingung, makanya saya sempat menanyakan hal itu ke beberapa teman. Jawaban mereka beragam, ada yang bilang kalau dia mungkin hanya ingin menjalin silaturahmi, ada yang berpendapat bahwa dia hanya ingin menunjukkan bahwa dia sudah move-on, namun saya masih menjadi orang yang penting untuk dia dan ada yang lebih ekstrim mengatakan bahwa dia adalah orang yang brengsek. Tampaknya saya harus setuju dengan pendapat terakhir. He was an a** and he STILL IS. At least, I still think he is.

Kenapa kamu membalas smsnya kalau memang kamu masih kecewa dan tidak menyukainya?

Saya seperti memiliki rasa penasaran untuk bertemu dia. Saya pikir saya sudah berubah. Bahwa bertahun-tahun sudah berlalu dari pertama kali saya mendapatkan telepon nyasar itu dan sekarang saya akhirnya berani untuk muncul di hadapannya. Saya pikir membalas smsnya adalah sebuah cara untuk mengukur seberapa jauh saya berkembang menjadi seseorang yang lebih dewasa dan berani menghadapi seseorang yang selama ini saya hindari. The reason is purely about me. I consider him as a test I must take to eventually leap. I consider him as the dark side I must conquer. Dan saat ini, saya sepertinya meragukan kesiapan saya untuk bertemu. Apakah saya mengalami kemunduran lagi?

Kenapa kamu harus selalu berlari?

Karena hanya itu yang bisa saya lakukan. Running is the best thing I can do. Menghindari kenyataan sepertinya adalah jalan terbaik untuk bertahan hidup. Saya ingin hidup di dunia khayal; sebuah dunia utopis dimana semua orang baik, tidak ada pengkhianatan, tidak ada orang jahat, tidak ada kebohongan, tidak ada kepura-puraan. Saya ingin hidup di sebuah dunia dimana saya bisa meletakan hati saya tanpa rasa takut terluka atau tersakiti. Saya sedang bermasalah kan? Saya sakit kan? Saya butuh psikolog kan? Atau psikiater?

Mengakui bahwa kamu bermasalah adalah satu langkah besar untuk sembuh. Dan kamu baru saja melakukannya. Teruslah menulis, semua jawaban akan kamu temukan. Menulis membuatmu menggali perasaan yang selama ini coba kamu tutupi. Menulis membuatmu sadar bahwa kamu bermasalah dan kamu berusaha keluar dari masalah itu. Carilah orang-orang yang bisa kamu percaya. Mulailah membuka diri, menyampaikan perasaan suka/ tidak suka, beranilah menolak dan berkata ‘Tidak’. Sampaikanlah ketertarikanmu kepada orang-orang yang kamu suka. Pergilah dari kerumunan orang-orang yang tidak membawa manfaat dan hanya menyakitimu. Hiduplah!! Hidupmu hanya saat ini… Mulailah bersyukur…

Terimakasih..saya merasa ada beban yang terangkat. Saya mungkin tidak menemukan solusi apapun, namun menceritakan ini adalah hal yang besar bagi saya.

Apa yang akan kamu lakukan sekarang?

Entahlah, mungkin menonton Grey’s Anatomy. Saya suka serial itu. Saya senang menjadi bagian dari sesuatu yang hebat seperti Grey’s Anatomy. Sudah cukup drama dalam hidup saya, sudah cukup cerita tentang saya. Kali ini saya hanya ingin menjadi penonton.

Advertisements

3 comments

  1. imyoonique · April 22, 2011

    Mbak Annisa, saya suka sekali dengan post Mbak Annisa ini… Semacam mengalami hal serupa, tapi bedanya Mbak bisa menumpahkan segala rasanya dengan kata-kata yang cantik… Mbak, boleh saya kutip ya sebagian kalimatnya… Untuk jadi penyemangat buat saya… Terima kasih…

    Regards,
    Your Admirer

  2. Pengagum Blak-Blakanmu · August 15, 2010

    Hmm…
    Setubuh…. Pria romantis like devil in angel ;)
    Kl dia pengen ketemu, hadapi saja.
    Liat saja, apa yg akan dia katakan saat bertemu.
    Kl dia mulai petingkah, smash aja..
    Kan kamu sudah tahu kartunya..
    Dia menghubungi kamu lagi karena dia nyesel aja,
    Kenapa dia memilih succubus daripada aphodite :P
    (lagian tuh orang, udah tau dijebak kok berkali2? itu mah doyaaannn… ;)
    Kamu pasti akan bertemu Mr. Right suatu hari yg indah nanti…
    Amiiiinnnn… (-_-)..
    xoxoxo…..

  3. ara · August 15, 2010

    nisa, ara like this.. empat jempol.. seperti semua kegelisahan kegundahan kita hampir sama,semua sudah kau tuangkan disini..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s