something always brings me back to you… Sara Bareilles!!


Sempat penasaran membaca twit-nya indraherlambang tentang lagu Gravity-nya Sara Bareilles. Gw sendiri gak tahu lagunya seperti apa, tapi si Indra bilang kalau dia baru sadar ternyata banyak juga yang suka lagu ini. Gara-gara twit provokatif itu, gw akhirnya cek youtube dan lihat video-nya. Pertama dengar langsung jatuh hati dan download lagunya di 4shared.

Setelah diingat-ingat, lagu ini gak benar-benar asing di telinga. Gw pernah dengar lagu ini di acara So You Think You Can Dance Season 5. Entah apa judulnya waktu itu, tapi berbekas banget, apalagi gw sukaaa banget sama Kupono ^^

Kupono berduet dengan Kayla membawakan tarian karyanya Mia Michaels yang fenomenal banget (buat gw!) yang berjudul Addiction. Sumpah itu tarian keren banget!! Cek aja di sini.

Kupono and Kayla | SYTYCD Season 5

Ada rasa sedih yang gak bisa gw gambarkan tiap kali dengar lagu ini, bahkan setelah ke-394 kalinya gw dengar (berdasarkan counter yang ada di-Ippo) rasa tak tergambarkan itu masih terasa. Permainan pianonya Sara bagus banget, suaranya terdengar damai di telinga gw, dan liriknya juga sederhana namun memiliki makna yang luas. Lagu itu begitu indah sampai sulit gw jelaskan mengapa. Jawabannya sesulitnya pertanyaan “kenapa gw suka cowok berkaca mata yang techno-freak?” Semuanya muncul dari hati dan bila hati sudah suka, logika sering tak bisa berkata-kata.

Sayang banget gak ada teman gw yang juga suka dengar lagu ini. Udah dicekokin ke Anggie, Wina, Kang Guntur; semuanya nanggepin biasa aja, bahkan lagu ini mental di telinganya si Anggie (errrgh..gak ngerti kenapa lagu sebagus ini bisa gak diterima di telinganya si Paopao! (Dasar kuno!:p Kebanyakan denger lagunya Ebiet G. Ade, Kiki Maria dan Franky Sahilatua sih:))

.Sara Bareilles and Friends.

Tuhan, semoga saat gw masih hidup, gw diberi kesempatan lihat live konser Sara Bareilles dan Ingrid Michaelson. Kalau mereka gak bisa datang ke Indonesia, semoga takdir membawaku ke Amerika untuk melihat mereka :D Amiiien)

Advertisements

[JCaps] The Groomsmen (2006)


Photo: Courtesy of Bauer Martinez Entertainment

Jen  :  What are you doing here?

Mike: I thought it would be a good time to come by and get some of my stuff back.

Jen   : What stuff? I thought we did this already.

Mike: No, I had an extra box of stuff in the back bedroom.

Jen   : Oh, I threw it out, I thought it was garbage.

Mike: You threw it out? Jen come on, you didn’t throw it out. There were two important baseballs in there.

Jen   : It couldn’t have been too important if you left them here.

Mike: No, they were important, they were real important. They were valuable collectors items. Collectibles.

Jen   : Grow the fuck up, Mike. I mean, don’t you see that’s why we broke up. You are a child. What man in his thirties, do you know, that cares about baseballs and comics and all that other adolescent shit that you obsess over!

Mike: How… how you been otherwise?

Jen   : Go away, Mike.

Mike: You look really good…Jen come on! Did I tell you Paulie’s getting married this weekend?

Jen   : Yeah Mike, you told me that.

Mike: Yeah, it’s exciting. Really exciting. I got a tux, it’s nice. I… I don’t have a date for that, you should come, you know all the guys.

Jen   : You know my little brother is back from college.

Mike: Yeah? So?

Jen   : So. I think you should stop, stopping by. And if you don’t, I think I’ll have him take care of it.

Mike: Who Top cat? You’re threatening me with my little brother?

Jen   : Yeah, he’s not so little anymore.

Mike: Wow, man, you know what? You just want to throw me under the bus, toss me out of your life like we never had anything, cool, that’s fine with me, Jen. I don’t give a shit, you can do that.

Jen   : Fine, whatever man…

Mike: All right, you know what? Do me a favor, see if you ever meet another guy, like me, in your whole life! Ever, ’cause I got news for you, Jen. Guys like me, nice guys. Cordial guys. That’s me…We’re far and few between, Jen. Far and few between, so good luck, go enjoy your lonely life.’Cause I can’t do it anymore, fine!

Jen   : I’m done, fine!

Mike: I got your bike… I got your bike in my truck. I’ve been driving it around, trying to figure out when would be the right time to bring it over.

Jen   : The right time?

Mike: Yeah, the right time. I got your bike. It’s in my truck. There you go, I put all the reflectors back on for you.

Jen   : Thank you, Mike. Give Paulie and Sue my best.

Mike: You look great. Jen, come on, let’s work it out. Come on, talk… Jen talk to me. Talk to me Jen, whatever I did, I’m sorry. I don’t even know what I did and I’m sorry! Jen! Jennifer come on, Jen!

Photo: Courtesy of Bauer Martinez Entertainment

Mike: Jenny! Hey Jen! Jennifer! Come on out! Jenny!

Jen   : Mike, why are you here?

Mike: ‘Cause I love you, Jen. All right, I love you so much. I can’t get you outta my life. I need you.

Jen   : Hey, hey. You’re scaring me. I don’t know any other way to say this, but I never want to see you again.

Mike: Why am I scaring you Jen, I just want to get you back in my life. That’s all.

Jen   : Okay, we’re never getting back together again, okay. It’s over. I never want to see you again. I don’t want to be friends, you know, I don’t want anymore of your visits. I don’t want shit from you! So please, leave me alone and get on with your life.

Mike: Jen…

Jen   : It’s over.

TC    : What happened Jen, what? What did you do to her, Michael!

Jen   : Whoa, whoa, whoa, He didn’t do anything.

TC    : No, what are you doing here, Mike? Why are you upsetting my sister?

Mike: I’m not trying to upset your sister, Top cat. I’m just trying to get back in my life, that’s all.

TC    : She doesn’t want to get back together with you. She told you that already. Listen to me, I don’t want to see you around here again. Or I’m going to have to do something you don’t like.

Mike: What are you going to do Top cat, you’re 19 years old. You’re 19!

TC    : Don’t be stupid! Listen to me, don’t you be stupid and make Top cat angry. Watch your hands.

Mike: Angry? What about my level of anger! Is anybody here concerned about how angry I am!

TC   : All right, I’m going to give you 3 seconds. Get in your truck and go. One. Two…

Mike: Dick.

(TC hit Mike)

Mike: Ugh! Oh, you asshole! You hit me!

TC    : Yeah. I told you to get out of here, man.

Mike: So you hit me when I wasn’t paying attention.

TC   : Yes, and I’m going to hit you again unless you get in the truck and go.

Mike: You’ve changed, Top cat. Hey, Jen, I got news for you, you’ll never find a guy like me again as long as you live. I’m a good guy, Jen. And you blew it.

Photo : Courtesy of Bauer Martinez Entertainment

Mike: Top cat!

Jen   : That’s disgusting. Really, really disgusting.

The Funniest Thing I've Ever Heard a Child Say


Hari Sabtu lalu, saat mama sudah pulang kerja dan saya menyengaja tidur di tempat tidurnya sambil menemaninya menonton sinetron Ramadhan, saya kerap tertawa melihat apa yang tertulis di twitter yang saya baca melalui handphone. Seketika itu pula mama tersenyum dan bertanya:

"Kenapa kamu tertawa sendiri?"

Aku bilang kalau aku tertawa karena hashtag yang ada di twitter tentang Baim.

"Memang apa tulisannya?", lanjut mama.

"Ya Allah, Tolong Baim Ya Allah" dengan pengucapan cadel ala Baim jadi terdengar "Ya Owoh towong Baim ya Owoh", kataku.

Haha..kami berdua cuma bisa tertawa…

That's the funnies thing I've ever heard a child say:D

Powered by Plinky

[JCaps] The Love Letter (1999)


I search for this film because Jessica Capshaw is in it. Well, I guess she only appeared less than a minute. Cute how she played in the film with her mom, Kate Capshaw. Here’s the snapshots!!

Photo Courtesy: DreamWorks

Here’s the transcript of the love letter that cause so many intriguing situation in that movie. I love it!! Sweet!

“Dearest, do you know how much in love with you I am? Did I trip? Did I stumble – lose my balance, graze my knee, graze my heart? I know I’m in love when I see you. I know when I long to see you, I’m on fire. Not a muscle has moved. Leaves hang unruffled by any breeze. The air is still. I have fallen in love without taking a step. You are all wrong for me and I know it, but I can no longer care for my thoughts unless they are thoughts of you. When I am close to you, I feel your hair brush my cheek when it does not. I look away from you sometimes, then I look back. When I tie my shoes, when I peel an orange, when I drive my car, when I lie down each night without you, I remain… Yours…”
-The Love Letter (1999) | quoted from: fearlessfight06

.(I guess) I need a shrink.


Hanya layar putih saja yang terhampar di laptopku, ada gundah yang ingin diceritakan, ada kisah yang ingin dibagikan, namun entah apa yang menahan diriku dari menuliskannya. Matahari di hari Minggu ini sepertinya bersinar malu-malu. Awan mengajaknya bermain hingga dia lupa menyinarkan energi untuk manusia di bumi. Bukan salahnya juga sih, mungkin untuk sejenak saja Matahari ingin berlibur dari tugasnya. It’s SUNDAY… The day for sun to take a day off for a little while :D

Thesis?

Jangan ditanya! Setelah dua minggu lalu bertemu pembimbing yang mengacak-acak proposal saya, semua semangat untuk segera lulus seperti menguap. Hilang ditelan waktu yang terus berputar.

Kerjaan kantor?

Well, minggu lalu akhirnya saya berhasil menginjakkan kaki di Kalimantan. 24 jam mungkin bukan waktu yang cukup untuk menjelajah pulau Borneo, namun cukup memberikan pemahaman bahwa listrik sering sekali mati di sana dan menambah sedikit pengetahuan bahwa nama Bandara di Pontianak adalah Supadio.

Selama bulan Ramadhan, waktu kerja yang disampaikan di dalam Edaran Sekjend Kemendag sesuai dengan Edaran Gubernur DKI Jakarta, yaitu pukul 08.00 WIB – 15.00 WIB, namun bagi sebagian dari kami, ada sebuah footnote tak kasat mata di bawah surat edaran tersebut bahwa waktu kerja harus menyesuaikan atasan. Si bos pulang jam 7 atau jam 8, ya harus ngikutin. Tapi Alhamdulillah, si bos toleran sekali di bulan ini, beberapa kali saya mendapat izin untuk pulang jam 17.00 WIB.

Pacar?

Sudah 18 bulan dan 2 hari menjomblo.

Kenapa bisa sedemikian lama sendiri?

Well, bukan karena tidak bisa melupakan yang terakhir, tapi memang beberapa orang yang disukai sepertinya lebih menyukai diri mereka tidak bersama saya:D haha. Maka, Ramadhan kali ini (lagi-lagi!) harus sendiri tanpa pasangan. (Well, gak terlalu mengenaskan sih melihat track record 25 tahun hidup saya dan hanya 2 tahun diantaranya memiliki status ‘in relationship’ yang dihabiskan dengan kegiatan telepon/menelepon di kala Sahur dan buka puasa bersama di atas gedung pencakar langit).

Iri dengan yang sudah punya pasangan?

Errr…sejujurnya, gak juga sih. Mungkin Tuhan belum mempercayakan saya untuk berada dalam sebuah hubungan karena saya belum cakap untuk memilikinya.

Terlalu takut jatuh cinta lagi kah?

Hm…mungkin. Soalnya selama ini saya terlalu mudah jatuh cinta dan sebaliknya orang lain begitu sulit jatuh cinta terhadap saya.

Ada kisah cinta baru?

Tidak untuk saat ini. Setelah #HSJ dan #Boi berlalu, sepertinya saya perlu berhenti sejenak untuk mengevaluasi diri sendiri. Seperti kepompong yang akhirnya bermetamorfosis menjadi kupu-kupu cantik. Mungkin saya harus berdiam diri sejenak. Menaruh hati pada seseorang punya konsekuensi gak sedikit dan semakin saya mengekspos hati saya, semakin rapuh saja hati ini. Tapi belakangan ini ada seseorang dari masa lalu yang mencoba berteman kembali. Seseorang yang tidak pernah berani saya temui karena di dalam badan yang begitu besar ini terdapat hati yang sangat kerdil. Saya ingin sekali menangis tiap kali menyadari bahwa saya terlalu pengecut untuk jatuh cinta dan membuka diri untuk orang lain. Layaknya dalam sebuah permainan, saya adalah pemain yang ingin tetap berada di dalamnya dengan konsisten bertaruh dalam jumlah yang sedikit namun terus mengharapkan mendapatkan jackpot dan kemenangan besar.

Ceritakan lagi tentang dia…

Well, seseorang dari masa lalu ini adalah orang yang konsisten berhubungan melalui telepon dan sms saat saya masih kuliah dulu. Entah apa nama untuk hubungan jenis ini? Setiap kali dia ngajak ketemuan, pasti saya selalu punya alasan untuk menghindar. Selama satu tahun hubungan ini terus kami jalani. Pada akhirnya semua selesai juga karena hubungan kami jalan di tempat dan tidak mengarah ke manapun. Bibirnya terlalu manis, kata-katanya begitu membuai dan saya terlalu takut bahwa semua itu palsu. Maka saya memutuskan untuk menjauh dan dia pun mungkin merasa sudah tidak mampu lagi menemukan alasan untuk menggerakan saya agar mau bertemu muka dengannya. Dia tidak pernah paham bahwa saya terlalu takut berkomitmen dan percaya padanya. Dia tidak cukup sabar untuk menunggu saya membuka diri ini lebih lagi kepadanya. Berakhirlah kisah cinta yang tak pernah benar-benar dimulai ini. Seriously, I have some issues in here. I think I need to see a shrink!! McTreemy or Jack ‘mental’ Gallagher would be lovely;D

Well, you are talking to me now. You don’t need McTreemy or Jack to solve your problem. I’m here for you… Just talk to me… Share your burden….

Belakangan setelah hubungan ‘jelas-jelas-tak-jelas’ ini kandas, sang pria masih sering menghubungi dan bercerita. Saya punya alasan untuk tidak pernah setuju bertemu langsung dengan dia. Well, sejujurnya satu-satunya alasan adalah karena saya tidak percaya diri dan merasa diri saya begitu gendut dan jelek sehingga mungkin dia tidak akan menghubungi saya lagi setelah akhirnya bertemu muka. See, I really think I need to speak to someone about this!!

Yea..keep going… Kenapa kamu merasa jelek?

Saya memang jelek. Saya tidak pernah mampu menarik lawan jenis saya untuk mendekat atau mengajak saya pacaran. Dari zaman SD, SMP, SMA bahkan kuliah tidak ada yang mendekati saya, jadi saya menyimpulkan bahwa diri saya tidak cukup cantik untuk membuat mereka datang mendekat atau mengerubungi saya. Saya jelek!! Saya kadang benci diri saya. Saya benci bapak ibu saya, saya benci semua hal tentang saya dan semua hal menjadikan diri saya sebagai saya yang berwajah jelek ini. Kalau saya menonton kisah ‘total make–over’ di TV, kadang saya membayangkan bagaimana kalau saya adalah orang yang menjalani gastrectomy, operasi wajah dan sedot lemak. Mungkin kalau berat badan saya 55 kg dengan tinggi saya yang hanya 158 cm ini saya akan merasa lebih cantik. Mungkin akan ada seseorang yang mendekati saya. Mungkin…

Ceritakan lagi tentang pria itu…

Saya tidak pernah paham, tapi seperti ada sesuatu yang menahan diri saya untuk mendekat padanya. Seperti ada sesuatu yang mengingatkan bahwa dia bukan yang terbaik untuk saya. Bahwa dia bukanlah orang yang selama ini saya tunggu. Saya menahan diri untuk tidak lebih jauh terlibat dengan dia, terus menolak untuk bertemu karena saya sadar bila kami bertemu, hubungan ini akan semakin menjadi nyata. Semakin nyata hubungan ini, semakin sulit terlepas. Belakangan saya sadar bahwa itu bukan hanya sekedar insting yang salah.

Ada kejadian apa yang membawa kamu pada kesimpulan itu?

Suatu hari –setelah kami putus dan lama tak berhubungan, dia mengirimkan sebuah pesan. Pesannya terdengar sangat depresi. Campuran kekecewaan, kesedihan dan ketakutan. Dia terus bilang bahwa dia gak akan sanggup untuk bertanggung jawab, bahwa semua ini hanya permainan perempuan itu yang menggodanya hingga akhirnya mereka melakukannya di kosan sang wanita, bahwa walau perempuan itu tidak hamil tapi dia dipaksa bertanggungjawab, bahwa dia gak sanggup menceritakan semua ini kepada orang tuanya dan melemparkan semua keluh kesahnya ke saya. Dammit! I wasn’t ready to hear this kind of story.

Apa reaksimu saat itu?

Well, saya kaget sekaligus lega karena akhirnya menemukan alasan di balik sikap curiga terhadapnya; sebuah insting yang selalu saya pertanyakan kebenarannya. Dan saya begitu berterimakasih kepada Tuhan karena Dia menjaga saya dari mengenal pria ini lebih jauh. I see the big picture now!! Saya tanya berapa kali mereka melakukannya. Saya ingin melihat kebenaran yang tersembunyi.

Apa jawabnya?

Dia bilang mereka melakukannya beberapa kali, di rumahnya dan di kosan sang perempuan.

Lalu apa yang kamu lakukan?

Saya bilang bahwa dia harus bertanggungjawab untuk semua hal yang dia lakukan. Bahwa saya merasa mereka berdua melakukannya atas dasar suka sama suka dan tidak ada seorangpun yang dipaksa melakukan hubungan itu. Bahwa dia berbohong dan mencoba membela diri atas kesalahan yang dia lakukan. Bahwa dia adalah seorang pengecut kalau dia sampai lari dari tanggung jawabnya.

Apa yang dia katakan?

Dia bilang kalau dia tidak siap untuk menikah muda, dia ingin meniti karir lebih baik, ingin menjadi laki-laki yang sukses dan bahwa dia tidak menyukai perempuan itu. Ah,, bulshit!! Kata-katanya dulu begitu manis dan saya selalu terbuai, namun saya ragu untuk benar-benar jatuh ke dalamnya. Untung saya tidak pernah benar-benar percaya padanya. Tuhan sayang saya…

Hal itu yang kemudian membuatmu takut jatuh cinta?

Well, aku gak tahu kalau itu membuatku takut jatuh cinta, tapi kejadian itu membawa premis baru dalam hidupku; bahwa pria romantis yang selalu berkata-kata manis tidak bisa dipercaya. Bahwa saya harus lebih hati-hati terhadap orang lain. Bahwa mereka yang berwajah manis mungkin menyembunyikan wajah setan. Mungkinkah itu awal dari trust issue yang saya miliki?

Mungkin saja. Saya belum bisa menyimpulkan dari satu kisah yang kamu ceritakan itu. Bisa saja itu adalah akumulasi dari beberapa kejadian di masa lalumu. Tidak harus selalu berhubungan dengan pria, bisa saja kejadian dengan orang tua atau teman. Namun kejadian dengan pria itu sepertinya men-trigger sebuah pemikiran yang membawamu ke dalam situasi saat ini. Pria itukah yang datang lagi dalam hidupmu sekarang?

Setelah cerita terakhir darinya, dia sama sekali tidak pernah menghubungi saya. Mungkin dia malu atau mungkin dia menyesal telah menceritakannya kepada saya. Dia seperti hilang ditelan bumi. Belakangan saya temui di situs jejaring sosial bahwa dia sudah berhubungan dengan seseorang. Entah pasangannya itu adalah perempuan yang dia ceritakan dulu atau bukan. Saya tidak terlalu peduli. Yang penting saya sudah tidak mau berhubungan lagi dengannya. Namun anehnya, beberapa hari belakangan dia seperti ingin memulai cerita lagi dengan saya. Dia menanyakan nomor telepon saya dan mulai mengirimkan sms. Singkat, namun intens. Setelah saya tanyakan, dia bilang dia sudah tidak lagi berhubungan dengan wanita yang saya lihat di situs jejaring itu.

Menurutmu kenapa dia menghubungimu lagi?

Well, saya juga bingung, makanya saya sempat menanyakan hal itu ke beberapa teman. Jawaban mereka beragam, ada yang bilang kalau dia mungkin hanya ingin menjalin silaturahmi, ada yang berpendapat bahwa dia hanya ingin menunjukkan bahwa dia sudah move-on, namun saya masih menjadi orang yang penting untuk dia dan ada yang lebih ekstrim mengatakan bahwa dia adalah orang yang brengsek. Tampaknya saya harus setuju dengan pendapat terakhir. He was an a** and he STILL IS. At least, I still think he is.

Kenapa kamu membalas smsnya kalau memang kamu masih kecewa dan tidak menyukainya?

Saya seperti memiliki rasa penasaran untuk bertemu dia. Saya pikir saya sudah berubah. Bahwa bertahun-tahun sudah berlalu dari pertama kali saya mendapatkan telepon nyasar itu dan sekarang saya akhirnya berani untuk muncul di hadapannya. Saya pikir membalas smsnya adalah sebuah cara untuk mengukur seberapa jauh saya berkembang menjadi seseorang yang lebih dewasa dan berani menghadapi seseorang yang selama ini saya hindari. The reason is purely about me. I consider him as a test I must take to eventually leap. I consider him as the dark side I must conquer. Dan saat ini, saya sepertinya meragukan kesiapan saya untuk bertemu. Apakah saya mengalami kemunduran lagi?

Kenapa kamu harus selalu berlari?

Karena hanya itu yang bisa saya lakukan. Running is the best thing I can do. Menghindari kenyataan sepertinya adalah jalan terbaik untuk bertahan hidup. Saya ingin hidup di dunia khayal; sebuah dunia utopis dimana semua orang baik, tidak ada pengkhianatan, tidak ada orang jahat, tidak ada kebohongan, tidak ada kepura-puraan. Saya ingin hidup di sebuah dunia dimana saya bisa meletakan hati saya tanpa rasa takut terluka atau tersakiti. Saya sedang bermasalah kan? Saya sakit kan? Saya butuh psikolog kan? Atau psikiater?

Mengakui bahwa kamu bermasalah adalah satu langkah besar untuk sembuh. Dan kamu baru saja melakukannya. Teruslah menulis, semua jawaban akan kamu temukan. Menulis membuatmu menggali perasaan yang selama ini coba kamu tutupi. Menulis membuatmu sadar bahwa kamu bermasalah dan kamu berusaha keluar dari masalah itu. Carilah orang-orang yang bisa kamu percaya. Mulailah membuka diri, menyampaikan perasaan suka/ tidak suka, beranilah menolak dan berkata ‘Tidak’. Sampaikanlah ketertarikanmu kepada orang-orang yang kamu suka. Pergilah dari kerumunan orang-orang yang tidak membawa manfaat dan hanya menyakitimu. Hiduplah!! Hidupmu hanya saat ini… Mulailah bersyukur…

Terimakasih..saya merasa ada beban yang terangkat. Saya mungkin tidak menemukan solusi apapun, namun menceritakan ini adalah hal yang besar bagi saya.

Apa yang akan kamu lakukan sekarang?

Entahlah, mungkin menonton Grey’s Anatomy. Saya suka serial itu. Saya senang menjadi bagian dari sesuatu yang hebat seperti Grey’s Anatomy. Sudah cukup drama dalam hidup saya, sudah cukup cerita tentang saya. Kali ini saya hanya ingin menjadi penonton.

[JCaps] [GA S06E05] Invasion


Photo: Courtesy of ABC Studio

Mr. Torres: I don’t know you well enough to talk about her. We’re not gonna do that.
Arizona: Most people think that I was named for the state, but it’s not true. I was named for a battleship– the “U.S.S. Arizona”. My grandfather was serving on the Arizona when the Japanese bombed Pearl Harbor, and he saved… 19 men before he drowned. Pretty much everything my father did his whole life was about honoring that sacrifice. I was raised to be a good man in a storm, raised to love my country, love my family and protect the things I love. When my father… Colonel Daniel Robbins of the United States Marine Corps, heard that I was a lesbian, he said he only had one question. I was prepared for “how fast can you get the hell out of my house?” But instead… It was… “Are you still who I raised you to be?” My father believes in country the way that you believe in God. And my father is not a man who bends, but he bent for me because I’m his daughter. I’m a good man in a storm. I love your daughter, and I protect the things I love. Not that I need to. She doesn’t need it. She’s strong and caring… And honorable. (voice breaks) and she’s who you raised her to be.

(Quoted from TV.com)

[JCaps] [GA S05E20] Sweet Surender


Photo: Courtesy of ABC Studio

Arizona: What happened?
Callie: He ah, gave me an ultimatum. He said if I didn’t come home, he’d take away my trust fund. He’d cut me off. So, I cut him off. I mean, if he can’t accept me for who I am… I cut him off.
Arizona: Are you ok?
Callie: No. I mean yeah, I… don’t know.
(Callie starts to cry. Arizona hugs her)
Arizona: Oh.

(Quoted from TVFanatic)


[JCaps] [GA S05E21] No Good at Saying Sorry


Callie: Come on Willow. You can do this. You lived in a tree, you crapped in a bucket, you can do this.
Arizona: She crapped in a bucket?
Callie: What are you doing here?
Arizona: Saw it on the board. Never seen an intermodulary rod put into a femur before. So, bucket?
Callie: Yeah. Bucket on a pulley. She’s ah, up in the tree right. So, she lowers the crap bucket to a friend, everyday, who empties it, cleans it, puts food it, and sends it back up the tree.
Arizona: Oh, that’s friendship. Oh.
Callie: Yeah.
Arizona: You know they teach us in MED school how not to care so much. We drape the patient’s so we don’t see their faces, we do a thousand different things to care a little less. You care like crazy, and I love that. And I’ll keep loving that even if you decide to lie to your family.

(quotes taken from TVFanatic.com)

[JCaps] [GA S05E12] Sympathy For The Devil


Dr. Robbins and Dr. Karev on a plane - Sympathy for the Devil episode

Arizona (to Alex): “You don’t think that I know that they just pulled the plug on the kid? You don’t think that I get that? You don’t think I know about the tiny, tiny coffin that they’re going to stick him in? I know about the tiny coffins. I see them all the time. In my sleep. So if you don’t mind, I’m going to keep talking relationships and rainbows and crap. And I’m going to make plans for tomorrow. Because that’s what you do, Karev, you make plans. You have to. You turn your back on the tiny coffins and you face forward, Until the next kid.”