.written out the magic.


Lucu sekali mengingat beberapa hal yang pernah saya tulis. Seperti kata Anggie, menulis adalah sebuah cara untuk mengenal diri sendiri; upaya untuk mencari solusi atas permasalahan pribadi, yang dalam aliran ceritanya merupakan proses pembelajaran bagi diri sendiri agar menjadi lebih dewasa dan bijak dalam menyikapi setiap kisah yang datang dan pergi.

Menulis adalah membicarakan hal-hal yang mungkin terlalu remeh atau malah terlalu rumit untuk disampaikan secara verbal. Menulis adalah kolaborasi diksi yang sengaja dipilih untuk menimbulkan efek tertentu bagi yang membaca dan menciptakan sebuah persepsi yang diinginkan penulis. Menulis adalah berbagi cara pandang dan justifikasi atas banyak hal yang dipilih untuk dilakukan sang penulis.

Menulis juga sebagai sebuah solusi atas permasalahan pribadi. Tidak jarang di akhir tulisan, saya menemukan sendiri jawaban atas banyak hal yang membingungkan dan membuat saya gundah. Menulis membuka ruang pemikiran dan alternatif situasi. Saat saya bercerita bahwa saya marah. Otak saya berfikir dan mencari jawaban alasan mengapa saya marah. Saya (tanpa sadar) menyelami perasaan saya sendiri serta menuntun otak dalam sebuah pola aksi dan reaksi yang kait terkait dengan permasalahan yang saya hadapi. Tanpa menulis, mungkin hal itu lebih sulit dilakukan. Menulis adalah sebuah upacara kontemplasi non absurd.

Ah, banyak sekali definisi menulis dan jujur saya sama sekali tidak kompeten untuk mendefinisikannya dalam tataran yang ilmiah. Namun beberapa pendapat tadi cukuplah mewakili saya.

Setiap kali saya menulis, saya mencoba jujur terhadap apa yang saya rasakan, apa yang membuat saya begitu bersemangat untuk membaginya kepada dunia dan menyajikannya dalam sebuah bentuk runtut cerita. Belakangan saya tidak punya banyak momen untuk diceritakan ke dalam sebuah tulisan. Syarat menulis (untuk saya) adalah adanya pelajaran yang mampu saya ambil dari kejadian yang ada. Maka, absennya beberapa cerita dalam hidup bisa meningindikasikan beberapa hal:

1. saya sudah terlalu lama terjebak dalam comfort zone sehingga tidak lagi ada hal yang cukup menarik untuk diceritakan dalam keseharian saya
2. saya lalai mencari makna dari keseharian yang saya alami
3. saya tidak ingin membuka diri saya kepada orang lain, atau
4. saya tidak punya waktu yang tepat dan tenang untuk menulis

Belakangan, saya sampai pada sebuah kesadaran bahwa menulis juga mampu menghilangkan beberapa kecenderungan diri saya. Dalam notes .kisah perempuan dengan kesukaan menonton/ membeli/ menyewa film yang kronis., saya bercerita tentang obsesi dan hobi yang menurut saya berada di level yang cukup membahayakan. Tidak lama setelahnya, perempuan dengan kesukaan. menonton, membeli/ menyewa film yang kronis itu seperti bukan diri saya. Saya tidak lagi obsesif dan memiliki ‘kelainan’ seperti itu. Aneh bahwa menulis bisa membuat saya sembuh secara ajaib. Ya, ajaib karena tanpa saya sadar, menulis sepertinya merupakan terapi untuk menyembuhkan ketergantungan terhadap menonton/ membeli/ menyewa film.  (saya bahkan tidak ingat kapan terakhir kali membeli DVD di ITC Kuningan atau menyewa puluhan VCD dan terlarut dalam rally menonton selama 24 jam penuh =)

Nah, kalau logikanya begitu sederhana, bahwa dengan menuliskan kisah diri saya melalui blog/ notes, persoalan saya akan secara ajaib hilang, sepertinya saya perlu banyak menulis tentang thesis yah. Barangkali saat bangun tidur saya sudah bisa langsung wisuda:D LOL

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s