.kisah tentang iPod, The Practice dan privasi.


Sudah sejak lama pengen menulis tentang salah satu episode The Practice yang judulnya Neighboring Species. Jessica Capshaw ternyata banyak membawa link dalam hidup gw:D Sejak tahu kalau dia pernah bermain di beberapa serial, termasuk The Practice, gw jadi gencar mencari link download serial tersebut. Agak sulit juga ternyata nyari di Filestube. Mungkin karena ini serial lama yah? Total ada 8 season sejak tahun 1997 sampai dengan 2004. Gw mulai download file-nya sejak Season 7 (season dimana JCaps mulai berperan secara reguler).

Episode lima di season 7 bercerita tentang seseorang yang dituntut oleh tetangganya karena kebiasaan menyanyi di waktu pagi. Lagu ‘One Moment in Time’-nya Whitney Houston dianggap mampu memberikan semangat yang dibutuhkan oleh Maxine Shipp setiap harinya untuk memulai hari dan mengerjakan semua aktivitas. Namun kondisi ini ternyata membuat sang tetangga, Mr. Emerson terganggu sampai membawa perkara ini di meja pengadilan. Gw gak akan bikin resensi tentang episode ini, cuma pengen berbagi aja beberapa statement Lindsay Dole (pengacara Maxine), Randy Peete (pengacara Mr. Emerson) dan juga Judge Roberta Kittleson tentang kasus ini yang mengena untuk gw.

Gw pernah bercerita tentang pentingnya privasi. Betapa gw mengagungkan sebuah situasi yang serba tenang, tanpa intervensi siapapun. Membiarkan gw dengan pikiran sendiri. Sebuah hal yang cukup suci namun berbahaya, terlebih bila kebutuhan untuk mengasingkan diri ini muncul saat berada di kerumunan orang. Gw sebenarnya gak peduli apa yang mau dikatakan orang bila gw tiba-tiba diam saja, menyendiri dan terkungkung oleh pemikiran yang ada di otak dan ‘menjauh’ dari kerumunan, tapi sebagian jiwa yang masih sadar pasti akan berontak kalau sifat aneh ini tiba-tiba muncul.

Mama seringkali marah karena gw begitu cinta sama kacamata gw (sampai gw pakai terus saat tidur) dan juga iPod yang selalu aja gw dengerin dimanapun kapanpun. Banyak juga teman-teman SEF yang dulu protes kalau gw dengerin lagu di handphone menggunakan penyumpal telinga padahal saat itu sedang berlangsung rapat kegiatan. Sebagian lain sering gak abis pikir kenapa gw selalu pakai earphone saat dosen sedang kasih ceramah di dalam kelas. Belakangan gw sendiri merasa aneh karena gw selalu denger iPod saat gw nonton TV. Jangan tanya apa sih yang gw denger di iPod itu. Isinya yah cuma lagu-lagu biasa aja. Cuma gw merasa ada kekosongan yang terjadi kalau gw gak dengerin lagu langsung di telinga gw.

Oia, dalam rangka membela diri, gw tetap mengikuti jalannya rapat kegiatan SEF dengan baik, tetap kasih pendapat dan gontok-gontokan sama teman yang beda pendapat sama gw (earphone tetep gak lepas dari telinga:p), tetap sadar walau rapat baru selesai dini hari, tetap mendengarkan penjelasan dosen di kelas dan dapat nilai bagus serta tetap paham jalan cerita film yang gw tonton.

So, gak masalah juga kan kalau gw tetap menyumpal telinga gw dengan musik? :p

Cuma kenapa selalu aja ada suara sumbang terhadap mereka yang terlalu intens ‘bermain’ dengan perangkat musiknya? Dibilang gak mau berbaur lah, gak memperhatikan jalannya kegiatan lah, gak pedulian dengan orang sekitar lah, dan lah-lah lainnya. Sekarang mata gw semakin terbuka sih. Dengerin musik pakai earphone cenderung bisa membuat telinga jadi budeg:D hehe. So, gw coba mengurangi. Kepala gw gak sekeras itu kok. Dan otak gw juga gak ndableg-ndableg banget saking gak mau denger saran mama atau orang lain =))

Trus apa hubungannya dengan film The Practice??

Hehe..maaf jadi muter-muter (tapi tetep genah kok:D). Secara kronologisnya, dalam closing speech-nya, Randy bilang begini:

“It was a splendid performance. To hear it once? Fabulous! But day after day after day after day, it’s Mr Emerson stated, part of owning home, perhaps the very essence of it, is your quiet enjoyment of it. To be able to sip a cup of coffee in peace. Not all the time of course. Disturbances are part of life. But Mr Emerson shouldn’t be forced to endure a daily dose of what we heard in this court room. People do have a right to peace and quiet.”

Nah, untuk menutup pembelaannya, Lindsay juga kasih speech yang menurut gw ngena banget.

“Peace and quiet are overrated. I’ve just left my firm to start my own practice, ostensively to to find peace and quiet. But I’ve discovered what I’ve been yearning for is a sense of being connected with people, friends, loved ones. I’ve got to know Maxine Shipp a little. I Like her and I just think there’s too much peace and quiet going on. People building fences, gates, getting bigger yard, going around with walkmans, ipods, wearing headphone shutting out the world in search for privacy, seclusion, peace and quite. Growing more isolated. It’s not lonely, we’re also disconnected you know. I think.. I think we need to start letting our neighbor voices come through our walls more.”

Banyak penuturan Lindsay yang menohok banget. Mau gak mau gw harus mengiyakan pendapatnya itu. Setidaknya untuk kasus gw sendiri.

Gak peduli semulia apapun tujuan atas nama pribadi yang dilakukan; privasi lah, kenyamanan lah, atau hak lah. Manusia memang adalah mahluk sosial yang gak mungkin bertahan hidup sendirian. Seberapa keraspun gw mencoba menyendiri dan menutup diri gw, tetap aja ada rasa kesepian dan kebutuhan untuk merasakan afeksi orang lain. Dan menutup diri terlalu rapat membuat gw jadi seperti seorang oportunis.

Ya, oportunis sebutannya kalau mendekati orang lain hanya pada saat tertentu (baca: saat kita butuh). “Kemana aja lo selama ini? Ujug-ujug datang minta bantuan dan ngedeketin karena lagi butuh…” (keluar logat Betawi-nya:D).

Gak banget deh di-cap orang lain sebagai seorang oportunis. Oleh karena itu, gw pengen lebih membuka diri gw (dalam takaran yang wajar) dan membiarkan orang lain masuk ke kehidupan gw, mengizinkan mereka mengetahui sisi lain dari kehidupan gw, membaca pikiran gw, mengajak gw melakukan hal-hal yang gak mungkin gw lakukan seorang diri.

Belakangan gw banyak menemukan hal asik; karaokean dengan teman yang ‘kenal-tapi-gak-dekat’, bersikap kekanakan di depan teman di kantor, membuka diri gw untuk terobsesi dengan Grey’s Anatomy, Sara Ramires dan Jessica Capshaw:p dan  memilih untuk bersikap konsisten terhadap apa yang gw janjikan kepada orang lain, bahkan berfikir untuk ketemu dan menjalin pertemanan dengan sang mantan.

DULU, hal-hal itu semuanya gak mungkin gw lakukan karena gw merasa terlalu takut bahwa kedekatan gw dengan orang lain hanya memberikan kesedihan dan rasa sakit. Kenyataannya, rasa sakit tetap ada karena orang begitu beragam, namun rasa bahagia ternyata juga hadir mengiringi jiwa yang lebih bebas ini. Sepertinya gw akan mulai berani untuk bertemu dengan orang-orang yang dekat melalui dunia maya namun begitu jauh dalam kehidupan nyata:D

Dan ini dia penuturan Judge Roberta yang diakhiri dengan kemenangan Maxine.

“To be honest, I wouldn’t be thrilled to hear that suzas voice every morning. But Mr. Emerson, when i was buying my house, I ask my real estate broker about privacy. And she said “oh, this is a quiet neighborhood. You wont have to worry about your neighbors getting all chummy or throwing block parties. People here like to keep to themselves.” She said that it’s a selling point. Something to drive the price higher. It’s a sad day when people go to court to stop their neighbors from singing…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s