#JulyWish


Di Twitter banyak orang yang mengungkapkan doa dan permohonan mereka di setiap bulan yang akan datang. Karena ini adalah bulan Juli, maka banyak sekali topik #JulyWish yang muncul. Seiring perubahan bulan, maka akan muncul ‘wish(es)’ lainnya. #AugustWish #SeptemberWish, dsb

1 Juli 2010 saya awali dengan sebuah ketakutan terbesar. Hampir 3 hari sebelumnya saya sulit sekali untuk tidur. Entah sindrom apa yang melanda sehingga hal yang paling mampu membuat saya nyaman saja tidak bisa saya lakukan dengan nyenyak. Saya merasa sangat ‘fragile‘, sangat ‘vulnerbale‘, dan sangat ‘insecure‘.

Well, perasaan ‘insecure‘ sebenarnya lebih sering saya rasakan. Dulu bahkan saya berpikir bahwa cara untuk menghilangkan rasa ‘insecure‘ itu adalah dengan memiliki seorang pacar; seseorang yang akan selalu ada, meyakinkan saya bahwa saya berharga, saya spesial, saya berarti dan saya tidak perlu takut akan apapun tentang apa pemikiran orang lain terhadap saya, bahwa SAYA DICINTAI SEPENUH HATI. Tapi ternyata saya salah!

Menggantungkan diri pada manusia lain tidak menjadikan diri saya lebih baik. Malahan saya menjadi semakin ‘insecure‘.

Saya ingat pernah bercerita kepada seorang teman nun jauh di Amerika sana. Entah mengapa saya merasa nyaman sekali berbagi dengannya. Mungkin karena dia berteman dengan saya dan lelaki itu sebelum kami berdua akhirnya memutuskan untuk pacaran. Mungkin karena dia berada jauh di sana dan saya tidak perlu melihat ekspresi ‘aku-tahu-banyak-hal-tentang-kamu’ di wajahnya. Mungkin karena teman saya itu sudah menikah dan punya lebih banyak pengalaman untuk dibagi kepada saya. Atau mungkin karena dia adalah satu-satunya yang jauh diantara ‘circle-of-friends’ saya, lelaki itu dan teman-teman dekat saya yang ada di sini. Bila diibaratkan sebuah himpunan, dia berada di dalam himpunan semesta, namun bukan berada di dalam himpunan saya, lelaki itu ataupun teman-teman saya yang lain (ah, sulit sekali mengibaratkan dengan logika matematika:p). Dia dekat, namun jauh.

Saya ingat bercerita kepadanya tentang perasaan saya terhadap lelaki itu (sebuah ungkapan hati yang sulit sekali saya utarakan kepada teman lain, apalagi mengingat bagaimana hubungan saya dengan lelaki itu dimulai dengan sangat canggung). Kami berpacaran, namun lelaki itu seperti ingin menyimpan cerita ini berdua saja. Maka, untuk menghargainya dan dalam upaya menyalurkan keinginan saya berbagai kisah dengan teman lain, saya memilih untuk bercerita kepada teman yang berada jauh dari ‘circle-of-friend‘ kami, namun cukup dekat untuk tahu seperti apa saya dan lelaki itu.

Singkat cerita, saya berkata bahwa saya merasa sangat ‘insecure‘. Bahwa saya ‘memanfaatkan’ lelaki dan hubungan itu demi sebuah rasa ‘secure‘ yang saya kira akan saya dapatkan saat saya sudah tidak menjadi ‘single’ (baca: jomblo) lagi. Ah, ternyata pencarian saya tak menghasilkan. Semakin saya berhubungan dengannya, semakin kacau perasaan saya. Bukan hubungan seperti ini yang saya harapkan saat nanti saya memutuskan untuk ‘tie the knot‘ dengan seseorang.

Saya menginginkan sebuah hubungan yang dewasa-namun-kekanakan yang penuh dengan pengertian, kepercayaan, cemburu pada kadar yang tepat, rasa saling memahami kebutuhan satu sama lain, saling takut kehilangan -namun tidak sampai saling menjadikan diri kami bertindak seperti-bukan-diri-sendiri, mampu bertindak sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh pasangan dan beragam kriteria lain yang saya harapkan dari berhubungan dengan seseorang.

Ah, ingin sekali memiliki hubungan seperti yang diceritakan dalam cerita fiksinya WW. Betapa detil dan indahnya deskripsi yang ditulsikan hingga saya akhirnya tahu jenis hubungan seperti apa yang ingin saya miliki. (Saya tidak punya banyak pengalaman tentang pacaran. Menjadi awam tentang bagaimana membangun sebuah hubungan bukanlah sebuah hal yang menyenangkan dan membaca kisah tentang dinamika berhubungan bisa memberikan sedikit insight untuk saya).

“I am insecure and looking for someone who’s strong enough to stand still for us both. In fact, he’s also insecure of himself. So, how can I lay myself on him if that’s the situation? :(”

Itulah yang saya katakan ke teman saya melalui alat percakapan dunia maya. Ah, saya terlalu takut untuk menyadari bahwa kami memang tidak saling komplementer (sejak lama). Saya merasa takut terlempar kembali ke situasi sulitnya mencari pasangan dan merasa harus bisa mempertahankan apa yang saya miliki saat ini dan menjaganya sepenuh hati agar tidak terlepas dari tangan saya. Namun saat apa yang saya miliki ternyata tidak dapat memenuhi kebutuhan saya (dan dia) akan arti pentingnya memiliki pasangan dalam hidup, bagaimana hubungan ini bisa terus berjalan?

Lama sekali saya disadarkan bahwa semua perpisahan itu adalah sebuah hal yang baik untuk kami berdua. Lama sekali saya berusaha agar berhenti mengharapkannya. Berbulan-bulan saya menyakinkan diri saya bahwa saya adalah orang yang baik (dan dia adalah orang yang baik) namun kami bukanlah yang TERBAIK bila bersama.

Perlu waktu yang sangat panjang untuk membangun kepercayaan diri yang sangat rendah ini agar menyadari bahwa saya bukan ‘terbuang’, saya bukan ‘tidak berharga’, saya bukan ‘orang yang sangat tidak layak disayang’ saat saya harus kehilangan dia.

Ah, entah ini terjadi padamu atau tidak, bahwa saat kamu putus dengan orang yang kamu sayangi, satu-satunya yang ada di pikiran kamu tentang ALASAN KENAPA ITU TERJADI adalah ‘karena kamu tidak cukup berharga/baik untuk bersama dia’.

–o–

5 Juli 2010 dan saya merasa sangat senang. Saya tidak lagi merasakan semua ketakutan dan keresahan itu. Saya tahu bahwa saya bukanlah lagi seseorang yang ‘insecure‘ dan gila akan pengakuan tentang ‘betapa disayangnya’ saya.

Saya belajar dari kesalahan, saya belajar dari kekecewaan, saya belajar dari banyak orang yang menyakiti dan saya bertransformasi menjadi sosok yang lebih baik. Mungkin akan ada saatnya jalan saya menjadi gelap dan saya menjadi ketakutan serta semua rasa ‘insecure’ itu muncul kembali, namun saya yakin bahwa 25 tahun mempelajari kehidupan bukanlah waktu yang terlalu singkat untuk kembali berputus asa.

Saya tidak mau mendefiniskan kebahagiaan saya dari definisi orang lain atas saya. Terserah apa yang mereka pikirkan tentang saya, yang penting adalah usaha untuk terus menjadi orang yang baik, tanpa niat buruk terhadap orang lain.

Biarlah sang lelaki yang sudah saya tunggu itu datang tepat pada waktunya, pada saat saya siap untuk berkomitmen dengan dirinya.

Sementara itu, saya ingin menikmati dulu kesendirian ini bersama keluarga dan teman-teman saya.

Saya ingin mereguk kebahagaiaan dikelilingi oleh banyak orang yang spesial dalam hidup saya.

Walau kebahagiaan hari ini begitu melimpah hingga saya takut bahwa semua ini hanya sementara saja, walau kejutan hari ini begitu (mendekati) sempurna hingga ingin sekali saya simpan semua kenangan ini di sebuah kotak asal Belanda pemberian dari mbakyuku. Namun saya sadar bahwa semua ini memang hanya sementara dan semu. Hari dan tahun akan berganti, teman akan datang dan pergi, cerita baru akan terus tertulis, namun kenangan yang telah terbagi akan terus di hati.

Akan saya simpan semua SMS, telepon, dan posting pesan melalui wall FB serta mention nama saya di Twitter yang merupakan DOA-DOA TERINDAH dan TULUS yang semoga saja diridhoiNYA dan segera diijabah. Amiien

I’m SINGLE, (AVAILABLE), YET HAPPY GIRL :)

Happy Birthday, Annisa!!:)

(to be continued)

Photo Credit: Anggie

*repeatedly listen to Alicia Key’s Album ‘The Element Of Freedom”

Advertisements

2 comments

  1. Frida · July 5, 2010

    Semoga tidak pernah lepas dari kebahagiaan..
    Dan tak pernah lelah untuk menebarkan kebahagiaan untuk mahluk hidup di sekelilingnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s