[film review] SALT


Setelah Djakarta Theatre menjadi tempat favorit untuk nonton –karena alasan kedekatan geografis dengan rumah gw yang ada di Tanah Abang, sekarang Epicentrum XXI sepertinya bisa dijadikan tempat favorit juga untuk menonton bioskop. Well, alasan utamanya simpel, yaitu karena Anggie kerja di daerah Kuningan dan dia adalah teman sejati gw untuk nonton dan mengkritisi film yang kita tonton bareng. Selain itu, ruangan bioskop Epicentrum XXI lebih luas dan belum terlalu ramai. So, bisa dipastikan kalau mendapat tiket akan lebih mudah dengan tersedianya kursi yang lebih banyak. Kawasan yang nyaman dan ‘mewah’ juga membuat gw senang berada di daerah sana, Epicentrum Walk dikelilingi oleh kawasan apartemen yang selalu membuat gw drooling (dari dulu, gw selalu pengen tinggal di Apartemen). Yang gak kalah penting adalah tentang sensasi perasaan yang gw alami tiap kali berada di sana; gw merasa seperti tidak berada di Indonesia, it’s like a whole different environment with great ambiance, so isolated and peaceful (well, padahal gw gak pernah sekalipun keluar dari indonesia sih:p).

Kemarin gw keluar kantor jam 16.00 WIB, kebetulan bos sedang berada di Yogyakarta sehingga kerjaan bisa diselesaikan lebih cepat dan bisa keluar kantor saat semua orang juga berebut pulang kantor. Bisa dipastikan jalanan menuju Kuningan ramai dan padat, namun gw selalu senang bisa keluar kantor melihat matahari masih menyembul di balik awan. Seru banget ikut macet-macetan bareng orang-orang yang pengen segera sampai rumah karena hal seperti ini agak jarang bisa gw alami. Kalau gak karena urusan ke kampus, gw pasti baru keluar kantor jam 7 malam. I embrace that Wednesday!! Cuaca lumayan cerah dan tidak ada indikasi akan turun hujan. Alhamdulillah! :)

Sejak trailer SALT diputar, Anggie udah ngotot pengen banget nonton film ini, maka saat kesempatan keluar kantor cepat di Rabu yang cerah itu datang, gw langsung ajak dia nonton. Setiap kali menonton film, gw mencoba seminimal mungkin membaca jalan ceritanya; mengosongkan pikiran agar lebih mudah menyerap kisah yang tersaji, membuang semua prasangka serta ekspektasi terhadapnya. Menjadi penonton awam dan menikmati setiap kejutan yang dirangkai oleh sang penulis cerita sambil menikmati efek sinematografi yang (biasanya) canggih di film-film Hollywood:D

Most time Hollywood failed me, but I keep coming back. Don’t ask me why! :p

SALT dibuka mundur ke dua tahun belakang dengan adegan kekerasan yang dilakukan oleh Tentara Korea Utara untuk membuat Evelyn Salt (diperankan oleh Angelina Jolie) mengaku bahwa dia adalah mata-mata yang berkedok sebagai pejabat di sebuah perusahaan minyak. Sumpah gak tega banget liat matanya Angelina Jolie lebam :(


Tagline film ini adalah WHO IS SALT? Dan memang sepanjang film, penonton dibuat terus menerus mengubah kesimpulan mandul yang dibuat otak sebagai hasil atas representasi beberapa adegan yang dimunculkan sang sutradara, Phillip Noyce,  tentang siapa identitas sebenarnya Salt. Judgement penonton terus diacak-acak sampai akhirnya semua semakin terbuka di akhir kisah. Menarik!

Courtesy of Sony Pictures

Yang gw suka dari film ini adalah kejutan dan adegan ekstrim yang dimunculkan dan ternyata berani dimainkan oleh Angelina Jolie tanpa pemeran pengganti (stuntman). Gak abis pikir aja Jolie berani loncat dari truk di jalan layang, bergaya ala spider man dengan mengendap-endap merayap di gedung yang tinggi (bahkan tanpa kelenjar lengket yang bisa menghasilkan daya rekat kapiler!), merakit bom sendiri dan melakukan full body contact dengan lawan-lawannya (baca: hand-to-hand fighting). Keren!!

Yang pertama muncul saat melihat aksi Angelina Jolie adalah pemikiran bahwa Salt adalah Rambo versi perempuan :D

Courtesy of Sony Pictures

Selalu deh di film Amrik tuh jagoannya digambarkan jago BANGET sampai aksi-aksi individual dijadikan tawaran utama. Lihat aja film Trilogy Bourne, Green Zone, Shooter, Vantage Point, Enemy of The State, Die Hard, etc. Pembahasan yang gw dan Anggie lakukan setelah film ini selesai adalah: “Kenapa sih film Hollywood jagoannya cuma satu orang tapi bisa menumpas kejahatan yang gede banget bahkan bisa menumpas mafia/ teroris yang jaringannya banyak banget?”

Gak masuk akal!! Di film Salt juga ada beberapa hal yang gak masuk akal gw:D

Eh, si Anggie jawabnya simpel banget: “Ya, soalnya kan orang Amerika INDIVIDUALIS, jadi yang diangkat di tiap film adalah sikap individualis itu

Gw cuma bisa ketawa…wkwkwk..

Padahal gw punya beberapa skenario hebat, mulai dari sindrom super-power Amerika yang merasa ras-nya terbaik sehingga menggambarkan tokoh utama dalam film Hollywood sebagai orang unggul yang bisa menumpas kejahatan di muka bumi dan membawa kedamaian di muka dunia, sampai karena penonton cenderung terkesima dan terbuai dengan satu tokoh tertentu yang memiliki banyak kemampuan taktis bahkan kemampuan super hero (seperti MacGyver vs Superman), maka dibuatlah hiper realitas tentang tokoh utama di tiap film Hollywood.

Hmm, bukankah bioskop adalah tempat pelarian dari realitas yang ada di dunia? Tempat memanjakan semua panca indra karena terlalu jengah dengan situasi di dunia nyata, sehingga mencari pelampiasan serta kepuasan melalui dunia rekaan bernama film.

Awalnya, saat gw pikir bahwa Salt adalah mata-mata KGB, kenapa pakai taktik menyerang yang identik banget dengan jagoan Amerika? Beda banget kan gaya teror yang dilakukan oleh para teroris yang dicurigai mekar berseri di kawasan timur tengah? Bukankah KGB juga punya karakteristik penyerangan yang berbeda dan identik dengan karakter mereka sendiri?Ah, susah dijelasin pakai kata-kata :P

Sepanjang film, penonton juga dibuat tegang terus, hampir semuanya klimks. Sampai bingung dimana sebenernya SUPER klimaks-nya:p

Baru merasa lega sedikit saja, arah permainannya berubah lagi, mungkin maksudnya supaya gak mudah ditebak, tapi bikin gw capek nontonnya. Yang agak lebay, gw sampai gak habis pikir kenapa pertahanan Secret Service (yang menjaga Presiden AS) lemah banget sampai mudah disusupi bahkan bisa dipatahkan oleh satu orang perempuan:)

Flashback hubungan antara Salt dengan sang suami yang berkebangsaan Jerman itu juga kurang tereksplor dengan baik. Mungkin sengaja dibuat demikian agar penonton tidak tahu seberapa dalam hubungan mereka dan mengalihkan perhatian penonton dari menyimpulkan film ini ke premis paling dasar bahwa semua kejadian dan alasan dari tindakan sang tokoh utama didasari oleh urusan C.I.N.T.A dan P.E.R.A.S.A.AN.

Di bagian (hampir) akhir, Amerika akhirnya terdesak untuk meluncurkan misil nuklir sebagai upaya membalas tindakan KGB dan jalan terakhir untuk mengingatkan dunia bahwa gak boleh ada negara lain yang main-main sama Amerika:D Ya, sepertinya DIPLOMASI adalah alat yang gak revolusional kalau berurusan dengan kepentingan bangsa-bangsa tertentu.

Film ini pas banget diputar saat di koran-koran sedang santer banget membahas soal kebocoran informasi rahasia dan terungkapnya berita tentang Anna Chapman, seorang pengusaha yang diduga adalah  mata-mata rusia yang mencoba mencari tahu tentang senjata AS, mempelajari strategi diplomasi serta perkembangan politik di sana atau tentang tertangkapnya seseorang yang diduga sebagai agen mossad yang membantu membunuh seorang pemimpin Hamas. (Duh, ngomongin agen mossad, jadi inget Ziva David di film NCIS :) I love her acting…)

NCIS

Ziva David | Mossad Liaison Officer | NCIS

Di akhir film, gw cuma bisa mengrenyitkan muka. Kok bisa-bisanya seorang Agen mengambil keputusan sendiri dan melakukan tindakan ‘itu’ tanpa penyelidikan yang sesuai. Benar-benar gak habis pikir :P

So, gw yakin kalau akan ada SALT 2 di tahun mendatang, film menggantung sepertinya sudah menjadi trend yang diminati banyak sutradara (bukan lagi dominasi film horor atau misteri aja:p) . Kalau respon penonton dan keuntungan bagus, maka tinggal dibuat lanjutan ceritanya. Kalau pun gak terlalu meledak, ya anggap saja bahwa penonton dipersilakan menginterpretasikan akhir kisah sang tokoh tersebut semau mereka:D

Go look for the movie by yourself:) Yang pasti kalau mengharapkan adegan seksi di atas ranjang ala Original Sin yang dulu diidentikan dengan Angelina Jolie, penonton harus bersiap kecewa:D Interaksi seperti itu minim sekali di film ini.

Well, ini cuma catatan penonton awam saja, sambil belajar menulis review film tanpa bermaksud memberikan spoiler kepada siapapun yang membaca:)

Cheers,

Ps. Sepulang nonton, gw dan Anggie menuju pelataran parkir dan bingung mencari-cari dimana kunci motor gw. Kok gak ada di dalam tas serta jaket. Setelah dingat-ingat, sepertinya kunci gw masih tergantung di dekat jok motor setelah helm gw dikaitkan ke bagian dalam jok agar aman dari pencuri Helm SNI. Oh GOD, gw langsung menemui petugas parkir dan menanyakan apakah mereka melihat kunci motor Transformer gw. Alhamdulillah ada petugas yang baik hati menyimpan dan mengembalikan setelah gw berhasil memperlihatkan STNK motor dan karcis parkir. Alhamdulillah motor gak hilang. Pelayanan petugas parkir juga bagus. Lain kali harus lebih hati-hati lagi :D Terima kasih, Tuhan ^^

.written out the magic.


Lucu sekali mengingat beberapa hal yang pernah saya tulis. Seperti kata Anggie, menulis adalah sebuah cara untuk mengenal diri sendiri; upaya untuk mencari solusi atas permasalahan pribadi, yang dalam aliran ceritanya merupakan proses pembelajaran bagi diri sendiri agar menjadi lebih dewasa dan bijak dalam menyikapi setiap kisah yang datang dan pergi.

Menulis adalah membicarakan hal-hal yang mungkin terlalu remeh atau malah terlalu rumit untuk disampaikan secara verbal. Menulis adalah kolaborasi diksi yang sengaja dipilih untuk menimbulkan efek tertentu bagi yang membaca dan menciptakan sebuah persepsi yang diinginkan penulis. Menulis adalah berbagi cara pandang dan justifikasi atas banyak hal yang dipilih untuk dilakukan sang penulis.

Menulis juga sebagai sebuah solusi atas permasalahan pribadi. Tidak jarang di akhir tulisan, saya menemukan sendiri jawaban atas banyak hal yang membingungkan dan membuat saya gundah. Menulis membuka ruang pemikiran dan alternatif situasi. Saat saya bercerita bahwa saya marah. Otak saya berfikir dan mencari jawaban alasan mengapa saya marah. Saya (tanpa sadar) menyelami perasaan saya sendiri serta menuntun otak dalam sebuah pola aksi dan reaksi yang kait terkait dengan permasalahan yang saya hadapi. Tanpa menulis, mungkin hal itu lebih sulit dilakukan. Menulis adalah sebuah upacara kontemplasi non absurd.

Ah, banyak sekali definisi menulis dan jujur saya sama sekali tidak kompeten untuk mendefinisikannya dalam tataran yang ilmiah. Namun beberapa pendapat tadi cukuplah mewakili saya.

Setiap kali saya menulis, saya mencoba jujur terhadap apa yang saya rasakan, apa yang membuat saya begitu bersemangat untuk membaginya kepada dunia dan menyajikannya dalam sebuah bentuk runtut cerita. Belakangan saya tidak punya banyak momen untuk diceritakan ke dalam sebuah tulisan. Syarat menulis (untuk saya) adalah adanya pelajaran yang mampu saya ambil dari kejadian yang ada. Maka, absennya beberapa cerita dalam hidup bisa meningindikasikan beberapa hal:

1. saya sudah terlalu lama terjebak dalam comfort zone sehingga tidak lagi ada hal yang cukup menarik untuk diceritakan dalam keseharian saya
2. saya lalai mencari makna dari keseharian yang saya alami
3. saya tidak ingin membuka diri saya kepada orang lain, atau
4. saya tidak punya waktu yang tepat dan tenang untuk menulis

Belakangan, saya sampai pada sebuah kesadaran bahwa menulis juga mampu menghilangkan beberapa kecenderungan diri saya. Dalam notes .kisah perempuan dengan kesukaan menonton/ membeli/ menyewa film yang kronis., saya bercerita tentang obsesi dan hobi yang menurut saya berada di level yang cukup membahayakan. Tidak lama setelahnya, perempuan dengan kesukaan. menonton, membeli/ menyewa film yang kronis itu seperti bukan diri saya. Saya tidak lagi obsesif dan memiliki ‘kelainan’ seperti itu. Aneh bahwa menulis bisa membuat saya sembuh secara ajaib. Ya, ajaib karena tanpa saya sadar, menulis sepertinya merupakan terapi untuk menyembuhkan ketergantungan terhadap menonton/ membeli/ menyewa film.  (saya bahkan tidak ingat kapan terakhir kali membeli DVD di ITC Kuningan atau menyewa puluhan VCD dan terlarut dalam rally menonton selama 24 jam penuh =)

Nah, kalau logikanya begitu sederhana, bahwa dengan menuliskan kisah diri saya melalui blog/ notes, persoalan saya akan secara ajaib hilang, sepertinya saya perlu banyak menulis tentang thesis yah. Barangkali saat bangun tidur saya sudah bisa langsung wisuda:D LOL

Film: Review – Inception (via This Is Entertainment)


Film: Review – Inception 'Inception' means 'beginning', 'start' or 'commencement', but that doesn't shed much light on what Christopher Nolan's latest blockbuster, starring Leonardo DiCaprio, is all about. Even if you did read my previous post about Nolan and Inception, little can prepare you for combination of simplicity and complexity of the film itself. In the film, 'inception' is not just the beginning of something, but the principle of planting an idea in someone's … Read More

via This Is Entertainment

.kisah tentang iPod, The Practice dan privasi.


Sudah sejak lama pengen menulis tentang salah satu episode The Practice yang judulnya Neighboring Species. Jessica Capshaw ternyata banyak membawa link dalam hidup gw:D Sejak tahu kalau dia pernah bermain di beberapa serial, termasuk The Practice, gw jadi gencar mencari link download serial tersebut. Agak sulit juga ternyata nyari di Filestube. Mungkin karena ini serial lama yah? Total ada 8 season sejak tahun 1997 sampai dengan 2004. Gw mulai download file-nya sejak Season 7 (season dimana JCaps mulai berperan secara reguler).

Episode lima di season 7 bercerita tentang seseorang yang dituntut oleh tetangganya karena kebiasaan menyanyi di waktu pagi. Lagu ‘One Moment in Time’-nya Whitney Houston dianggap mampu memberikan semangat yang dibutuhkan oleh Maxine Shipp setiap harinya untuk memulai hari dan mengerjakan semua aktivitas. Namun kondisi ini ternyata membuat sang tetangga, Mr. Emerson terganggu sampai membawa perkara ini di meja pengadilan. Gw gak akan bikin resensi tentang episode ini, cuma pengen berbagi aja beberapa statement Lindsay Dole (pengacara Maxine), Randy Peete (pengacara Mr. Emerson) dan juga Judge Roberta Kittleson tentang kasus ini yang mengena untuk gw.

Gw pernah bercerita tentang pentingnya privasi. Betapa gw mengagungkan sebuah situasi yang serba tenang, tanpa intervensi siapapun. Membiarkan gw dengan pikiran sendiri. Sebuah hal yang cukup suci namun berbahaya, terlebih bila kebutuhan untuk mengasingkan diri ini muncul saat berada di kerumunan orang. Gw sebenarnya gak peduli apa yang mau dikatakan orang bila gw tiba-tiba diam saja, menyendiri dan terkungkung oleh pemikiran yang ada di otak dan ‘menjauh’ dari kerumunan, tapi sebagian jiwa yang masih sadar pasti akan berontak kalau sifat aneh ini tiba-tiba muncul.

Mama seringkali marah karena gw begitu cinta sama kacamata gw (sampai gw pakai terus saat tidur) dan juga iPod yang selalu aja gw dengerin dimanapun kapanpun. Banyak juga teman-teman SEF yang dulu protes kalau gw dengerin lagu di handphone menggunakan penyumpal telinga padahal saat itu sedang berlangsung rapat kegiatan. Sebagian lain sering gak abis pikir kenapa gw selalu pakai earphone saat dosen sedang kasih ceramah di dalam kelas. Belakangan gw sendiri merasa aneh karena gw selalu denger iPod saat gw nonton TV. Jangan tanya apa sih yang gw denger di iPod itu. Isinya yah cuma lagu-lagu biasa aja. Cuma gw merasa ada kekosongan yang terjadi kalau gw gak dengerin lagu langsung di telinga gw.

Oia, dalam rangka membela diri, gw tetap mengikuti jalannya rapat kegiatan SEF dengan baik, tetap kasih pendapat dan gontok-gontokan sama teman yang beda pendapat sama gw (earphone tetep gak lepas dari telinga:p), tetap sadar walau rapat baru selesai dini hari, tetap mendengarkan penjelasan dosen di kelas dan dapat nilai bagus serta tetap paham jalan cerita film yang gw tonton.

So, gak masalah juga kan kalau gw tetap menyumpal telinga gw dengan musik? :p

Cuma kenapa selalu aja ada suara sumbang terhadap mereka yang terlalu intens ‘bermain’ dengan perangkat musiknya? Dibilang gak mau berbaur lah, gak memperhatikan jalannya kegiatan lah, gak pedulian dengan orang sekitar lah, dan lah-lah lainnya. Sekarang mata gw semakin terbuka sih. Dengerin musik pakai earphone cenderung bisa membuat telinga jadi budeg:D hehe. So, gw coba mengurangi. Kepala gw gak sekeras itu kok. Dan otak gw juga gak ndableg-ndableg banget saking gak mau denger saran mama atau orang lain =))

Trus apa hubungannya dengan film The Practice??

Hehe..maaf jadi muter-muter (tapi tetep genah kok:D). Secara kronologisnya, dalam closing speech-nya, Randy bilang begini:

“It was a splendid performance. To hear it once? Fabulous! But day after day after day after day, it’s Mr Emerson stated, part of owning home, perhaps the very essence of it, is your quiet enjoyment of it. To be able to sip a cup of coffee in peace. Not all the time of course. Disturbances are part of life. But Mr Emerson shouldn’t be forced to endure a daily dose of what we heard in this court room. People do have a right to peace and quiet.”

Nah, untuk menutup pembelaannya, Lindsay juga kasih speech yang menurut gw ngena banget.

“Peace and quiet are overrated. I’ve just left my firm to start my own practice, ostensively to to find peace and quiet. But I’ve discovered what I’ve been yearning for is a sense of being connected with people, friends, loved ones. I’ve got to know Maxine Shipp a little. I Like her and I just think there’s too much peace and quiet going on. People building fences, gates, getting bigger yard, going around with walkmans, ipods, wearing headphone shutting out the world in search for privacy, seclusion, peace and quite. Growing more isolated. It’s not lonely, we’re also disconnected you know. I think.. I think we need to start letting our neighbor voices come through our walls more.”

Banyak penuturan Lindsay yang menohok banget. Mau gak mau gw harus mengiyakan pendapatnya itu. Setidaknya untuk kasus gw sendiri.

Gak peduli semulia apapun tujuan atas nama pribadi yang dilakukan; privasi lah, kenyamanan lah, atau hak lah. Manusia memang adalah mahluk sosial yang gak mungkin bertahan hidup sendirian. Seberapa keraspun gw mencoba menyendiri dan menutup diri gw, tetap aja ada rasa kesepian dan kebutuhan untuk merasakan afeksi orang lain. Dan menutup diri terlalu rapat membuat gw jadi seperti seorang oportunis.

Ya, oportunis sebutannya kalau mendekati orang lain hanya pada saat tertentu (baca: saat kita butuh). “Kemana aja lo selama ini? Ujug-ujug datang minta bantuan dan ngedeketin karena lagi butuh…” (keluar logat Betawi-nya:D).

Gak banget deh di-cap orang lain sebagai seorang oportunis. Oleh karena itu, gw pengen lebih membuka diri gw (dalam takaran yang wajar) dan membiarkan orang lain masuk ke kehidupan gw, mengizinkan mereka mengetahui sisi lain dari kehidupan gw, membaca pikiran gw, mengajak gw melakukan hal-hal yang gak mungkin gw lakukan seorang diri.

Belakangan gw banyak menemukan hal asik; karaokean dengan teman yang ‘kenal-tapi-gak-dekat’, bersikap kekanakan di depan teman di kantor, membuka diri gw untuk terobsesi dengan Grey’s Anatomy, Sara Ramires dan Jessica Capshaw:p dan  memilih untuk bersikap konsisten terhadap apa yang gw janjikan kepada orang lain, bahkan berfikir untuk ketemu dan menjalin pertemanan dengan sang mantan.

DULU, hal-hal itu semuanya gak mungkin gw lakukan karena gw merasa terlalu takut bahwa kedekatan gw dengan orang lain hanya memberikan kesedihan dan rasa sakit. Kenyataannya, rasa sakit tetap ada karena orang begitu beragam, namun rasa bahagia ternyata juga hadir mengiringi jiwa yang lebih bebas ini. Sepertinya gw akan mulai berani untuk bertemu dengan orang-orang yang dekat melalui dunia maya namun begitu jauh dalam kehidupan nyata:D

Dan ini dia penuturan Judge Roberta yang diakhiri dengan kemenangan Maxine.

“To be honest, I wouldn’t be thrilled to hear that suzas voice every morning. But Mr. Emerson, when i was buying my house, I ask my real estate broker about privacy. And she said “oh, this is a quiet neighborhood. You wont have to worry about your neighbors getting all chummy or throwing block parties. People here like to keep to themselves.” She said that it’s a selling point. Something to drive the price higher. It’s a sad day when people go to court to stop their neighbors from singing…

.just a little bit about Jessica Capshaw.


Here we go, another obsession of mine, Jessica Capshaw. She is the daughter of actress and producer Kate Capshaw and Robert Capshaw. She is the stepdaughter of director Steven Spielberg. JCaps is now a series regular in Grey’s Anatomy. She was promoted in season 6 and has done a great job ever since. I am probably in love with her perky attitude and how this most cheerful little blonde on wheels, Arizona Robbins, made quite the affect on our SGH staff, Callie Torres in particular. Right from the start, I saw Arizona as a woman who was sweet and bubbly, but who was super hardcore when it came to her patients. Arizona was there to pull Callie out of her funk and bring her back to life. I have NEVER seen Callie this happy. Arizona brought such a positive spirit to the show by simply being in the room.

Photo Copyright: ABC Studio

Being in love with Arizona (I mean JCaps) made me trail back some of her acting careers in the past.  I found out that JCaps also take a role in The Practice -an American legal drama centering on the partners and associate at a Boston Law Firm.

The Practice focused on the law firm of Robert Donnell and Associates (later becoming Donnell, Young, Dole, & Frutt, and ultimately Young, Frutt, & Berluti). Plots typically featured the firm’s involvement in various high-profile criminal and civil cases that often mirror current events. Conflict between legal ethics and personal morality was a recurring theme. (Source: wikipedia)

So, I start watching The Practice to see her pre-grey’s-anatomy acting:) Surprisingly, The Practice has exceeded my expectations. Watching the show brings back the old memory of debate session with my fellow debater and coach.
I wish I knew this series during the hard-day-and-night of debate practice:)

Yaaaayy to Jessica Capshaw or Dr. Arizona Robbins!!!

Photo Copyright: ABC Studio

#JulyWish


Di Twitter banyak orang yang mengungkapkan doa dan permohonan mereka di setiap bulan yang akan datang. Karena ini adalah bulan Juli, maka banyak sekali topik #JulyWish yang muncul. Seiring perubahan bulan, maka akan muncul ‘wish(es)’ lainnya. #AugustWish #SeptemberWish, dsb

1 Juli 2010 saya awali dengan sebuah ketakutan terbesar. Hampir 3 hari sebelumnya saya sulit sekali untuk tidur. Entah sindrom apa yang melanda sehingga hal yang paling mampu membuat saya nyaman saja tidak bisa saya lakukan dengan nyenyak. Saya merasa sangat ‘fragile‘, sangat ‘vulnerbale‘, dan sangat ‘insecure‘.

Well, perasaan ‘insecure‘ sebenarnya lebih sering saya rasakan. Dulu bahkan saya berpikir bahwa cara untuk menghilangkan rasa ‘insecure‘ itu adalah dengan memiliki seorang pacar; seseorang yang akan selalu ada, meyakinkan saya bahwa saya berharga, saya spesial, saya berarti dan saya tidak perlu takut akan apapun tentang apa pemikiran orang lain terhadap saya, bahwa SAYA DICINTAI SEPENUH HATI. Tapi ternyata saya salah!

Menggantungkan diri pada manusia lain tidak menjadikan diri saya lebih baik. Malahan saya menjadi semakin ‘insecure‘.

Saya ingat pernah bercerita kepada seorang teman nun jauh di Amerika sana. Entah mengapa saya merasa nyaman sekali berbagi dengannya. Mungkin karena dia berteman dengan saya dan lelaki itu sebelum kami berdua akhirnya memutuskan untuk pacaran. Mungkin karena dia berada jauh di sana dan saya tidak perlu melihat ekspresi ‘aku-tahu-banyak-hal-tentang-kamu’ di wajahnya. Mungkin karena teman saya itu sudah menikah dan punya lebih banyak pengalaman untuk dibagi kepada saya. Atau mungkin karena dia adalah satu-satunya yang jauh diantara ‘circle-of-friends’ saya, lelaki itu dan teman-teman dekat saya yang ada di sini. Bila diibaratkan sebuah himpunan, dia berada di dalam himpunan semesta, namun bukan berada di dalam himpunan saya, lelaki itu ataupun teman-teman saya yang lain (ah, sulit sekali mengibaratkan dengan logika matematika:p). Dia dekat, namun jauh.

Saya ingat bercerita kepadanya tentang perasaan saya terhadap lelaki itu (sebuah ungkapan hati yang sulit sekali saya utarakan kepada teman lain, apalagi mengingat bagaimana hubungan saya dengan lelaki itu dimulai dengan sangat canggung). Kami berpacaran, namun lelaki itu seperti ingin menyimpan cerita ini berdua saja. Maka, untuk menghargainya dan dalam upaya menyalurkan keinginan saya berbagai kisah dengan teman lain, saya memilih untuk bercerita kepada teman yang berada jauh dari ‘circle-of-friend‘ kami, namun cukup dekat untuk tahu seperti apa saya dan lelaki itu.

Singkat cerita, saya berkata bahwa saya merasa sangat ‘insecure‘. Bahwa saya ‘memanfaatkan’ lelaki dan hubungan itu demi sebuah rasa ‘secure‘ yang saya kira akan saya dapatkan saat saya sudah tidak menjadi ‘single’ (baca: jomblo) lagi. Ah, ternyata pencarian saya tak menghasilkan. Semakin saya berhubungan dengannya, semakin kacau perasaan saya. Bukan hubungan seperti ini yang saya harapkan saat nanti saya memutuskan untuk ‘tie the knot‘ dengan seseorang.

Saya menginginkan sebuah hubungan yang dewasa-namun-kekanakan yang penuh dengan pengertian, kepercayaan, cemburu pada kadar yang tepat, rasa saling memahami kebutuhan satu sama lain, saling takut kehilangan -namun tidak sampai saling menjadikan diri kami bertindak seperti-bukan-diri-sendiri, mampu bertindak sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh pasangan dan beragam kriteria lain yang saya harapkan dari berhubungan dengan seseorang.

Ah, ingin sekali memiliki hubungan seperti yang diceritakan dalam cerita fiksinya WW. Betapa detil dan indahnya deskripsi yang ditulsikan hingga saya akhirnya tahu jenis hubungan seperti apa yang ingin saya miliki. (Saya tidak punya banyak pengalaman tentang pacaran. Menjadi awam tentang bagaimana membangun sebuah hubungan bukanlah sebuah hal yang menyenangkan dan membaca kisah tentang dinamika berhubungan bisa memberikan sedikit insight untuk saya).

“I am insecure and looking for someone who’s strong enough to stand still for us both. In fact, he’s also insecure of himself. So, how can I lay myself on him if that’s the situation? :(”

Itulah yang saya katakan ke teman saya melalui alat percakapan dunia maya. Ah, saya terlalu takut untuk menyadari bahwa kami memang tidak saling komplementer (sejak lama). Saya merasa takut terlempar kembali ke situasi sulitnya mencari pasangan dan merasa harus bisa mempertahankan apa yang saya miliki saat ini dan menjaganya sepenuh hati agar tidak terlepas dari tangan saya. Namun saat apa yang saya miliki ternyata tidak dapat memenuhi kebutuhan saya (dan dia) akan arti pentingnya memiliki pasangan dalam hidup, bagaimana hubungan ini bisa terus berjalan?

Lama sekali saya disadarkan bahwa semua perpisahan itu adalah sebuah hal yang baik untuk kami berdua. Lama sekali saya berusaha agar berhenti mengharapkannya. Berbulan-bulan saya menyakinkan diri saya bahwa saya adalah orang yang baik (dan dia adalah orang yang baik) namun kami bukanlah yang TERBAIK bila bersama.

Perlu waktu yang sangat panjang untuk membangun kepercayaan diri yang sangat rendah ini agar menyadari bahwa saya bukan ‘terbuang’, saya bukan ‘tidak berharga’, saya bukan ‘orang yang sangat tidak layak disayang’ saat saya harus kehilangan dia.

Ah, entah ini terjadi padamu atau tidak, bahwa saat kamu putus dengan orang yang kamu sayangi, satu-satunya yang ada di pikiran kamu tentang ALASAN KENAPA ITU TERJADI adalah ‘karena kamu tidak cukup berharga/baik untuk bersama dia’.

–o–

5 Juli 2010 dan saya merasa sangat senang. Saya tidak lagi merasakan semua ketakutan dan keresahan itu. Saya tahu bahwa saya bukanlah lagi seseorang yang ‘insecure‘ dan gila akan pengakuan tentang ‘betapa disayangnya’ saya.

Saya belajar dari kesalahan, saya belajar dari kekecewaan, saya belajar dari banyak orang yang menyakiti dan saya bertransformasi menjadi sosok yang lebih baik. Mungkin akan ada saatnya jalan saya menjadi gelap dan saya menjadi ketakutan serta semua rasa ‘insecure’ itu muncul kembali, namun saya yakin bahwa 25 tahun mempelajari kehidupan bukanlah waktu yang terlalu singkat untuk kembali berputus asa.

Saya tidak mau mendefiniskan kebahagiaan saya dari definisi orang lain atas saya. Terserah apa yang mereka pikirkan tentang saya, yang penting adalah usaha untuk terus menjadi orang yang baik, tanpa niat buruk terhadap orang lain.

Biarlah sang lelaki yang sudah saya tunggu itu datang tepat pada waktunya, pada saat saya siap untuk berkomitmen dengan dirinya.

Sementara itu, saya ingin menikmati dulu kesendirian ini bersama keluarga dan teman-teman saya.

Saya ingin mereguk kebahagaiaan dikelilingi oleh banyak orang yang spesial dalam hidup saya.

Walau kebahagiaan hari ini begitu melimpah hingga saya takut bahwa semua ini hanya sementara saja, walau kejutan hari ini begitu (mendekati) sempurna hingga ingin sekali saya simpan semua kenangan ini di sebuah kotak asal Belanda pemberian dari mbakyuku. Namun saya sadar bahwa semua ini memang hanya sementara dan semu. Hari dan tahun akan berganti, teman akan datang dan pergi, cerita baru akan terus tertulis, namun kenangan yang telah terbagi akan terus di hati.

Akan saya simpan semua SMS, telepon, dan posting pesan melalui wall FB serta mention nama saya di Twitter yang merupakan DOA-DOA TERINDAH dan TULUS yang semoga saja diridhoiNYA dan segera diijabah. Amiien

I’m SINGLE, (AVAILABLE), YET HAPPY GIRL :)

Happy Birthday, Annisa!!:)

(to be continued)

Photo Credit: Anggie

*repeatedly listen to Alicia Key’s Album ‘The Element Of Freedom”

The Seven Stages (via Owning Kristina)


This is an interesting blog post. I’ve written about my grief and loved to share more grief posting from different point of view.
I hope those who read this will enjoy it as much as I do:)
Thanks, Kristina^^

The Seven Stages Keep it to yourself When I was a kid, I was always told that if "you don't have anything nice to say, don't say anything at all," which has been my stance for the last week. I've said nothing; written nothing. Oh, I've thought about it—writing something clever or positive about how I got through the death of my 4-legged daughter—but I haven't yet, so how can I write about it? The fact of the matter is that I've been going through the motions of l … Read More

via Owning Kristina