.remotely alive.


If life had a remote control, I would PAUSE the beautiful moments, REWIND my mistakes, FASTFORWARD through the heartbreak, STOP the drama, PLAY the rest. (unknown)

Beberapa waktu belakangan ini, saya sering sekali ‘mengeluh’ tentang banyaknya remote yang ada di kamar; TV, DVD Player, MiniDocking, CableTV, Kipas Angin (yaa..kipas angin sekarang ada remote-nya:p). Sempat berkhayal untuk punya sebuah remote universal seperti yang dimiliki oleh Joe Kingman (Dwayne ‘The Rock’ Johnson) di film The Game Plan (#MimpiSiangBolong :p); cukup satu remote untuk mengoperasikan semua alat-alat tersebut secara jarak jauh.

Memikirkan remote, tiba-tiba saya merasa terasing sendiri. Bukan sebuah rahasia kalau saya cederung introvert, senang sekali menyendiri, menghabiskan waktu di kamar, hanya menonton dan tidur saja. Saya mungkin sengaja membuat sebuah batasan tak kasat mata dengan orang-orang di sekeliling saya. Membuat mereka enggan mendekat agar kesendirian saya tetap menjadi raja di hidup saya. Tidak ada kemungkinan privasi yang terganggu, tidak ada yang akan sok-ingin-tahu terhadap apa yang terjadi kepada saya, orang lain yang tiba-tiba datang memberikan nasehat karena merasa tahu tentang saya serta semua masalah saya. Hidup seringkali lebih aman tanpa intervensi orang lain.

At some point, you have to make a decision. Boundaries don’t keep other people out. They fence you in. Life is messy. That’s how we’re made. So, you can waste your lives drawing lines. Or you can live your life crossing them. But there are some lines… that are way too dangerous to cross. (Meredith Grey – Grey’s Anatomy)

Banyak tawaran ke luar pun cenderung saya tolak atau abaikan. Semua karena zona nyaman saya begitu sempit dan saya memang tidak berusaha lebih keras untuk melebarkan zona tersebut –ya karena saya sudah merasa nyaman dengan situasi ini.

Apakah kehidupan saya begitu ‘remote’ seperti banyaknya jumlah remote di kamar saya?

Remote control diciptakan untuk ‘mempermudah hidup’, membuat orang semakin malas dan terlena dengan segala kemudahan yang ditawarkan. Semakin luasnya kenyamanan yang dicoba ditimbulkan oleh alat ini, semakin mempersempit pilihan hiburan yang bisa didapatkan seseorang. (ya, semakin sempit karena lagi-lagi memilih menggunakan fungsi remote yang dimiliki -dan ada di depan mata- daripada mencari hiburan lain di luar)

Kalau bisa mendapatkan kesenangan melihat Dr. Callie Torres dan Dr. Arizona Robbins (ilove you, Calzona:)) di layar TV, untuk apa saya berlelah-lelah window-shopping di mall? Kalau sudah merasa sangat terhibur melihat ratusan ‘dunia buatan’ yang muncul di kotak berwarna hasil karya para sutradara hollywood, untuk apa lagi keluar rumah? Kalau nikmatnya tidur sudah dirasakan, untuk apalagi memaksakan jalan dan berkumpul demi sebuah titel ‘mahluk sosialita’, populer’ atau bahkan ‘anak gaul’?

(Ah, pernyataan itu adalah suara hati saya yang sedang dalam mode ‘autis‘)

Saya tahu banyak alasan kenapa berada di luar kamar adalah hal yang ‘sehat’ bagi jiwa dan raga. Saya pernah membaca informasi tentang pentingnya bersosialisasi dan berada di kerumunan. Saya sering dinasehati untuk tidak mengurung diri dan bergaul lebih banyak; mengenal indefinite karakter manusia dan membuka mata, cara pandang serta otak saya yang kecil (sempit) ini. Tapi sering kali jiwa melankolis dan penyendiri mendominasi karakter jiwa saya, mengorbankan kebutuhan jiwa lain untuk bersosialisasi dan berada di kerumunan.

Saya senang bisa berkumpul dengan orang lain, namun prosentase  kesenangan itu jauh lebih sedikit dibandingkan berada di kamar dengan semua remote control saya.

Sebegitu remote-kah (baca: terasing) kehidupan saya? Bagaimana mungkin saya bisa menemukan ragam kenyamanan lain bila saya menjadi terlalu nyaman dengan apa yang saya miliki saat ini? Bagaimana mungkin saya menemukan pendamping hidup dengan ketakutan berinteraksi dan berkumpul (terdengar aneh dan gak masuk akal yah?) seperti yang saya alami sekarang? (Ya, jodoh sudah diatur oleh Tuhan, namun dalam pengaturan yang indah itupun terselip sebuah syarat, USAHA. Berdiam diri di kamar bukanlah sebuah USAHA untuk mendekatkan jodoh kan?:p) Bagaimana saya bisa mempelajari keragaman dunia ini hanya dalam sebuah ruangan 4×4 meter di rumah? (Ya, televisi membawa berjuta gambaran tentang dunia, tapi semuanya palsu. Semuanya hanyalah kenyataan yang direkayasa).

(Nah, ini adalah pernyataan jiwa sosial dan waras saya yang mengiba untuk didengar)

Di akhir pemikiran #random saya hari ini, pertentangan itu masih saja terjadi; tentang apa yang INGIN dan apa yang HARUS saya lakukan. Ah, biarlah saja terus bertentangan. Ya, setidaknya saya mencoba memberikan kesempatan bagi akal sehat untuk berbicara keHARUSan daripada membiarkan diri saya terlena akan keINGINan demi keinginan lain. Menjadi tertutup atau menjadi terbuka adalah sebuah pilihan dengan kensekuensi nyata. Pilihan itu ada di tangan kita masing-masing.

At the end of the day, when it comes down to it, all we really want is to be close to somebody. So this thing, where we all keep our distance and pretend not to care about each other, is usually a load of bull. So we pick and choose who we want to remain close to, and once we’ve chosen those people, we tend to stick close by. No matter how much we hurt them, the people that are still with you at the end of the day – those are the ones worth keeping. And sure, sometimes close can be too close. But sometimes, that invasion of personal space, it can be exactly what you need. (Meredith GreyGrey’s Anatomy)

Ps. Terima kasih untuk semua remote di rumah yang sudah menginspirasi saya untuk menulis kembali (setelah sekian lama).
Repeatedly listen to: Swimming Pool by Freezepop.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s