.i am a loner.


Seorang rekan kerja -yang adalah CPNS baru di kantor sore ini tiba-tiba bertanya.

“Mba, emang gak sepi yah di ruangan sendirian?”

Pertanyaan sederhana ini tiba-tiba membawa saya ke sebuah ruang waktu dan sebuah refleksi diri sendiri.

Sejak saya diterima di Kementerian Perdagangan -hingga saat ini SK Menteri tentang Pengangkatan saya jadi PNS diterima- saya bekerja sebagai PA seorang pejabat Eselon II di BAPPEBTI. Sepertinya bukan sebuah alasan mengapa Bapak Ses terdahulu menempatkan saya di posisi ini. Sempat terdengar sampai ke telinga saya bahwa beliau menginginkan seorang PA yang cekatan, punya titel S1 dan mampu menyaingi jam kerjanyanya yang hampir tak kenal lelah itu.

Mungkin ada sebuah potensi di diri saya yang mampu sang Bapak lihat dan belum saya sadari karena sejujurnya saya sedikit kecewa di tempatkan di sini. (Pernah saya tulis di notes sebelumnya bahwa saya punya posisi sebagai Pranata Humas). Sayang beliau keburu dirotasi ke Unit kerja lain dan saya tidak punya kesempatan untuk membuktikan intuisinya itu.

Tapi semua ini kan tentu adalah jalan yang Tuhan berikan untuk saya. Saya yakin akan ada sebuah garis merah berupa hikmah yang mampu saya ambil di tengah perjalanan takdir saya di sini.

Saya coba menjalani semua sebaik-baiknya. Bertekad bahwa nilai seorang manusia bukanlah ditentukan dari seberapa remeh pekerjaan yang dilakukan. Seorang pejabat bukan berarti lebih ‘bernilai tinggi’ dibandingkan seorang PA kan? Bahkan seorang tukang ban di jalan atau pemulung mungkin lebih punya nilai di mata Tuhan dibandingkan saya yang adalah seorang pekerja kantoran. Karena saya percaya bahwa nilai sebuah perbuatan atau pekerjaan diukur dari keikhlasan dan tujuan dilakukannya pekerjaan tersebut, bukan dari seberapa remeh pekerjaan itu.

Ya, pekerjaan saya sangat remeh dan membosankan, hanya menulis surat, meneliti surat, memasukkan surat, mengantar surat. Banyak hal tentang surat adalah bagian dari pekerjaan rutin saya di kantor. Sebagai seseorang yang mudah sekali merasa bosan, jenis pekekerjaan ini bukanlah sebuah pilihan. Kalau bisa saya ibaratkan, menjadi PNS itu seperti ‘membeli kucing di dalam karung’. Kita gak bisa melihat seperti apa dan bagaimana, kita terjun mengikuti kontes bernama Penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil di Kementerian dan Lembaga tinggi lainnya karena tergiur segala kemapanan yang -katanya!- ditawarkan untuk semua PNS Republik Indonesia.

Setelah masuk di dalamnya, bahkan sebuah posisi yang tertulis di SK bisa berbeda 180 derajat dari kenyataan. Hal ini tidak hanya terjadi kepada saya sendiri, banyak teman lain pun mengeluhkan hal ini. Mungkin keluhan ini mrupakan bentuk kekecewaan. Kecewa karena harapan terlalu membumbung tinggi saat melamar menjadi seorang abdi negara. Namun seperti abdi-abdi lainnya, PNS juga hanya bisa tunduk pada kekuasaan yang berjalan. Kamu seorang lulusan Ilmu Komunikasi, jadilah saja seorang PA. Kenapa? Jawabannya sesingkat karena atasanmu menginginkan hal tersebut. Jangan berbantah-bantahan lagi! Inilah salah satu budaya yang saya yakini harus segera dikikis di lembaga negara. Right man on the right place bisa dinalari dengan berbagai macam hal dan semuanya berujung pada muara kekuasaan sang pejabat tinggi.

Dalam situasi ini, saya berpasrah. Mungkin terlihat lemah, tak berdaya, penuh kekecewaan dan tidak dapat berkembang. Tapi saya bertekad untuk menjadi seorang abdi bangsa yang bernilai tinggi. Saya menjalankan hari-hari saya dengan semangat. Menyelesaikan semuanya dengan efektif dan efisien, tidak menunda pekerjaan, memberikan pelayanan terbaik yang mampu saya berikan kepada atasan dan juga stakeholder dari kementerian ini, memberikan sapaan ramah untuk setiap telepon yang sering kali tidak berhenti berdering, melangkah dengan seyum dan sapaan hangat kepada semua satpam, OB, rekan kerja dan orang yang saya temui di lift, tempat parkir, ruangan. Saya belajar untuk menjadi seorang PNS profesional. Menempatkan diri saya ke dalam sebuah tolak ukur seorang pegawai swasta yang serba terukur dan terstandarisasi. Dan saya bangga karena saya menjalankan pekerjaan ‘kecil’ ini dengan sebuah standar diri yang tinggi.

Saya menulikan telinga dan menyabarkan hati saya dari segala kehebatan di luar tempat ini. Semua kemegahan yang dialami dan dimiliki oleh orang lain yang bukan saya.Ada rasa iri mendengar betapa hebat, ribet, canggih pekerjaan serta gaji mereka. Sebuah sisi manusiawi yang harus saya tundukkan. Kemudian saya membuat sebuah parameter nilai diri ini. Saya tidak mau menilai diri saya dari seberapa besar gaji yang saya dapat atau dari seberapa hebatnya pekerjaan yang dilakukan. Karena nilai saya bukanlah senilai dengan remehnya pekerjaan saya. Cara dan sikap saya dalam menjalankan pekerjaan inilah yang akan menjadi ukuran nilai diri saya. Dan saya akan berlomba untuk mendapatkan nilai tertinggi dengan tetap berbahagia karena saya jauh lebih beruntung dari kebanyakan orang di luar sana yang belum bisa mendapatkan kesempatan untuk bekerja dan memiliki gaji sendiri. Semua sudah diatur olehNya. Saya hanya tinggal menjalankan.

Dan jawaban saya terhadap sang rekan kerja adalah:

“Gak, saya menikmati sendiri di ruangan ini…”

Saya menyadari bahwa saya adalah isolated person, dan berada di saat ini, di posisi ini, melakukan pekrjaan ini adalah sebuah cara Tuhan untuk memberikan kenyamanan bagi saya yang penyendiri ini…

Terima kasih, Tuhan…

*sebuah refleksi dan inspirasi di hari pengukuhan diri diangkat menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil.
** repeatedly listen to And Then You by Greg Laswell

Advertisements

2 comments

  1. gita · June 20, 2010

    hohooo…lagi baca2 tulisannya kak anis..
    emang hebat bangetttt!!!!
    apapun bisa jadi inspirasi tulisan…
    keren bangettt kak…

    oppss,,,ada bisnis indonesia di mejanya..
    berita tulisan aku suka dibaca gak yah?
    hahahhahaaaa…..

    • Annisa F. Wulandari · June 21, 2010

      Hehe..ada igit :)
      Hmm..setiap hari bacaanku Bisnis Indonesia dan Investor Daily, git:)
      Makasiii sudah dibaca. Kamu malah lebih punya potensi menulis, klo aku sekedar hobi saja:)
      Klo suka bangettt dengan menulis, pasti milih jadi wartawan kayak kamu dibandingkan jadi PNS:p
      hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s