.about the talk and Grey’s Anatomy.


At the end of the day, there are some things you just can’t help but talk about. Some things we just don’t want to hear, and some things we say because we can’t be silent any longer. Some things are more than what you say, they’re what you do. Some things you say cause there’s no other choice. Some things you keep to yourself. And not too often, but every now and then, some things simply speak for themselves.” (Meredith Grey – Grey’s Anatomy)

Advertisements

.about pain and Grey’s Anatomy.


“Pain, you just have to ride it out, hope it goes away on its own, hope the wound that caused it heals. There are no solutions, no easy answers, you just breath deep and wait for it to subside. Most of the time pain can be managed but sometimes the pain gets you where you least expect it. Hits way below the belt and doesn’t let up. Pain, you just have to fight through, because the truth is you can’t outrun it and life always makes more. “(Meredith Grey – Grey’s Anatomy)

.about happiness and grey’s anatomy.


Season 6 Grey’s Anatomy adalah season yang paling berkesan buat gw. Mulai dari ribuan rasa tersiksa karena harus sabar menunggu tiap minggu untuk tiap episode barunya sampai ketegangan men-download episode tersebut yang memang tayang di ABC setiap hari Kamis jam 9 malam (Jumat pagi di Indonesia).

Setiap hari Jumat jam 10 pagi gw pasti akan buka google, mengeluarkan semua kata kunci untuk dapat link download episode terbaru Grey’s Anatomy. Thanks god, jalur informasi terbuka dengan sangat luas. Banyak orang di Amerika sana yang ternyata langsung upload video episode terbaru GA setelah ditonton.

Yang paling nyebeliin tuh saat video-nya terbagi ke dalam beberapa bagian. Errgh..harus sabar nunggu download-an part satu selesai sebelum bisa download part dua. I hate partial download. Makanya selalu cari single download link.
Setelah film selesai di-download, gak serta merta gw tonton juga sih. Soalnya gw perlu suasana yang enak untuk nonton. Gak pengen saat seru-serunya nonton, bos manggil, telepon berdering atau gangguan kecil lainnya.

Inilah salah satu episode paling ditunggu sama gw. Satu episode terakhir sebelum Season Finale.

Call me crazy or obsessed!! I am crazy and obsessed with Grey’s Anatomy. Mana gw penasaran banget sama kisahnya Callie dan Arizona. Gak bisa terima kalau mereka akhirnya putus gara-gara bayi:(( It breaks my heart:'( I wish they can patch things up…Big fans of Calzona in here!! LOL

Inilah sedikit quotes dari episode 22 ‘Shiny Happy People’. I love the narration!

It’s a common belief that positive thinking leads to a happier healthier life. As children we are told to smile, be cheerful, and put on a happy face. As adults we are told to look on the bright side, to make lemonade, and see glasses as half full. Sometimes reality can get in the way of our ability to act the happy part though. Youre hope can fail, boyfriends can cheat, friends can disappoint. It’s in these moments, when you just want to get real, drop the act, and be your true scared unhappy self.

Dan salah satu heart-breaking moment adalah saat di akhir episode. Antara Ben dan Bailey, Mark Lexie dan Alex serta Callie dan Arizona di elevator. I am crying… Mana backsound-nya pas bangett!! Andrew Belle – Make it without you.

Ask most people what they want out of life and the answer is simple – to be happy. Maybe it’s this expectation though of wanting to be happy that just keeps us from ever getting there. Maybe the more we try to will ourselves to state’s of bliss, the more confused we get – to the point where we don’t recognize ourselves. Instead we just keep smiling – trying to be the happy people we wish we were. Until it eventually hits us, it’s been there all along. Not in our dreams or our hopes but in the known, the comfortable, the familiar.

.about fear and grey’s anatomy.


A couple hundred years ago,Benjamin Franklin shared with the world the secret of his success –“never leave that till tomorrow,” he said, “what you can do today.” This is the man who discovered electricity.

You’d think more of us would listen to what he had to say. I don’t know why we put things off, but if I had to guess, I’d say it has a lot to do with fear –fear of failure, fear of pain, fear of rejection.

Sometimes, the fear is just of making a decision, because what if you’re wrong? What if you’re making a mistake you can’t undo? Whatever it is we’re afraid of, one thing holds true –if,  by the time the pain of not doing a thing gets worse than the fear of doing it, it can feel like we’re carrying around a giant tumor.

Taken from: http://mi2genius.wordpress.com/2008/03/23/greys-anatomy/

.about intimacy and grey’s anatomy.


“I wish there were a rule book for intimacy. Some kind of a guide that can tell you when you’ve crossed the line. It would be nice if you could see it coming. But I don’t know how you fit it on a map. You take it where you can get it and keep it as long as you can. And as for rules, maybe there are none. Maybe the rules of intimacy are something you have to define for yourself.”(Meredith Grey)

.about grief and grey’s anatomy.


fuckyeahgreysmcnatomy:  Grief may be a thing we all have in common. But, it looks different on  everyone. It isn’t just death we have to grieve. It’s life. It’s loss.  It’s change. And, when we wonder why it has to suck so much sometimes,  has to hurt so bad. The thing that we have to remember is that it can  turn on a dime. That’s how you stay alive. When it hurts so much you  can’t breathe. That’s how you survive. By remembering that one day,  somehow, impossibly, you won’t feel this way. It won’t hurt this much.  Grief comes in it’s own time for everyone. In it’s own way. So, the best  we can do, the best anyone can do is try for honesty. The really crappy  thing, the very worst part of grief, is that you can’t control it. The  best we can do is try to let ourselves feel it when it comes. And let it  go when we can. The very worst part, is that the minute you think  you’re past it, it starts all over again. And always, every time, it  takes your breath away.

Grief may be a thing we all have in common. But, it looks different on everyone. It isn’t just death we have to grieve. It’s life. It’s loss. It’s change. And, when we wonder why it has to suck so much sometimes, has to hurt so bad. The thing that we have to remember is that it can turn on a dime. That’s how you stay alive. When it hurts so much you can’t breathe. That’s how you survive. By remembering that one day, somehow, impossibly, you won’t feel this way. It won’t hurt this much. Grief comes in it’s own time for everyone. In it’s own way. So, the best we can do, the best anyone can do is try for honesty. The really crappy thing, the very worst part of grief, is that you can’t control it. The best we can do is try to let ourselves feel it when it comes. And let it go when we can. The very worst part, is that the minute you think you’re past it, it starts all over again. And always, every time, it takes your breath away.

taken from: http://fuckyeahcallietorres.tumblr.com/page/10

.i am a loner.


Seorang rekan kerja -yang adalah CPNS baru di kantor sore ini tiba-tiba bertanya.

“Mba, emang gak sepi yah di ruangan sendirian?”

Pertanyaan sederhana ini tiba-tiba membawa saya ke sebuah ruang waktu dan sebuah refleksi diri sendiri.

Sejak saya diterima di Kementerian Perdagangan -hingga saat ini SK Menteri tentang Pengangkatan saya jadi PNS diterima- saya bekerja sebagai PA seorang pejabat Eselon II di BAPPEBTI. Sepertinya bukan sebuah alasan mengapa Bapak Ses terdahulu menempatkan saya di posisi ini. Sempat terdengar sampai ke telinga saya bahwa beliau menginginkan seorang PA yang cekatan, punya titel S1 dan mampu menyaingi jam kerjanyanya yang hampir tak kenal lelah itu.

Mungkin ada sebuah potensi di diri saya yang mampu sang Bapak lihat dan belum saya sadari karena sejujurnya saya sedikit kecewa di tempatkan di sini. (Pernah saya tulis di notes sebelumnya bahwa saya punya posisi sebagai Pranata Humas). Sayang beliau keburu dirotasi ke Unit kerja lain dan saya tidak punya kesempatan untuk membuktikan intuisinya itu.

Tapi semua ini kan tentu adalah jalan yang Tuhan berikan untuk saya. Saya yakin akan ada sebuah garis merah berupa hikmah yang mampu saya ambil di tengah perjalanan takdir saya di sini.

Saya coba menjalani semua sebaik-baiknya. Bertekad bahwa nilai seorang manusia bukanlah ditentukan dari seberapa remeh pekerjaan yang dilakukan. Seorang pejabat bukan berarti lebih ‘bernilai tinggi’ dibandingkan seorang PA kan? Bahkan seorang tukang ban di jalan atau pemulung mungkin lebih punya nilai di mata Tuhan dibandingkan saya yang adalah seorang pekerja kantoran. Karena saya percaya bahwa nilai sebuah perbuatan atau pekerjaan diukur dari keikhlasan dan tujuan dilakukannya pekerjaan tersebut, bukan dari seberapa remeh pekerjaan itu.

Ya, pekerjaan saya sangat remeh dan membosankan, hanya menulis surat, meneliti surat, memasukkan surat, mengantar surat. Banyak hal tentang surat adalah bagian dari pekerjaan rutin saya di kantor. Sebagai seseorang yang mudah sekali merasa bosan, jenis pekekerjaan ini bukanlah sebuah pilihan. Kalau bisa saya ibaratkan, menjadi PNS itu seperti ‘membeli kucing di dalam karung’. Kita gak bisa melihat seperti apa dan bagaimana, kita terjun mengikuti kontes bernama Penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil di Kementerian dan Lembaga tinggi lainnya karena tergiur segala kemapanan yang -katanya!- ditawarkan untuk semua PNS Republik Indonesia.

Setelah masuk di dalamnya, bahkan sebuah posisi yang tertulis di SK bisa berbeda 180 derajat dari kenyataan. Hal ini tidak hanya terjadi kepada saya sendiri, banyak teman lain pun mengeluhkan hal ini. Mungkin keluhan ini mrupakan bentuk kekecewaan. Kecewa karena harapan terlalu membumbung tinggi saat melamar menjadi seorang abdi negara. Namun seperti abdi-abdi lainnya, PNS juga hanya bisa tunduk pada kekuasaan yang berjalan. Kamu seorang lulusan Ilmu Komunikasi, jadilah saja seorang PA. Kenapa? Jawabannya sesingkat karena atasanmu menginginkan hal tersebut. Jangan berbantah-bantahan lagi! Inilah salah satu budaya yang saya yakini harus segera dikikis di lembaga negara. Right man on the right place bisa dinalari dengan berbagai macam hal dan semuanya berujung pada muara kekuasaan sang pejabat tinggi.

Dalam situasi ini, saya berpasrah. Mungkin terlihat lemah, tak berdaya, penuh kekecewaan dan tidak dapat berkembang. Tapi saya bertekad untuk menjadi seorang abdi bangsa yang bernilai tinggi. Saya menjalankan hari-hari saya dengan semangat. Menyelesaikan semuanya dengan efektif dan efisien, tidak menunda pekerjaan, memberikan pelayanan terbaik yang mampu saya berikan kepada atasan dan juga stakeholder dari kementerian ini, memberikan sapaan ramah untuk setiap telepon yang sering kali tidak berhenti berdering, melangkah dengan seyum dan sapaan hangat kepada semua satpam, OB, rekan kerja dan orang yang saya temui di lift, tempat parkir, ruangan. Saya belajar untuk menjadi seorang PNS profesional. Menempatkan diri saya ke dalam sebuah tolak ukur seorang pegawai swasta yang serba terukur dan terstandarisasi. Dan saya bangga karena saya menjalankan pekerjaan ‘kecil’ ini dengan sebuah standar diri yang tinggi.

Saya menulikan telinga dan menyabarkan hati saya dari segala kehebatan di luar tempat ini. Semua kemegahan yang dialami dan dimiliki oleh orang lain yang bukan saya.Ada rasa iri mendengar betapa hebat, ribet, canggih pekerjaan serta gaji mereka. Sebuah sisi manusiawi yang harus saya tundukkan. Kemudian saya membuat sebuah parameter nilai diri ini. Saya tidak mau menilai diri saya dari seberapa besar gaji yang saya dapat atau dari seberapa hebatnya pekerjaan yang dilakukan. Karena nilai saya bukanlah senilai dengan remehnya pekerjaan saya. Cara dan sikap saya dalam menjalankan pekerjaan inilah yang akan menjadi ukuran nilai diri saya. Dan saya akan berlomba untuk mendapatkan nilai tertinggi dengan tetap berbahagia karena saya jauh lebih beruntung dari kebanyakan orang di luar sana yang belum bisa mendapatkan kesempatan untuk bekerja dan memiliki gaji sendiri. Semua sudah diatur olehNya. Saya hanya tinggal menjalankan.

Dan jawaban saya terhadap sang rekan kerja adalah:

“Gak, saya menikmati sendiri di ruangan ini…”

Saya menyadari bahwa saya adalah isolated person, dan berada di saat ini, di posisi ini, melakukan pekrjaan ini adalah sebuah cara Tuhan untuk memberikan kenyamanan bagi saya yang penyendiri ini…

Terima kasih, Tuhan…

*sebuah refleksi dan inspirasi di hari pengukuhan diri diangkat menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil.
** repeatedly listen to And Then You by Greg Laswell