.sekedar berbagi rasa.


Ada beberapa kisah cinta yang kudengar belakangan ini. Selain kisah cinta maya yang jadi nyata, ada pula cerita bahagia dua orang teman yang segera akan mengikat diri dalam janji setia.

Saya senang bertanya kepada banyak teman mengenai kisah bagaimana dua hati bisa berikrar untuk menghabiskan hidup bersama, banyak yang merasa malu bercerita, namun ada juga yang murah hati berbagi kisah indah mereka.

Ada kisah tentang hubungan yang terjalin sejak SMA, mengalami putus-nyambung berkali-kali, harus berhubungan jarak jauh, sampai-sampai masuk RS dan akhirnya menikah dan saat ini sedang mengandung buah cinta mereka, ada pula kisah pertemuan-pertemuan singkat nan berarti sehingga pada pertemuan ke-3 bahkan sudah mengajak orang tua untuk melamar sang wanita, atau kisah dimana sang wanita menunjukkan perasaan lebih dahulu melalui surat kaleng kepada sang pria pujaan dan ternyata berbalas manis. Walau sekarang jarak terbentang di antara mereka, namun keduanya mengarah ke sebuah hal yang memang diidamkan banyak pasangan di muka bumi; pernikahan.

Setelah berita pertunangan Riri dan Brandy, minggu lalu saya menghadiri pernikahan seorang teman baik yang saya kenal di kampus Sahid. Bukan kisah yang melulu mulus yang keduanya jalani untuk sampai pada pernikahan, namun ternyata sesulit apapun rintangan, saat takdir tuhan sudah berkehendak, maka tidak ada manusia yang mampu memutusnya. Selamat untuk pernikahannya, Non Elda dan Yuda.

Dan saat saya melihat kepada diri saya sendiri, melihat betapa jauhnya saya tertinggal dari teman-teman saya yang sudah menginjakkan kaki di sebuah fase lain dalam hidupnya, saya memandang ragu. Kalau boleh saya berbagi apa yang saya rasakan melalui tulisan ini, saya ingin bercerita betapa masih naifnya pemikiran saya mengenai apa artinya pendamping hidup.

Sejak dulu, saya banyak menyukai orang. Hampir semuanya tidak berbalas. Hanya satu -yang awalnya saya pikir membalas perasaan itu- dan ternyata bukan juga orang yang tepat yang selama ini saya cari.

Dalam pemikiran kanak-kanak saya, saya ingin seorang pria sebagai sebuah sosok yang mengangkat harga diri saya. Seseorang yang membuat saya terlihat keren. Seseorang yang membuat saya tidak lagi berpredikat ‘single’ dan membuat saya memiliki teman yang siap mendampingi saat jalan ke mall, nonton bioskop, bermalam mingguan, menghadiri pernikahan kawan.

Sungguh saya malu menjadi single! Gak jaman dulu, gak jaman sekarang, wanita single identik dengan ‘tidak laku’ atau ‘jelek’ (maaf, ini menurut kamus dan definisi saya yang -tampaknya- sangat sempit!).

Terserahlah kalau banyak yang bilang bahwa wanita single adalah wanita yang terlalu sibuk belajar, sibuk berkarir, sibuk mengurus berbagai macam hal kecuali mencari pendamping hidup. Tapi saya yakin, dalam hati pasti ada rasa miris bila sampai bertahun-tahun sendirian. Wanita, sekuat apapun, pasti membutuhkan tempat bersandar.

Sejak SMP, banyak saudara saya yang bertanya, “mana pacarnya, nis?” Dan saya hanya bisa tersipu karena memang tidak bisa menunjukkan sosok itu.

Berlanjut ke SMA, pertanyaan seputar itu terus saja ada. Rasanya seperti momok yang jahat dan menghantui. Dalam hati ini, saya ingin juga pamer kepada teman-teman dan keluarga besar bahwa saya memiliki pacar; punya gandengan:p Saya ingin seperti teman-teman saya yang lain. How weird I am for being single at this age!

Kalau dulu saat SMP, bapak dan ibuku bisa menjawab pertanyaan saudara-saudara yang usil dengan jawaban: “Biarlah Gak usah pacaran dulu, sekolah yang benar aja… Nanti kalau sudah saatnya juga datang sendiri…” dan selama bertahun-tahun jawaban ini selalu ‘dijual’ oleh orang tua saya kepada banyak orang yang bertanya, bahkan hingga usia saya yang hampir seperempat abad ini.

Bedanya, kata’belajar’ diganti kata ‘kerja’. Kerja dulu yang baik, menikmati masa muda, masa single, masa berbagi dan berbalas baudi terhadap jasa orang tua yang tidak akan pernah habis dan lunas kalau dihitung secara materi.

Kalau sebuah pertanyaan sesederhana “Apakah menjadi single merupakan sebuah pilihan hidup?” Maka jawaban saya adalah: “Tidak..saya tidak memilih untuk terus sendiri hingga usia saya ini, saya tidak gila kerja sampai lupa mencari pasangan dan saya tidak suka sekolah terus menerus sampai semua titel tertinggi saya capai. Saya menjadi single karena rupaya itu adalah pilihan terbaik dari Tuhan tentang hidup saya saat ini. Sekeras apapun saya berharap, rupanya kehendakNya belum seiring dengan harapan saya. Dan Dia lah Sang Maha Tahu.

Banyaknya cerita cinta bertaburan di sekeliling saya dan ternyata bukan kisah milik saya, membuat saya sampai pada sebuah pemikiran dan pemahaman yang lebih dalam. Saya bertanya kepada diri sendiri, “apakah yang sungguh-sungguh saya inginkan saat ini?“, “apa yang saya butuhkan untuk membuat perasaan saya lebih baik?, “doa mana yang harus Tuhan kabulkan agar saya merasa diri saya berharga di mata orang lain?

Apakah jawaban dari semua pertanyaan itu adalah kehadiran seorang pendamping hidup? atau apakah saya hanya sekedar menginginkan sebuah status ‘in relationship’ yang selama ini saya dambakan?

Pemahaman yang lebih dalam ini membawa sebuah pengertiaan baru bagi diri saya dan semuanya berujung pada pilihan mana yang ingin saya buat.

Saya tidak ingin nantinya memutuskan menikah karena lingkungan dan umur saya yang ‘memaksa’ untuk melepaskan status lajang. Saya tidak ingin menikah atas dasar keyakinan sesaat atau ketakutan disebut ‘perawan tua’. Saya ingin menikah bukan untuk membuat orang lain berfikir bahwa saya laku di pasaran. Saya ingin menikah bukan untuk kebanggaan dan kebahagiaan sesaat. Karena semua apa yang dipikirkan orang tidak akan lagi berarti dalam satu atau sepuluh tahun ke depan. Karena saya yang akan menjalani konsekwensi atas pilihan saya untuk menikah itu. Saya ingin berhenti mempertimbangkan pendapat dan omongan miring orang lain untuk menentukan jalan hidup saya. Saya ingin berhenti bertindak atas nama apa yang menurut kebanyakan orang lain adalah baik.

Dalam runtutan keinginan dan ke-aku-an ini, nyatanya saya memang tidak ingin terlalu terburu-buru menikah dan Tuhan tahu itu. Tahu bahkan sebelum hatiku bertanya-tanya dan sadar akan apa yang kuinginkan dalam hidupku.Dia Tahu!

Untuk semua orang yang sedang menanti datangnya seseorang-yang-tepat, yang berjuang setiap hari untuk tidak malu dengan predikat ‘jomblo’, yang berdoa setiap saat untuk segera dipertemukan dengan belahan jiwanya, yang terus berjalan-jalan atau makan sendirian, yang selalu mencari teman untuk nonton bioskop, yang bangun setiap hari dengan bertanya-tanya akankah dipertemukan dengan’nya’ hari ini, yang memiliki perasaan bahagia bercampur sedih melihat teman-teman yang sudah menemukan pasangan mereka, yang menebar cinta ke semesta untuk mendapatkan balasan, yang mencari-cari ‘chemistry’ dari setiap laki-laki yang ditemui, yang menginginkan seorang imam untuk memandu hidup, dan selalu tidur dalam tunduk harap yang sangat khusyuk agar di setiap pagi nanti ada seseorang yang tersenyum dan memeluk. Semoga Tuhan tidak bosan mendengar keluhan kita dan membawa pilihanNya di depan mata kita. Amien…

Advertisements

6 comments

  1. Priskila · January 27, 2011

    Wow…hanya itu yg bisa sy gambarkan…

    apa yg kamu tulis melukiskan semua isi hati yg sy sdg rasakan saat ini, tampaknya ada saatnya sy jg ingin berbagi cerita dgn dirimu yah, sesama PNS nih hehehehehe

    • Annisa F. Wulandari · January 28, 2011

      Hey, Priskila
      Salam kenal :)
      Terimakasih sudah main ke blog saya.
      Monggo berbagi cerita…
      PNS dimana, Pris?
      Sukses ya..

      • Priskila · January 31, 2011

        Hei..hei…
        Kapan yah bisa b’bagi ceritanya *mikir kpn n dimana yah

        Oia jarak gedung kantor sih gak jauh koq sebnrnya hehehehehe, mdh2an ada waktu bertemu nih…

        Sukses teruuuss :))

        • Annisa F. Wulandari · February 8, 2011

          Kantornya dimana, Pris? Kementerian Kelautan dan Perikanan?
          Kamu cerita aja di blog, nanti saya komentari :) hehe

  2. Eci · December 23, 2010

    Assalamualaikum Wr. Wb
    Terharu banget baca tulisannya, seperti membaca biografi diri sendiri. :-)

    • Annisa F. Wulandari · December 23, 2010

      Wa’alaikumsalam.
      Terimakasih sudah mau membaca:)
      Saya sendiri masih suka sedih kalau membaca tulisan sendiri.hihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s