.the fairytale is the reality.


“Don’t send email to me. Don’t text message me. Talk to me face-to-face” (Hechanova, Gina, 2010).

Hari Selasa lalu, aku diundang oleh Riri untuk bertemu dengan pasangannya. Seorang pria berkewarganegaraan Belgia yang dikenalnya melalui situs Facebook kurang lebih satu setengah tahun lalu karena mereka tergabung di sebuah Group yang sama. Lucu sekali takdir Tuhan bermain atas diri manusia. Aku sendiri gak menyangka bahwa posting demi posting, lontaran respon terhadap isu yang sama-sama menarik perhatian kedua insan beda belahan dunia itu mampu membawa sang pria Belgia datang ke Indonesia dan berencana bertemu orang tua Riri dan melamarnya. Sudah sering berita negatif tentang penculikan atau dibawa kabur karena tergoda ajakan orang yang yang hanya dikenal melalui teknologi mediasi ini. Saya sendiri merasa takut dan agak paranoid, sehingga mencoba membatasi diri dalam berhubungan melalui dunia maya *walau belakangan merasa sudah sangat mencandu dengan situs sosial dan bersosialisasi melalui dunia maya itu.

Selasa itu kebetulan bos saya pulang lebih cepat dari biasanya. Pukul 18.00 WIB supirnya sudah menenteng tasnya dan tidak lama sang Pejabat Eselon II di sebuah Kementerian itu keluar dan menyampaikan bahwa ada urusan di luar kantor yang harus beliau selesaikan. Maka, terbebaslah saya dari kewajiban pulang lebih malam. Kebetulan saya memang sudah ada janji bertemu mereka di Hotel Akmani di daerah Wahid Hasyim, persis di belakangan Sarinah tepat pukul 19.00 WIB.

Sesampainya di hotel, saya menunggu di lobby dan mata saya dengan mudah mengenali pasangan kulit putih dan sawo matang itu. Ada senyum sumringah di antara keduanya. Sama sekali tidak ada kekakuan ataupun sikap kikuk yang saya kira akan terjadi. Situasi ini membuat saya merasa nyaman berada di dekat mereka.

Saya mengenal Riri di sebuah event kejuaraan debat Bahasa Inggris Nasional beberapa tahun lalu. Kami mewakili almamater masing-masing. Gak pernah disangka perkenalan ala kadarnya itu mampu memberikan banyak sekali pengalaman buat saya. Pekerjaan pertama saya di Bali adalah hasil rekomendasinya. Suatu malam, saat saya sedang merenungi nasib menjadi seorang pengangguran lulusan universitas negeri di Jawa Tengah, dia menelepon.

Riri: “Nisa, lu mau gak kerjaan di Bali? Transport dan akomodasi di tanggung dan kerjanya fleksibel banget. Gajinya sih gak terlalu besar, tapi lumayan deh untuk fresh graduate kayak lu. Anggep aja jalan-jalan ke Bali…”
Aku: *terdiam sejenak, ini mungkin kerjaan yang gw tunggu-tunggu dan jawaban doa dari Tuhan
Riri: “Bagaimana?”
Aku: “Ok deh, berangkatnya kapan?”
Riri: “3 hari lagi”
Aku: “Hah? Serius tuh? Cepet banget…
Riri: “Mereka butuhnya cepat…”
Aku: “Ok, gw mau bilang sama orang tua gw dulu yah, tapi gw tertarik nih…”
Riri: “Ok… Kabarin secepatnya yah….”

Singkatnya, saat itu saya langsung berkonsultasi dengan orang tua saya dan ibu saya yang pertama kali mendukung ide pergi dari luar jawa ini. Tidak lama, Bapak pun mengiyakan. Esoknya saya diwawancarai dan dua hari kemudian saya sudah berada di Bali. Riri sendiri tidak ikut berangkat karena sedang menyelesaikan skripsinya. Dia satu tahun lebih muda dari saya.

Pekerjaan pertama saya diberikan oleh seorang teman yang saya kenal sepintas lalu di dalam sebuah event debat, namun ternyata pertemanan kami tidak hanya sepintas lalu saja. Banyak lagi tawaran dan kesempatan-kesempatan yang dia berikan kepada saya; menjadi juri lomba debat bahasa inggris di Sekolah Internasional di daerah Cibubur, jadi juri lomba debat di UNJ, bahkan menjadi Adjudicator Director di sebuah event debat nasional. Semuanya tawaran untuk melihat dunia baru yang tidak melulu hanya sebuah rumah tipe 36 yang aku tinggali bersama orangtua dan adikku. Jadi, banyak sekali rasa terima kasih saya untuk teman yang satu ini. Dia adalah seorang ‘head-hunter’ tak kentara yang tidak pelit membagi kesempatan dan rezeki kepada orang-orang di sekelilingnya.

Ketika sang pria merencanakan perjalanan ke Indonesia, dengan cepat Riri menginformasikan kabar tersebut kepada saya. Bahkan sudah mewanti-wanti untuk menyisihkan waktu untuk bertemu dengannya. *sok sibuk :D

Dan selasa lalu, akhirnya saya melihat mereka bergandengan tangan. Ah, mungkinkah pria itu adalah takdirnya? Mungkinkan laki-laki Belgia itu adalah pendamping dari pemilik jiwa unik, bebas, mandiri, berfikiran maju, dan cerdas itu?

Dalam waktu dekat, sang pria akan bertemu dengan keluarganya Riri, merencanakan pertunangan dan kedatangan Riri ke Belgia untuk bertemu keluarga sang Pria. Buat saya, ini seperti kisah dalam dongeng. Bagaimana mungkin hubungan melalui dunia maya, melalui alat bernama YM, Facebook, Webcam, Email, dan telepon mampu menyatukan dua insan yang sama-sama merindukan genapnya jiwa? Dan ternyata takdir Allah tidak akan bisa ditebak. Selalu saja banyak kejutan dan memang akan indah pada waktunya. Entah bagaimana lanjutan kisah ini, tapi semoga memang keduanya bisa merintangi perbedaan yang ada dan bersatu.

Terinspirasi kisah ini, saya sendiri jadi berkhayal hal yang sama. Bilakah teman saya bisa, mungkinkah tuhan juga punya skenario agak mirip untuk kisah cinta saya?

Saat ini saya sedang gandrung bermain UNO online; Permainan favorit saya sejak bangku kuliah. Dalam permainan itu saya akan bertemu dengan 3 orang lawan yang dipilih secara acak oleh komputer. Ada kolom kecil untuk melakukan percakapan dengan lawan dan setelah saya tanya dan ‘sok kenal’, saya jadi tahu bahwa mereka berasal dari Australia, Amerika, Meksiko, dan India. Dan ada satu orang yang tampak tertarik melihat foto saya di Facebook (UNO Online dikoneksikan melalui Facebook). Dia tiba-tiba mengajak berkenalan, bertanya nama, umur, status hubungan saya dan meminta berbicang melalui pesan singkat online. Wajahnya di foto sangat tampan. Tipikal pemain film India :)) Entah itu foto asli atau bukan :) Dia memulai pembicaraan dan bertanya banyak hal, sebaliknya saya tidak banyak bertanya dan merespon seperlunya. Dia minta saya ‘invite via web-cam’, tapi saya tolak. Saya takut sekali dan malah mulai mengambil jarak. ‘Siapa pula orang ini, mau ajak-ajak saya web cam?’ *saya aja gak pernah chat pakai webcam, ups..baru sekali doang, itupun sama teman dekat saya, Anggie :D dan kita di satu warnet yang sama *ketahuan gapteknya:)

Gagal sudah upaya menggaet pria beda negara. Tampaknya perkawinan lintas negara memang bukan untuk saya.

Saya sangat tidak berpengalaman dengan interaksi dengan orang baru melalui teknologi mediasi komputer ini. Dan dalam kasus tadi, saya terbukti tidak berani mencoba untuk membangun hubungan seperti ini. Tampaknya saya memang bermasalah dalam cara berhubungan dengan banyak laki-laki. Tak luwes rasanya. Kaku, kikuk dan terlihat sombong padahal tidak demikian. *kok jadi curhat pribadi?:p

Ada kisah yang mungkin nanti bisa saya bagi lagi. Tentang hubungan-TTM-melalui-telepon selama bertahun-tahun dengan seorang laki-laki yang adalah teman SD saya. Dan ketakutan saya untuk bertemu pula yang membuat hubungan ini tidak berjalan baik *untung saja gak jadi dekat, belakangan baru ketahuan kalau dia memang brengsek :D

*Gotta go now, my boss is off to Bogor and I can go home on time now. Yipppie.. Happy Friday, pipol…

**currently listening to I Finally Found Someone – Bryan Adams and Barbra Streisand.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s