.reality bites me.


Jarang banget momen menulis bisa datang mengampiri gw. Gw memang bukan penulis yang rajin dan cukup tekun untuk latihan nulis. Alasannya yah karena gw bukan seorang pengarang dan pengkhayal yang hebat. Butuh sebuah momen (yang kalau perlu sengaja diciptakan) untuk membuat tangan gw menuliskan berbagai macam kata yang tumpah di otak. Dan sejujurnya, saat ini gw gak dalam ‘mood’ menulis, ‘momen menulis’ itu sempat lewat beberapa kali; saat gw di atas motor, di tengah pembahasan saat workshop, dengar lagu di Ippo bahkan saat gw sedang terbaring di atas tempat tidur. Dan rada susah juga untuk minggirin motor sejenak untuk menulis, keluar ruangan workshop untuk menulis apa yang mengalir di otak bahkan bangun cepat dan membuka laptop dan online di FB untuk nulis di Notes.

Memang ada situasi khusus yang membuat gw ‘mau’ menulis. Misalnya, gw hanya mau nulis di Notes FB dan harus di layar notes-nya langsung (dan bukan di-word). Dan ini agak merepotkan karena rumah gw gak punya jalur nirkabel ataupun berkabel untuk online 24/7.

Dulu saat gw punya banyak waktu duduk di atas Patas 45 dalam perjalanan pulang Tangerang-Jakarta sepulang kuliah, gw punya banyak banget kesempatan merenung. It was my ‘me’ time. Baru gw sadari gw sangat merindukan masa-masa itu. Masa-masa uang gw cuma 15.000, masa hanya memikirkan kuliah, sudah memiliki pacar –dan tidak ribet dan resah menjomblo. Sebuah masa di tahun lalu yang dalam kesederhanannya ternyata menorehkan hal yang manis dan kurindukan. Udah lupa rasanya kalau gw pernah mengeluh lelahnya bolak-balik Jakarta-Tangerang, naik patas yang kumuh, panas dan jelek dan jauh dari kata ‘layak’, berdiri di sepanjang perjalanan karena ramainya penumpang. Dan seberapapun gw berharap untuk merasakan momen itu lagi, ternyata gw gak pernah merasakan hal tersebut.

Dulu gw berharap untuk berada di posisi gw saat ini; sudah mapan, punya gaji tiap bulan, kerja 8am-5pm, bisa membeli barang yang gw inginkan -padahal dulu gw gak pernah berfikir akan mampu membelinya, menjadi sibuk dengan dunia kerja -dan belakangan menjadi gentar dengan politik kantor yang sangat kentara, kotor dan kejam, bisa dinas ke luar kota, mengajak keluarga gw jalan-jalan dan menikmati kebebasan yang selayaknya gw dapatkan di usia menjelang 25 ini. I am no longer a girl, but I am not a women yet. I am stuck in the middle. They said this is the best year of my life. I am not committed (yet) to anyone; I am eligible to do anything under my conscience. Let alone all the other things

Dan saat ini, gw berharap untuk mundur sejenak. Meminta waktu memperlambat alurnya. Gw berharap memegang remote universal yang memiliki tombol RWD dan FFW seperti yang dimiliki Michael Newman (Adam Sandler) di film Click atau menjadi penjelajah waktu seperti Henry DeTamble (Eric Bana) di film Time Traveler’s Wife (diadaptasi dari Novel karya Audrey Niffeneger), bahkan ekstrimnya menjadi David Rice (hayden Christensen) di film Jumper. (well, menunjukkan betapa takutnya gw dengan komitmen dan mudahnya diri untuk berlari dari semua tanggang jawab gw pegang)

I am moving toward a higher stage now. But why I feel like I dont wanna move forward? I am stuck in my comfort zone. I want to be naive and be a younger me where I see things only in black and white; where I can still say NO to things I hate for I dont have to take other’s feeling in account; where I picture ALL people and label them as ‘Good Person’. But the reality bites me. As part of growing up, I need to deal with unfavorable situation, I have to compromise and be adaptive to survive and I can’t run or hide anymore for I am being so afraid with people’s judgment –something I dont even care in the past. I dont wanna lose myself!

Well, gw rasa ini adalah bagian dari fragmen hidup dan dinamika yang harus gw (dan semua orang) jalani, sejauh mana gw bisa bertahan dalam dunia yang tidak ideal ini. Pun memang tidak pernah ada yang ideal kan? Semoga gw tetap bisa menjaga kewarasan, akal sehat begitu juga dengan ketajaman perasaan dan sensitifitas diri dalam menjalani apa yang ada di depan gw. Gw gak mau kalah dalam hidup. Gw harus menjadi pemenang. Janise said, keep your chin up and see the brighter side, buckle up and put your best effort in every single things. I will live it to the fullest… *promise myself

*Repeatedly listening to Sia – Day Too Soon; Ingrid Michaelson – The Way I Am; Adele – Make You Feel My Love; James Morrison – Please Dont Stop The Rain; Howie Day – Colide; Tompi – Tak Pernah Setengah Hati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s