.sekedar berbagi rasa.


Ada beberapa kisah cinta yang kudengar belakangan ini. Selain kisah cinta maya yang jadi nyata, ada pula cerita bahagia dua orang teman yang segera akan mengikat diri dalam janji setia.

Saya senang bertanya kepada banyak teman mengenai kisah bagaimana dua hati bisa berikrar untuk menghabiskan hidup bersama, banyak yang merasa malu bercerita, namun ada juga yang murah hati berbagi kisah indah mereka.

Ada kisah tentang hubungan yang terjalin sejak SMA, mengalami putus-nyambung berkali-kali, harus berhubungan jarak jauh, sampai-sampai masuk RS dan akhirnya menikah dan saat ini sedang mengandung buah cinta mereka, ada pula kisah pertemuan-pertemuan singkat nan berarti sehingga pada pertemuan ke-3 bahkan sudah mengajak orang tua untuk melamar sang wanita, atau kisah dimana sang wanita menunjukkan perasaan lebih dahulu melalui surat kaleng kepada sang pria pujaan dan ternyata berbalas manis. Walau sekarang jarak terbentang di antara mereka, namun keduanya mengarah ke sebuah hal yang memang diidamkan banyak pasangan di muka bumi; pernikahan.

Setelah berita pertunangan Riri dan Brandy, minggu lalu saya menghadiri pernikahan seorang teman baik yang saya kenal di kampus Sahid. Bukan kisah yang melulu mulus yang keduanya jalani untuk sampai pada pernikahan, namun ternyata sesulit apapun rintangan, saat takdir tuhan sudah berkehendak, maka tidak ada manusia yang mampu memutusnya. Selamat untuk pernikahannya, Non Elda dan Yuda.

Dan saat saya melihat kepada diri saya sendiri, melihat betapa jauhnya saya tertinggal dari teman-teman saya yang sudah menginjakkan kaki di sebuah fase lain dalam hidupnya, saya memandang ragu. Kalau boleh saya berbagi apa yang saya rasakan melalui tulisan ini, saya ingin bercerita betapa masih naifnya pemikiran saya mengenai apa artinya pendamping hidup.

Sejak dulu, saya banyak menyukai orang. Hampir semuanya tidak berbalas. Hanya satu -yang awalnya saya pikir membalas perasaan itu- dan ternyata bukan juga orang yang tepat yang selama ini saya cari.

Dalam pemikiran kanak-kanak saya, saya ingin seorang pria sebagai sebuah sosok yang mengangkat harga diri saya. Seseorang yang membuat saya terlihat keren. Seseorang yang membuat saya tidak lagi berpredikat ‘single’ dan membuat saya memiliki teman yang siap mendampingi saat jalan ke mall, nonton bioskop, bermalam mingguan, menghadiri pernikahan kawan.

Sungguh saya malu menjadi single! Gak jaman dulu, gak jaman sekarang, wanita single identik dengan ‘tidak laku’ atau ‘jelek’ (maaf, ini menurut kamus dan definisi saya yang -tampaknya- sangat sempit!).

Terserahlah kalau banyak yang bilang bahwa wanita single adalah wanita yang terlalu sibuk belajar, sibuk berkarir, sibuk mengurus berbagai macam hal kecuali mencari pendamping hidup. Tapi saya yakin, dalam hati pasti ada rasa miris bila sampai bertahun-tahun sendirian. Wanita, sekuat apapun, pasti membutuhkan tempat bersandar.

Sejak SMP, banyak saudara saya yang bertanya, “mana pacarnya, nis?” Dan saya hanya bisa tersipu karena memang tidak bisa menunjukkan sosok itu.

Berlanjut ke SMA, pertanyaan seputar itu terus saja ada. Rasanya seperti momok yang jahat dan menghantui. Dalam hati ini, saya ingin juga pamer kepada teman-teman dan keluarga besar bahwa saya memiliki pacar; punya gandengan:p Saya ingin seperti teman-teman saya yang lain. How weird I am for being single at this age!

Kalau dulu saat SMP, bapak dan ibuku bisa menjawab pertanyaan saudara-saudara yang usil dengan jawaban: “Biarlah Gak usah pacaran dulu, sekolah yang benar aja… Nanti kalau sudah saatnya juga datang sendiri…” dan selama bertahun-tahun jawaban ini selalu ‘dijual’ oleh orang tua saya kepada banyak orang yang bertanya, bahkan hingga usia saya yang hampir seperempat abad ini.

Bedanya, kata’belajar’ diganti kata ‘kerja’. Kerja dulu yang baik, menikmati masa muda, masa single, masa berbagi dan berbalas baudi terhadap jasa orang tua yang tidak akan pernah habis dan lunas kalau dihitung secara materi.

Kalau sebuah pertanyaan sesederhana “Apakah menjadi single merupakan sebuah pilihan hidup?” Maka jawaban saya adalah: “Tidak..saya tidak memilih untuk terus sendiri hingga usia saya ini, saya tidak gila kerja sampai lupa mencari pasangan dan saya tidak suka sekolah terus menerus sampai semua titel tertinggi saya capai. Saya menjadi single karena rupaya itu adalah pilihan terbaik dari Tuhan tentang hidup saya saat ini. Sekeras apapun saya berharap, rupanya kehendakNya belum seiring dengan harapan saya. Dan Dia lah Sang Maha Tahu.

Banyaknya cerita cinta bertaburan di sekeliling saya dan ternyata bukan kisah milik saya, membuat saya sampai pada sebuah pemikiran dan pemahaman yang lebih dalam. Saya bertanya kepada diri sendiri, “apakah yang sungguh-sungguh saya inginkan saat ini?“, “apa yang saya butuhkan untuk membuat perasaan saya lebih baik?, “doa mana yang harus Tuhan kabulkan agar saya merasa diri saya berharga di mata orang lain?

Apakah jawaban dari semua pertanyaan itu adalah kehadiran seorang pendamping hidup? atau apakah saya hanya sekedar menginginkan sebuah status ‘in relationship’ yang selama ini saya dambakan?

Pemahaman yang lebih dalam ini membawa sebuah pengertiaan baru bagi diri saya dan semuanya berujung pada pilihan mana yang ingin saya buat.

Saya tidak ingin nantinya memutuskan menikah karena lingkungan dan umur saya yang ‘memaksa’ untuk melepaskan status lajang. Saya tidak ingin menikah atas dasar keyakinan sesaat atau ketakutan disebut ‘perawan tua’. Saya ingin menikah bukan untuk membuat orang lain berfikir bahwa saya laku di pasaran. Saya ingin menikah bukan untuk kebanggaan dan kebahagiaan sesaat. Karena semua apa yang dipikirkan orang tidak akan lagi berarti dalam satu atau sepuluh tahun ke depan. Karena saya yang akan menjalani konsekwensi atas pilihan saya untuk menikah itu. Saya ingin berhenti mempertimbangkan pendapat dan omongan miring orang lain untuk menentukan jalan hidup saya. Saya ingin berhenti bertindak atas nama apa yang menurut kebanyakan orang lain adalah baik.

Dalam runtutan keinginan dan ke-aku-an ini, nyatanya saya memang tidak ingin terlalu terburu-buru menikah dan Tuhan tahu itu. Tahu bahkan sebelum hatiku bertanya-tanya dan sadar akan apa yang kuinginkan dalam hidupku.Dia Tahu!

Untuk semua orang yang sedang menanti datangnya seseorang-yang-tepat, yang berjuang setiap hari untuk tidak malu dengan predikat ‘jomblo’, yang berdoa setiap saat untuk segera dipertemukan dengan belahan jiwanya, yang terus berjalan-jalan atau makan sendirian, yang selalu mencari teman untuk nonton bioskop, yang bangun setiap hari dengan bertanya-tanya akankah dipertemukan dengan’nya’ hari ini, yang memiliki perasaan bahagia bercampur sedih melihat teman-teman yang sudah menemukan pasangan mereka, yang menebar cinta ke semesta untuk mendapatkan balasan, yang mencari-cari ‘chemistry’ dari setiap laki-laki yang ditemui, yang menginginkan seorang imam untuk memandu hidup, dan selalu tidur dalam tunduk harap yang sangat khusyuk agar di setiap pagi nanti ada seseorang yang tersenyum dan memeluk. Semoga Tuhan tidak bosan mendengar keluhan kita dan membawa pilihanNya di depan mata kita. Amien…

Advertisements

.who is eric martin?


Pagi ini saya merasa bosan banget. Kalau rasa jenuh sudah menyerang, rasanya perlu merubah beberapa hal rutin yang biasa dilakoni, perlu mengganti kaca mata yang kerap digunakan, dan perlu mengganti susunan playlist di komputer agar rasa negatif itu segera kabur dari diri ini.

Akhirnya saya menyalakan YM dan melihat banyak sekali daftar teman yang sudah online pagi ini, saya langsung nge-buzz salah satunya -seorang teman yang saya yakini punya banyak banget koleksi musik bagus dan berharap bahwa lagu pilihannya bisa mengangkat mood dan membuka semangat baru.

Isi pesan saya singkat banget, cuma minta dia rekomendasiin seorang penyanyi yang lagunya enak di dengar karena daftar lagu di pemutar audio saya sudah terlalu sering diputar dan perlu diperbarui.

sang teman sudah pandai membaca jenis lagu-lagu favorit saya. Tidak lama, dia meluangkan sedikit dari waktu sibuknya untuk mengirimkan dua album lagu melalui gmail. Entah apakah karena lagu-lagu pilihannya memang bagus atau karena memang saya suka dia yang mengirimkan lagu itu, tapi semua lagu yang dia rekomendasikan pasti membuat saya tergila-gila dan jadi seperti orang (maaf!) ‘autis’ yang membuat saya sering berada di mode repeat track: on (baca: terus menerus memutar lagu itu dari waktu ke waktu hingga saya puas).

Kali ini, lagu pilihannya adalah ERIC MARTIN. Sumpah, saat dia bilang “Kalau Eric Martin bagaimana?”, saya cuma bisa senyum sendiri di ruangan dan berfikir siapakah penyanyi itu. Isi pesannya yang singkat tentang album Mr. Vocalist 1 dan Mr. Vocalist 2-pun sama sekali tidak membangkitkan memori apapun di otak saya. Saya buta tentang siapakah Eric Martin itu. Siapakah dia??

Tumpukan tugas membuat tangan saya terlalu sibuk untuk bertanya kepada mr. google. Saya tinggalkan laptop saya yang hanya memutar satu track Cant Help Falling in Love-nya versi Ingrid Michaelson. Setelah sekian lama, ada tanda kedap-kedip di layar baby Leno, saat saya klik, terbaca “Done..Please check your gmail”.

Akhirnya lagu yang saya tunggu datang juga. Saya unduh 23 tracks itu dengan cepat (oh..how I love gmail). Ada sedikit informasi yang dikirimkan seiring dengan email sang teman: *Entah dia memang tahu/ tidak bahwa saya benar-benar tidak tahu siapa itu Eric Martin:p

Mr. Vocalist 1 (2008) and 2 (2009)

In early 2008, Eric was approached by Sony Japan to do a project wherein Eric would cover (translated) famous Japanese Ballads sung by women. The album, entitled “Mr. Vocalist”, was released in November 2008 and topped the charts of several cities in Japan; it was also the number-one seller in several online record stores. The album would include ballads such as “I Believe” by Ayaka and “Yuki No Hana” by Mika Nakashima.

Seeing the success of “Mr. Vocalist”, Sony Japan opted to follow it up with another one. “Mr. Vocalist 2” was unique from the first because all the songs included in it were famous international ballads, and were voted in by fans either through the internet or through mobile phone. Eric and Sony Japan lined up about 30 international ballads sung by women, such as “Hero” by Mariah Carey and “Eternal Flame” by the Bangles.The top 12 songs were taken from the list and were covered by Eric and Sony Japan’s team of top musicians. The resulting album was released on March 4, 2009, and topped the charts all over Japan at its debut. For months, it continued to move along the top five albums in Japan.

Setelah semua lagu selesai diunduh, saya mulai mendengarkan satu per satu lagu Eric Martin. Pertama kali mendengar, kok familiar sekali suaranya. Hm, tiba-tiba terlintas suara vokalis-nya Mr. Big menyanyikan lagu To Be With You. Errgh…silly me… Eric Martin ternyata memang adalah vokalisnya Mr. Big:p

Saya suka lagu-lagu Jepang yang dinyanyikan dalam versi Bahasa Inggris di album Mr. Vocalist. Ini daftar track-nya: Album Mr. Vocalist (2008) —> hampir semuanya yang ada di album ini adalah favorit saya ^^

1. Pride

2. Hanamizuki

3. You Were Mine

4. Everything

5. Precious

6. Time Goes By

7. M

8. I Believe

9. Yuki No Hana

10. Voice-“Jupiter” English Version-

11. Love Love Love -English Version-

Album Mr. Vocalist 2 (2009)

1. Hero

2. No one

3. Time after time

. My heart will go on

5. There you’ll be

6. Beautiful (cita rasa baru lagu ini dinyanyiin cowok:D)

7. Superstar

8. Eternal flame (suka…sukaaa..suka sekali versi ini :))

9. I will always love you (gw lebih suka sama versi aslinya Whitney Houston:D Tapi kyknya si kecil Connie Talbot pernah nyanyiin juga deh…)

10. Unbreak my heart (lagunya Toni Braxton jadi berasa slow rock gitu:))

11. You’ve got a friend (hmm, lagu ini punya banyak versi sih, mulai dari versi Brand New Heavies , James Taylor, Carole King, bahkan Eric Martin, tapi gw ternyata lebih suka versinya McFly -telinga gw boys band bangettt!!:p)

12. Amazing grace

Yang lainnya dikomentari sendiri yah. Pasti tiap orang punya ‘taste’ yang berbeda :)

Terimakasih untuk kiriman lagunya *two thumbs up. Jangan bosan-bosan direpotkan yah, om ^^

PS. Kalau ada yang mau dengar juga, kirim alamat gmail aja, nanti dikirimkan deh. Atau bisa juga diunduh di sini *semoga gak terjerat UU ITE :p LOL

Film Review: Gracie’s Choice


Gw baru aja nonton DVD judulnya Gracie’s Choice- A Love Story. Salah satu kisah nyata yang diangkat dari artikel yang dimuat di Reader’s Digest.

Kisahnya ‘menyentuh’ banget. Sebuah keluarga yang sangat kacau, terdiri dari lima orang anak dan seorang ibu. Semunya dihasilkan dari ayah yang berbeda-beda. For all these time, mereka selalu berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya, tidur di van, mobil, sewa rumah, terus menerus lari dari polisi karena ibunya adalah drugs+alcohol addict.

Pada akhirnya, Gracie rela mempertahankan adik-adiknya (ada yang mengalami masalah hyperactive dan kesulitan bicara)  dan tinggal mandiri bersama mereka, merelakan waktu santainya untuk kerja part-time, menjemput adik-adiknya di sekolah, bolak-balik pengadilan dan bertemu social worker yang mengurus haknya untuk mengasuh adik-adiknya. Bahkan akhirnya rela ninggalin cowok yang sayang banget sama dia demi tetap terus menjaga adik-adiknya.

Those are Gracie’s Choices. In the end of the film, Gracie berhadapan dengan Ibunya dalam sidang untuk memutuskan apakah permohonan Gracie untuk mengadopsi adik-adiknya diterima atau tidak. Ibunya (lagi-lagi!) mencoba menarik hati mereka untuk terus-menerus memaafkannya, berjanji bahwa semuanya akan lebih baik, serta tekadnya untuk tidak mengulangi kesalahan yang dulu. Tapi, semuanya sudah terlambat. Seluruh adiknya memilih untuk tinggal dengan Gracie karena mereka selama ini merasa bahwa Gracie lah yang selalu menjaga, memberi perhatian dan merawat sejak kecil. Hal-hal yang seharusnya seorang ibu lakukan terhadap anak-anaknya.

Dalam kehidupan saat ini, Gracie telah menyelesaikan kuliahnya dengan GPA 3.9. Adik-adiknya juga menjadi lebih baik, kembali bersekolah dan tidak lagi berpindah-pindah.

Ini adalah cerita sederhana yang sempet ngebuat gw sedih, merenung, bahagia, terinspirasi dan berbagai sensasi lainnya.

Above all, I should be grateful for what I have now. Life isn’t that harsh for me yet. But, I will always try to survive…

Directed by: Peter Werner

Produced by: Kenny Golde

Written by: Joyce Eliason

Starring: Kristen Bell, Diane Ladd, Shedrack Anderson III, Anne Heche, Roberta Maxwell, Kristin Fairlie

Music by: Richard Marvin

Cinematography: Neil Roach

Editing by: Martin Nicholson

Distributed by: Warner Home Video Inc

Release date(s): 2004

Running time: 91 min

.the fairytale is the reality.


“Don’t send email to me. Don’t text message me. Talk to me face-to-face” (Hechanova, Gina, 2010).

Hari Selasa lalu, aku diundang oleh Riri untuk bertemu dengan pasangannya. Seorang pria berkewarganegaraan Belgia yang dikenalnya melalui situs Facebook kurang lebih satu setengah tahun lalu karena mereka tergabung di sebuah Group yang sama. Lucu sekali takdir Tuhan bermain atas diri manusia. Aku sendiri gak menyangka bahwa posting demi posting, lontaran respon terhadap isu yang sama-sama menarik perhatian kedua insan beda belahan dunia itu mampu membawa sang pria Belgia datang ke Indonesia dan berencana bertemu orang tua Riri dan melamarnya. Sudah sering berita negatif tentang penculikan atau dibawa kabur karena tergoda ajakan orang yang yang hanya dikenal melalui teknologi mediasi ini. Saya sendiri merasa takut dan agak paranoid, sehingga mencoba membatasi diri dalam berhubungan melalui dunia maya *walau belakangan merasa sudah sangat mencandu dengan situs sosial dan bersosialisasi melalui dunia maya itu.

Selasa itu kebetulan bos saya pulang lebih cepat dari biasanya. Pukul 18.00 WIB supirnya sudah menenteng tasnya dan tidak lama sang Pejabat Eselon II di sebuah Kementerian itu keluar dan menyampaikan bahwa ada urusan di luar kantor yang harus beliau selesaikan. Maka, terbebaslah saya dari kewajiban pulang lebih malam. Kebetulan saya memang sudah ada janji bertemu mereka di Hotel Akmani di daerah Wahid Hasyim, persis di belakangan Sarinah tepat pukul 19.00 WIB.

Sesampainya di hotel, saya menunggu di lobby dan mata saya dengan mudah mengenali pasangan kulit putih dan sawo matang itu. Ada senyum sumringah di antara keduanya. Sama sekali tidak ada kekakuan ataupun sikap kikuk yang saya kira akan terjadi. Situasi ini membuat saya merasa nyaman berada di dekat mereka.

Saya mengenal Riri di sebuah event kejuaraan debat Bahasa Inggris Nasional beberapa tahun lalu. Kami mewakili almamater masing-masing. Gak pernah disangka perkenalan ala kadarnya itu mampu memberikan banyak sekali pengalaman buat saya. Pekerjaan pertama saya di Bali adalah hasil rekomendasinya. Suatu malam, saat saya sedang merenungi nasib menjadi seorang pengangguran lulusan universitas negeri di Jawa Tengah, dia menelepon.

Riri: “Nisa, lu mau gak kerjaan di Bali? Transport dan akomodasi di tanggung dan kerjanya fleksibel banget. Gajinya sih gak terlalu besar, tapi lumayan deh untuk fresh graduate kayak lu. Anggep aja jalan-jalan ke Bali…”
Aku: *terdiam sejenak, ini mungkin kerjaan yang gw tunggu-tunggu dan jawaban doa dari Tuhan
Riri: “Bagaimana?”
Aku: “Ok deh, berangkatnya kapan?”
Riri: “3 hari lagi”
Aku: “Hah? Serius tuh? Cepet banget…
Riri: “Mereka butuhnya cepat…”
Aku: “Ok, gw mau bilang sama orang tua gw dulu yah, tapi gw tertarik nih…”
Riri: “Ok… Kabarin secepatnya yah….”

Singkatnya, saat itu saya langsung berkonsultasi dengan orang tua saya dan ibu saya yang pertama kali mendukung ide pergi dari luar jawa ini. Tidak lama, Bapak pun mengiyakan. Esoknya saya diwawancarai dan dua hari kemudian saya sudah berada di Bali. Riri sendiri tidak ikut berangkat karena sedang menyelesaikan skripsinya. Dia satu tahun lebih muda dari saya.

Pekerjaan pertama saya diberikan oleh seorang teman yang saya kenal sepintas lalu di dalam sebuah event debat, namun ternyata pertemanan kami tidak hanya sepintas lalu saja. Banyak lagi tawaran dan kesempatan-kesempatan yang dia berikan kepada saya; menjadi juri lomba debat bahasa inggris di Sekolah Internasional di daerah Cibubur, jadi juri lomba debat di UNJ, bahkan menjadi Adjudicator Director di sebuah event debat nasional. Semuanya tawaran untuk melihat dunia baru yang tidak melulu hanya sebuah rumah tipe 36 yang aku tinggali bersama orangtua dan adikku. Jadi, banyak sekali rasa terima kasih saya untuk teman yang satu ini. Dia adalah seorang ‘head-hunter’ tak kentara yang tidak pelit membagi kesempatan dan rezeki kepada orang-orang di sekelilingnya.

Ketika sang pria merencanakan perjalanan ke Indonesia, dengan cepat Riri menginformasikan kabar tersebut kepada saya. Bahkan sudah mewanti-wanti untuk menyisihkan waktu untuk bertemu dengannya. *sok sibuk :D

Dan selasa lalu, akhirnya saya melihat mereka bergandengan tangan. Ah, mungkinkah pria itu adalah takdirnya? Mungkinkan laki-laki Belgia itu adalah pendamping dari pemilik jiwa unik, bebas, mandiri, berfikiran maju, dan cerdas itu?

Dalam waktu dekat, sang pria akan bertemu dengan keluarganya Riri, merencanakan pertunangan dan kedatangan Riri ke Belgia untuk bertemu keluarga sang Pria. Buat saya, ini seperti kisah dalam dongeng. Bagaimana mungkin hubungan melalui dunia maya, melalui alat bernama YM, Facebook, Webcam, Email, dan telepon mampu menyatukan dua insan yang sama-sama merindukan genapnya jiwa? Dan ternyata takdir Allah tidak akan bisa ditebak. Selalu saja banyak kejutan dan memang akan indah pada waktunya. Entah bagaimana lanjutan kisah ini, tapi semoga memang keduanya bisa merintangi perbedaan yang ada dan bersatu.

Terinspirasi kisah ini, saya sendiri jadi berkhayal hal yang sama. Bilakah teman saya bisa, mungkinkah tuhan juga punya skenario agak mirip untuk kisah cinta saya?

Saat ini saya sedang gandrung bermain UNO online; Permainan favorit saya sejak bangku kuliah. Dalam permainan itu saya akan bertemu dengan 3 orang lawan yang dipilih secara acak oleh komputer. Ada kolom kecil untuk melakukan percakapan dengan lawan dan setelah saya tanya dan ‘sok kenal’, saya jadi tahu bahwa mereka berasal dari Australia, Amerika, Meksiko, dan India. Dan ada satu orang yang tampak tertarik melihat foto saya di Facebook (UNO Online dikoneksikan melalui Facebook). Dia tiba-tiba mengajak berkenalan, bertanya nama, umur, status hubungan saya dan meminta berbicang melalui pesan singkat online. Wajahnya di foto sangat tampan. Tipikal pemain film India :)) Entah itu foto asli atau bukan :) Dia memulai pembicaraan dan bertanya banyak hal, sebaliknya saya tidak banyak bertanya dan merespon seperlunya. Dia minta saya ‘invite via web-cam’, tapi saya tolak. Saya takut sekali dan malah mulai mengambil jarak. ‘Siapa pula orang ini, mau ajak-ajak saya web cam?’ *saya aja gak pernah chat pakai webcam, ups..baru sekali doang, itupun sama teman dekat saya, Anggie :D dan kita di satu warnet yang sama *ketahuan gapteknya:)

Gagal sudah upaya menggaet pria beda negara. Tampaknya perkawinan lintas negara memang bukan untuk saya.

Saya sangat tidak berpengalaman dengan interaksi dengan orang baru melalui teknologi mediasi komputer ini. Dan dalam kasus tadi, saya terbukti tidak berani mencoba untuk membangun hubungan seperti ini. Tampaknya saya memang bermasalah dalam cara berhubungan dengan banyak laki-laki. Tak luwes rasanya. Kaku, kikuk dan terlihat sombong padahal tidak demikian. *kok jadi curhat pribadi?:p

Ada kisah yang mungkin nanti bisa saya bagi lagi. Tentang hubungan-TTM-melalui-telepon selama bertahun-tahun dengan seorang laki-laki yang adalah teman SD saya. Dan ketakutan saya untuk bertemu pula yang membuat hubungan ini tidak berjalan baik *untung saja gak jadi dekat, belakangan baru ketahuan kalau dia memang brengsek :D

*Gotta go now, my boss is off to Bogor and I can go home on time now. Yipppie.. Happy Friday, pipol…

**currently listening to I Finally Found Someone – Bryan Adams and Barbra Streisand.

.reality bites me.


Jarang banget momen menulis bisa datang mengampiri gw. Gw memang bukan penulis yang rajin dan cukup tekun untuk latihan nulis. Alasannya yah karena gw bukan seorang pengarang dan pengkhayal yang hebat. Butuh sebuah momen (yang kalau perlu sengaja diciptakan) untuk membuat tangan gw menuliskan berbagai macam kata yang tumpah di otak. Dan sejujurnya, saat ini gw gak dalam ‘mood’ menulis, ‘momen menulis’ itu sempat lewat beberapa kali; saat gw di atas motor, di tengah pembahasan saat workshop, dengar lagu di Ippo bahkan saat gw sedang terbaring di atas tempat tidur. Dan rada susah juga untuk minggirin motor sejenak untuk menulis, keluar ruangan workshop untuk menulis apa yang mengalir di otak bahkan bangun cepat dan membuka laptop dan online di FB untuk nulis di Notes.

Memang ada situasi khusus yang membuat gw ‘mau’ menulis. Misalnya, gw hanya mau nulis di Notes FB dan harus di layar notes-nya langsung (dan bukan di-word). Dan ini agak merepotkan karena rumah gw gak punya jalur nirkabel ataupun berkabel untuk online 24/7.

Dulu saat gw punya banyak waktu duduk di atas Patas 45 dalam perjalanan pulang Tangerang-Jakarta sepulang kuliah, gw punya banyak banget kesempatan merenung. It was my ‘me’ time. Baru gw sadari gw sangat merindukan masa-masa itu. Masa-masa uang gw cuma 15.000, masa hanya memikirkan kuliah, sudah memiliki pacar –dan tidak ribet dan resah menjomblo. Sebuah masa di tahun lalu yang dalam kesederhanannya ternyata menorehkan hal yang manis dan kurindukan. Udah lupa rasanya kalau gw pernah mengeluh lelahnya bolak-balik Jakarta-Tangerang, naik patas yang kumuh, panas dan jelek dan jauh dari kata ‘layak’, berdiri di sepanjang perjalanan karena ramainya penumpang. Dan seberapapun gw berharap untuk merasakan momen itu lagi, ternyata gw gak pernah merasakan hal tersebut.

Dulu gw berharap untuk berada di posisi gw saat ini; sudah mapan, punya gaji tiap bulan, kerja 8am-5pm, bisa membeli barang yang gw inginkan -padahal dulu gw gak pernah berfikir akan mampu membelinya, menjadi sibuk dengan dunia kerja -dan belakangan menjadi gentar dengan politik kantor yang sangat kentara, kotor dan kejam, bisa dinas ke luar kota, mengajak keluarga gw jalan-jalan dan menikmati kebebasan yang selayaknya gw dapatkan di usia menjelang 25 ini. I am no longer a girl, but I am not a women yet. I am stuck in the middle. They said this is the best year of my life. I am not committed (yet) to anyone; I am eligible to do anything under my conscience. Let alone all the other things

Dan saat ini, gw berharap untuk mundur sejenak. Meminta waktu memperlambat alurnya. Gw berharap memegang remote universal yang memiliki tombol RWD dan FFW seperti yang dimiliki Michael Newman (Adam Sandler) di film Click atau menjadi penjelajah waktu seperti Henry DeTamble (Eric Bana) di film Time Traveler’s Wife (diadaptasi dari Novel karya Audrey Niffeneger), bahkan ekstrimnya menjadi David Rice (hayden Christensen) di film Jumper. (well, menunjukkan betapa takutnya gw dengan komitmen dan mudahnya diri untuk berlari dari semua tanggang jawab gw pegang)

I am moving toward a higher stage now. But why I feel like I dont wanna move forward? I am stuck in my comfort zone. I want to be naive and be a younger me where I see things only in black and white; where I can still say NO to things I hate for I dont have to take other’s feeling in account; where I picture ALL people and label them as ‘Good Person’. But the reality bites me. As part of growing up, I need to deal with unfavorable situation, I have to compromise and be adaptive to survive and I can’t run or hide anymore for I am being so afraid with people’s judgment –something I dont even care in the past. I dont wanna lose myself!

Well, gw rasa ini adalah bagian dari fragmen hidup dan dinamika yang harus gw (dan semua orang) jalani, sejauh mana gw bisa bertahan dalam dunia yang tidak ideal ini. Pun memang tidak pernah ada yang ideal kan? Semoga gw tetap bisa menjaga kewarasan, akal sehat begitu juga dengan ketajaman perasaan dan sensitifitas diri dalam menjalani apa yang ada di depan gw. Gw gak mau kalah dalam hidup. Gw harus menjadi pemenang. Janise said, keep your chin up and see the brighter side, buckle up and put your best effort in every single things. I will live it to the fullest… *promise myself

*Repeatedly listening to Sia – Day Too Soon; Ingrid Michaelson – The Way I Am; Adele – Make You Feel My Love; James Morrison – Please Dont Stop The Rain; Howie Day – Colide; Tompi – Tak Pernah Setengah Hati.