.aku, dia dan ‘dia’.


Gw ternyata gak pernah belajar untuk lebih bijak menyikapi masalah yang datang dalam hidup gw. Mungkin gw terlalu bodoh kayak keledai kali yah, sampai-sampai terperosok ke lubang yang sama berulang kali dan gak sadar sampai akhirnya sudah berada di dalam lubang. Nama lubangnya adalah lubang cinta. Emang dasar perasaan gak bisa diajak kompromi. Panca indra menstimulus, hati berbicara.

Dua hari belakangan gw sempet kecewa sangat. Mungkin dalam definisi yang lebih gila, gw merasa sangat depresi. Teman-teman komentar tentang status negatif gw dan gw sangat bersyukur sekarang karena mereka hadir menyampaikan kata-kata yang sangat sulit gw cerna saat itu. Apalah yang ingin didengar orang derpresi? Bukan kata-kata ‘Sabar ya..’ atau ‘Semangat ya…’ apalagi ‘Kenapa sih lo, kok bawaannya negatif mlulu. Cheer up..!’ Karena telinga dan mata gw udah kebas terhadap perhatian-perhatian kecil seperti itu. Perasaan gw mati rasa menerima limpahan kasih sayang yang orang-orang di sekitar gw ekspresikan (mungkin) sebagai bentuk kekhawatiran mereka terhadap kondisi gw.

Gw hanya ingin ‘dia’ yang ada buat gw. ‘Dia’ yang buat gw terpuruk dan marah sedemikan rupa tanpa pernah ‘dia’ sadar.Tapi ‘dia’ nyata-nyata gak pernah peduli. Si Boi tidak peduli padamu, perasaanmu dan malah senang-senang sama temanmu.

Trus ‘dia’ salah? Salah karena mau bersenang-senang? Salah karena ‘dia’ tersenyum atau tertawa padahal kamu nangis, sakit, merasa tidak bertulang karena hatimu yang tidak tahu diri kapan seharusnya mencintai orang?

Tentu gak! Gw yang salah. Gw yang bego.

Tapi gw gak mau mengasihani diri sendiri. Baru aja gak sengaja gw baca tweet dari temannya Yosier. Dan kata-katanya bagus banget. Gw kutip ya, “…how can u be in the middle when both points aren’t walkin towards each other?”

Yah, gw tahu kalau ‘dia’ gak peduli sama gw, trus gw kecewa karena temen gw ngedeketin ‘dia’ padahal dia tahu gw suka ‘dia’. Gw jadi marah dan kecewa (wew..redundant kata-kata ‘dia’ ya??:p haha). Tapi kalau membaca kata-kata di atas, gak ada yang salah dong. Toh gw dan ‘dia’ gak saling berjalan mendekat. Kalau tiba-tiba temen gw ada di antaranya, bukan berarti dia merusak gw dan ‘dia’ ( silly statement, I know..just keep reading, ok?:P I am at the position where I become so dumb, blind, and losing my common ground :p)

Apapun situasinya, gw, dia dan ‘dia’ punya argumentasi untuk memuaskan ego masing-masing. Gw akan selalu merasa benar dan jadi korban, dia juga akan merasa tidak salah, bahkan ‘dia’ merasa gak peduli apa yang terjadi dengan gw dan dia. Yang pasti, cinta itu merusak jalinan pertemanan.

I have to deal with that!! I hate it!!

Gw bukan orang bijak yang mampu melihat sesuatu hanya dari segi positifnya saja, karena dampak negatifnya nyata-nyata kelihatan (dari sisi gw loh!:p); gw kehilangan teman dan ‘teman’, kehilangan orang yang bisa buat gw senyum-senyum sendiri, mimpi nikah, orang yang membuat gw kabita terhadap apa yang dia tulisakan melalui twit-nya, yang membuat gw melirik mr. google untuk tahu siapa itu Imogen Heap, Owl City, Landon Pigg, ngecek gmail gw, plurk, multiply, beragam situs social networking lainnya, membuat telinga gw gak bosen ngebedain lagu Dont Stop The Music versi Jamie Cullum dan Rihanna (Sorry, Rihanna is still my fav…), ingin membaca novel-novel yang dia baca, senang tiap kali dia lewat di depan kantor gw (itu juga kebetulan lewat karena kantor gw searah tempat kursusnya), ingin berada di Gramedia Matraman tempat dia suka hang out, cari tahu ke temen-temen gw dimana letak persisnya Nasi Goreng Gila atau Mie Ayam favoritnya yang katanya ada di daerah Sabang, pengen bawain dia cream soup dan beef prosperity saat dia lembur kerja atau sakit karena kebanyakan lembur, yang blog-nya selalu gw baca, yang suaranya bikin dada gw berdetak cepat, dan berhenti seketika waktu tahu kalau dia ternyata lebih suka berada bersama teman gw.

Gw pikir udah gak jaman yah ngebahas masalah cinta-cintaan norak, bertepuk sebelah tanga. Tapi lagi-lagi kejadian.
Dasar keledai!! (laughing at myself:)))

Gw pengen berhenti menghukum diri gw sendiri, pikiran dan perasaan gw dari hal-hal yang menyakitkan. Ingin mampu memilah mana informasi yang bisa gw masukkan ke otak dan memproses lebih lanjut agar tidak berbentuk nota kebencian saat dibaca oleh hati. Gw gak mau menjadi orang yang gw benci, yang menebar kebencian ke orang-orang lain karena gw benci dia. Cukup!

Kata Ang, kita punya endorfin yang mampu diproduksi sendiri untuk dapat bangkit dari segala macam luka. Kata Tami, aku masih muda dan masih banyak yang bisa aku lakukan selain ngurusin masalah cinta kayak begini. kata Riri, Jangan sampai dua orang membuat kamu jadi begini. Kamu cantik Nisa..!(bener ngomong gitu kan, mbakyu:P hahahaha *narsis)

Aku ingin tersenyum, tuhan.. Berbahagia untuk diriku, dia dan ‘dia’. Membuat kebahagiaanku TIDAK melulu tentang ‘dia’ dan kesedihanku TIDAK melulu tentang apa yang ‘dia’ lakukan dengan dia.

Bismillah… Bila memang ini cobaanku, Tuhan.. Jadikan hatiku kuat dari rasa sakit namun tidak jengah untuk terus mencinta sampai nanti hadir orang yang juga mencintaku. Jangan sampai aku menjadi kufur akan nikmatMu….

*Thanks untuk semua support-nya, temans…
** Aku menulis ini dengan miris dan mentertawai diri sendiri

Advertisements

3 comments

  1. Pingback: .my grief. « .me against the world.
  2. kavg · February 23, 2010

    waktu itu sy pernah berhalusinasi. membaca blog dgn judul mahadasyat: me against the system. biarlah halusinasi, tp smpt sneng jg melihat pemilik NIP dilingkungan birokrat tdk hipokrit.meski cm halusinasi..sorry

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s