.kisah perempuan dengan kesukaan menonton/ membeli/ menyewa film yang kronis.


Sudah sejak lama gw pengen banget bisa menulis dan membuat review singkat saja tentang film-film yang gw tonton. Bukan hitungan 10 atau 20 film aja yang gw tonton dalam sebulan, jumlahnya bisa banyak sekali karena ternyata entah gw sadar atau gak, gw punya masalah complex obsessive compulsive disorder mengenai menonton film.

Setiap minggu, gw menghabiskan uang gak sedikit untuk menyewa film di dua disc rental favorit gw -Pelangi Disc dan Ultra Disc. Sekali menyewa di satu tempat bisa sampai 5 bahkan 10 judul film. Gak ada genre favorit, yang penting cover-nya menarik, pemainnya familiar di telinga dan mata, judulnya menarik. Tapi yang paling menentukan ‘buying power’ gw adalah cover tuh film. Dan rasanya menyenangkan banget bisa melihat banyak cover film keren yang ternyata filmnya juga keren:)

Selain sewa film, hampir setiap minggu gw juga suka beli DVD-DVD favorit di ITC Kuningan. Piracy is a Crime, rite? Gw tahu ini salah, tapi ternyata pemikiran ini hanya sebatas aspek kognisi gw aja, belum sampai konatif:) (Kesimpulannya, Iklan PELE berbahasa latin selama 31 detik yang terputar setelah tombol ‘play’ di remote dipencet dan mengingatkan bahwa ‘Piracy is a Crime’ itu SANGAT TIDAK EFEKTIF *gak perlu penelitian khusus untuk tahu :D)

Walau demikian, gw punya alasan juga kok kenapa tetep maksa beli DVD. Dan alasan ini cukup ‘masuk akal’ dan dapat dijadikan pembelaan kalau gw dituntut di pengadilan:P *jangan sampai kejadian

Petama, hanya DVD bajakan yang punya judul-judul film yang baru akan muncul di 21 atau blitz setelah 2/3/4 bulan ke depan. Liat aja film He’s Not That Into You, bajakan yang ‘asli’ (baca: membajak dari DVD Original sehingga gambar dan subtitle bagus) sudah muncul saat film itu baru diberi label ‘Coming Soon’ di bioskop-bioskop. Kedua, yang gak kalah penting adalah harganya yang murah:) hehe

Dont worry, gw salah satu yang berikrar untuk gak ngebajak produk dalam negeri. Jadi, gw gak pernah beli MP3/ CD lagu dari penyanyi Indonesia atau beli bajakan film-film Indonesia (*padahal film Indonesia emang jarang ada yang bagus sih:P).

Balik lagi ke masalah di awal, Kenapa sewa film bisa jadi masalah? Ya, alasannya adalah karena kadang hati gw berontak untuk gak melangkahkan kaki ke tampat rental, sering juga otak gw gak bisa mengendalikan tangan gw yang dengan lincahnya memilih film dan meletakkannya di counter bayar. Bahkan temen deket gw bisa melihat binar-binar jatuh cinta dari mata gw, wajah sumringah serta memancarkan cahaya hanya karena melihat tumpukan film-film yang ada. Katanya, mata gw sampai gak berkedip. Saat gak jadi beli pun, nih mata masih aja gak bisa melepaskan pandangan dari rak-rak film.

Masalah lain, setelah film-film tersebut dibeli dan menumpuk, gw bahkan tetep aja gak bisa nyetop kaki melangkah ke tempat rental atau membeli judul-judul lain yang belum gw miliki. Entah karena tuh tempat sudah diguna-gunai, sampai gw betah bolak-balik ksana, atau jangan-jangan malah gw yang emang sudah dijampi-jampi untuk selalu balik ke sana.

Parahnya, kalaupun gw tahu bahwa minggu itu gw gak bisa standby di depan layar TV lama-lama karena harus tugas dinas/ ada ujian di kampus/ banyak kerjaan dan tugas kuliah. Gw tetep ngotot datang ke tempat rental atau ke penjual DVD di Kuningan. Kalau sampai gak datang tuh bawaannya jadi resah, kepikiran, sampai gak bisa tidur, ada rasa menyesal, trus berniat besok pagi harus ke rental atau pergi ke Kuningan sepulang kantor. Alhasil, DVD bajakan numpuk di rumah, dan film-film  sewaan juga ngantri untuk ditonton. Kadang jadi stres kalau sudah deadline balikin film, ternyata tuh film belum gw tonton.

Perlu disampaikan, ada rasa puas dan senang sekali tiap kali melihat tumpukan film yang gw beli atau melihat daftar ratusan film yang gw tonton. Rasanya gak ada yang membahagiakan hidup selain menonton film (*lebay). Rasanya gw tenggelam dalam kisah-kisahnya si Ryan Bingham (Up In The Air), Rose Lokowski (Sunshine Cleaning), Mark Bellison (The Invention of Lying), Ryden Malby (Post Grad), Julie Powell & Julia Child (Julie and Julia) atau Clyde Shelton (Law Abiding Citizen). Seolah-olah cerita-cerita ‘fiksi’ mereka melengkapi cerita ‘nyata’ hidup gw yang datar dan biasa saja ini.

Dengan simptom seperti itu, sudah dapatkah perempuan ini diklasifikasikan sebagai perempuan dengan kesukaan menonton/membeli/ menyewa film yang kronis?

.rage against the system.


Kupikir gak akan ada hal yang cukup kuat menggoncangku selain masalah pencarian cinta yang tidak kunjung usai. Ternyata aku salah. Entah ini ternyata merupakan jawaban atas doa-doaku selama ini yang berharap bahwa masalah ‘patah hati’ tidak selalu menjadi isu yang dominan lagi atau memang ini adalah ujian naik level yang setiap orang harus hadapi untuk menjadi pemenang atau malah jadi pecundang

Sudah selesai kisah dengan si ‘we’re-not-meant-to-be-together’, sudah juga mulai bangkit dari kisah si ‘boi’, bahkan bikin hashtag khusus di twitter #goodbyeboi sebagai pelampiasan berbagai emosi jiwa karena ternyata gw salah membaca dan mengartikan ‘tanda’. Dia sukses ‘lari’ dari hidupku dan hidup dunia mayaku (baca: twitter-ku, Facebook-ku, bahkan YM-ku). Mungkin itu cara yang dipilih untuk menunjukkan penolakan halus terhadap keberadaanku.

, sudahlah, biarlah berlalu, biar jadi kisah yang pasti akan gw tertawai nanti bila ku tengokkan lagi wajah ke belakang. Kali ini, persoalan yang mucul sungguh mengalihkan semua panca indra dan perhatian gw. Menimbulkan keresahan yang amat sangat, gelisah tingkat tinggi! Gak bisa tertampung lagi kalau hanya disimpan sendiri. Menjadi begitu resah karena menyangkut masa depan. Menjadi buta akan masa depan adalah hal yang sangat menakutkan (walau emang kita gak pernah tahu masa depan akan seperti apa). Saat ini, gw melihat di depan sana semua tampak gelap dan buntu.

Gw bukan tipe orang yang membuat rencana hidup dengan demikian detil hingga mencatat semua langkah-langkah untuk sampai ke tujuan jangka panjang dan pendek. Gw ingin hidup sederhana saja –bukan berarti hidup hanya bertahan dari hari satu ke hari selanjutnya. Dalam rencana jangka panjang, gw ingin sekolah lagi ke luar negeri, jadi wanita karir yang sukses, bisa saling support dengan suami, punya keluarga kecil bahagia dan menjalani hidup dengan ‘normal’ seperti yang selalu gw tonton di film atau di novel yang gw baca. (Well, mungkin agak berlebihan ya??)

Gw tahu gw punya kemampuan, gw tahu gw bisa dipacu lebih keras lagi, gw tahu gw sanggup! Seandainya saja gw punya kesempatan untuk menunjukkannya. Gw gak mau terjebak di ruangan ini untuk satu tahun ke depan, dua tahun atau bahkan bertahun-tahun ke depan. Duduk jadi personal assistant gak pernah ada dalam benak gw, ini cuma kerjaan mudah, cuma butuh tangan trampil, tapi tentu bukan jenis pekerjaan yang ingin gw habiskan seumur hidup gw. Dan hingga saat ini, gw gak melihat ada titik cerah dimana gw akan diberi kesempatan untuk mengerjakan hal-hal yang lebih substansial.

It’s so frustrating! I am frustrating!

Ada orang ingin kerja mudah, dapat uang melimpah, tapi buat gw, bukan begini caranya! Kerja bukan hanya sekedar masalah Menuhin perut gw dengan makan enak dari uang yang gw dapat dengan hanya duduk 10-11 jam di belakang meja ini.

Sure people have their own situations!

Setiap orang punya masalah masing-masing, punya ‘soal ujian’ yang berbeda dalam hidup, sebagian mengeluhkan pekerjaan yang terlalu banyak, gaji yang terlalu sedikit, dan gw juga ternyata gak luput dari mengeluhkan hal yang sama. Pekerjaanku sangat tidak menantang, Tuhan. Aku ingin dapat kesempatan melakukan sesuatu yang lebih untuk negaraku. Bila memang aku harus bersabar, yakinkan diriku bahwa memang ada kesempatan dan tempat untuk aku melakukan sesuatu yang ‘lebih’.

Jangan ‘bunuh’ kreatifitas dan kemampuan diriku dengan menempatkanku di sini!

Apakah karena gw cuma sarjana komunikasi? Lulusan dari sekolah negeri yang gak terkenal bahkan ndeso? Trus gw seenaknya aja ditempatkan di sini? Perempuan biasa yang dianggap cuma bisa melakukan hal remeh temeh? yang gak bisa konsentrasi kerja karena nanti (entah berapa tahun ke depan) punya anak? Yang gak bisa berbuat lebih buat organisasi ini? Yang cuma bisa angkat telepon dan nyatet surat?

NO!! YOU CAN NOT UNDERESTIMATE ME!!!

Maaf bila aku menjadi terlalu ambisius untuk bekerja lebih dan sesuai kemampuanku! Menyesakkan dada bila kamu di’janji’kan akan masuk untuk posisi tertentu, namun kamu terlempar ke tempat lain. Sejak awal aku melamar di posisi pranata humas! Dan kecewa karena tenyata birokrat kita memang yang katanya sudah banyak yang sekolah tentang manajemen gagal menerapkan semua ilmu dalam prakteknya!

Do they ever really care?

Dan gw yakin gw bukan satu-satunya. Namun karena sudah lolos seleksi, trus nrimo aja gt mau ditempatkan dimana aja? Ah, susah memang! Gw sendiri yang terkungkung dengan sistem yang dilestarikan oleh para birokrat ini sejak lama. Pola pikir gw yang emang salah! Sampai mau diperlakukan begitu. Pilihannya berat, lanjutkan atau keluar! Dan pilihan untuk keluar mencari kerja baru tentu bukan hal yang mudah bahkan bila nanti gw udah nyelesain kuliah saat ini. Whatta Dilemma! Dan gw yakin gw gak sendirian:(

SO PLEASE HELP US, DEAR GOD…

Kamu tahu, berada di lingkungan yang ‘super’ akan membuatmu berfikir bahwa kamu ‘super’ dan kamupun akan bertindak ‘super’, begitu juga sebaliknya (setidaknya itulah yang gw yakini). Saat ini, gw berada di situasi yang ‘kurang sehat’, setidaknya untuk diri gw sendiri. Mungkin menjatuhkan pilihan bekerja di sini merupakan hal yang salah. Mana kutahu ini salah bila tidak kujalani dulu. Silahkan maki aku karena tidak konsisten dan tidak bertanggungjawab dengan keputusanku dan konsekwensi atasnya. Tapi gw menjalaninya saat ini, namun di sisi lain, gw juga merasa punya tanggung jawab kepada diri sendiri untuk membuat keputusan yang lebih baik, menyelamatkan diri ini sebelum tenggelam lebih dalam lagi. Apakah menyelamatkan diri itu salah? Salah bila akhirnya gw menyerah dan berjalan meninggalkan semua ini? Menjadi tidak bertanggungjawabkah gw?

gw gak akan terlalu peduli juga bila akhirnya semua menjawab ‘kamu salah!’

Sekarang, gw harus siap dengan keputusan tersulit. Selesaikan thesis, bila keadaan tidak membaik, keluar saja dari sistem ini

Tuhan, beri aku petunjukMU… Aku sungguh lemah, bodoh, labil dan rapuh. Astagfirullah… Astagfirullah.. Astagfirullah…