.the lost symbol.


Aku terbiasa ‘membaca’ ‘tanda’, makna-makna yang terselubung di dalam hidupku. Kuyakin itu semua bukan kebetulan belaka. Entah sudah mampu terbaca sejak awal ataupun baru di akhir waktu, namun kuyakin tanda-tanda itu selalu ada. Bukankan Tuhan bahkan seringkali mengakhir kalam-nya dengan kata-kata: “Yang demikian itu adalah tanda-tanda bagi orang yang berfikir”?

Dalam pengalamanku, bila akhirnya aku menjadi dekat dengan orang lain, sepertinya ada tanda-tanda yang muncul di awal yang mampu membuatku merasa bahwa kisahku dengan orang ini tidak akan berakhir dalam menit itu saja. Entah dari mana sumber keyakinan itu, namun aku tahu kisah kami akan terjalin lama, bahwa sebagian dari hidupku akan terhubung dan terpengaruh dengan orang ini, dan beragam hal-hal lain yang sulit kujelaskan dengan baik karena keterbatasanku mengungkapkan sesuatu.

Bahkan bila ternyata kami tidak dapat menjalin hubungan lebih jauh, selalu saja ada tanda-tanda yang ‘menghalangiku’ untuk melanjutkan apa yang telah ada. Hingga membuatku berfikir, ‘mungkin dia memang bukan jodohku, banyak jalan tidak membawa kami satu.’ Dengan membaca tanda-tanda itu, aku menentukan langkah yang harus aku ambil; melangkah maju, tetap di tempat atau mundur perlahan. Seringkali tanda-tanda yang ‘baik’ menjadi justifikasi diriku bahwa ‘we’re PROBABLY meant to be together’, bahwa alam mengatur semuanya itu.

Kebetulan..kebetulan dan kebetulan…

Kebetulan bertemu di tempat tak terduga, kebetulan mengungkapkan status serupa lewat twitter/ facebook di saat yang relatif sama tanpa pernah saling berhubungan sebelumnya, kebetulan muncul bersamaan di yahoo! messenger dan entah bagaimana tergerak untuk bertegur sapa, kebetulan muncul di saat diri ini membutuhkan seseorang seperti yang dia munculkan saat itu, kebetulan membaca buku yang sama, kebetulan mendengarkan musik yang sama pada saat bersamaan, kebetulan sama-sama percaya bahwa ada tanda-tanda yang terserak yang siap untuk dibuka tabirnya, dan betapa kita pernah (kebetulan) membicarakan kebetulan-kebetulan nan aneh yang kamu alami dengan orang lain.

Kebetulan-kebetulan yang entah bagaimana hadir di antara aku dan kamu. Yang di dalam pandangan mataku sempat terbaca sebagai skenario nan indah dan jalan takdirku dengan dirimu. Atau jangan-jangan di matamu, hal-hal tersebut terbaca hanya sebagai rangkaian kebetulan acak yang terjadi begitu saja. Semua kebetulan itu, apakah memang sekedar kebetulan? Atau harus dengan naifnya kuanggap sebagai tanda-tanda dari Tuhan untuk mengisi sisi yang sedikit kosong di rongga hatiku?

Sekarang aku merasa kehilanganmu…

Aku bahkan tidak pernah memilikimu, lalu kenapa aku harus merasa kehilanganmu? Hanya hatiku yang memiliki perasaan terhadapmu dan bila itu terampas karena memang tidak ada tanda-tanda lagi yang menghubungkan kita, maka aku harus siap menghilangkan rasa itu.

Bukankah seharusnya ini menjadi lebih mudah?

Karena aku tidak pernah memilikimu!

Tidak ada yang merampasmu dariku, memang Tuhan tidak lagi mempertemukan kita dalam kebetulan-kebetulan indah yang sempat kunikmati di awal itu.

Aku memang memiliki ketertarikan itu pertama kali bertemu dirimu, kemudian kutahu kamu sudah dimiliki orang lain, dan seketika itupun aku berbalik.

Namun tiba-tiba -entah dapatkah disebut kebetulan?- kamu datang -kecewa&sendirian- mengintervensi hidupku, dan dengan sigapnya kubaca sebagai tanda-tanda yang ‘baik’. Namun belakangan ini, tanda-tanda yang kucari semakin nihil. Tidak ada lagi tanda yang dapat kubaca. Kamu hilang bersama tanda-tanda itu.

Aku salah membaca tanda.

Hanya satu tanda akhir yang muncul, sebuah program aplikasi dunia maya yang biasanya menghubungkanku dengan dirimu, yang ku’paksa’ nikmati untuk dapat sedikit saja terkait denganmu, yang ku-install karena saran darimu, hilang tiba-tiba di dalam handphone-ku. Hilang dengan sempurna tanpa bisa kutemui di folder manapun.

Mungkinkah ada virus yang menyembunyikan aplikasi itu? Atau mungkin itu merupakan tanda baru bahwa aku pun harus menghapusmu dari diriku. Berhenti ‘melirik’ sedikit aktivitasmu, berhenti membuat diriku tenggelam lebih jauh lagi. YA! Karena kamu bahkan bukan milikku, dan sudah sepatutnya aku tidak merasa kehilanganmu.

 

*currently listening to Tanya Hati – Pasto

.kutukar Astroboy dengan semua itu!


Kulaju motorku sampai ke batas kecepatan yang masih sanggup kutahan, 100km/ jam, angin petang itu menyapu seluruh tubuhku yang hanya berbalut jaket denim bergambar tengkorak; melewati Kramat Raya, Raden Saleh, Cikini, Menteng melewati Taman Suropati, kantor lamaku di Bumi Daya Plaza hingga aku sampai di jalan utama Sudirman, berbelok ke kanan melalui Hotel Shangri La hingga akhirnya aku tiba di kampusku yang terletak persis di Hotel Sahid Jaya Sudirman.

Hari ini aku terlambat sampai ke kampus. Pekerjaan di kantor datang bertubi-tubi hingga aku tidak sempat memainkan permainan-permainan ‘konyol nan menghibur’ yang ditawarkan oleh facebook untuk mengisi waktu kosong. Aku bertahan sampai adzan maghrib berkumandang, memandangi berkas-berkas yang datang pergi tanpa jeda panjang sejak pagi tadi.

Jarum panjang menunjuk ke angka enam, sedangkan jarum pendeknya perlahan menjauhi angka itu. Kelasku sudah dimulai sejak pukul lima tadi, beberapa temanku sudah mengirimkan sms untuk memastikan kedatanganku ke kampus. Namun kaki dan tanganku sudah dipaku di kursi ini.

Hari ini Bapak memimpin beberapa rapat, persiapan yang remeh temeh sampai yang esensial pun menjadi tanggungjawabku. Aku seorang diri mengerjakannya, untung saja pelaksanannya melibatkan beberapa orang lain. Bolak-balik lantai 2, 3, 4 dan 5 sudah jadi olahragaku hari ini. Entah mengapa aku menjadi sedikit emosional menghadapi beberapa hal yang berjalan di luar rencanaku, Alhamdulillah aku masih bisa bertahan untuk tidak mencaci maki orang lain. I really have a bad temper!!

Setelah menyelesaikan semua yang ada di atas meja, aku pamit untuk kuliah. Suasana di kantor masih sangat ramai, mereka sibuk menyelesaikan pekerjaan masing-masing. Ah.. entah mengapa mereka betah sekali berlama-lama duduk di kubikel 2x2m itu. Menurut peraturan pemerintah, jam kerja pegawai negeri sipil hanya pukul 08.00 sampai pukul 16.00 WIB. Kenyataannya, jarang sekali bisa keluar dari kantor saat matahari masih tampak. Untung saja aku kuliah, sehingga punya alasan kuat untuk ‘kabur’ dari kantor -walau sebenarnya gak bisa disebut kabur juga sih, wong jam kantor sudah kupenuhi kuotanya.

Sampai di kampus, aku bergegas menuju kelas, ternyata masih ada beberapa kawan yang istirahat untuk shalat Maghrib. Baru duduk sebentar, kuliah sudah diakhiri. Diakhiri dengan tugas-tugas menumpuk karena dua minggu lagi Ujian Akhir Semester akan dilaksanakan. Salah satu dosen berhalangan hadir karena ada tugas ke luar kota, maka aku pulang cepat. Yippie…

Saatnya bersenang-senang!!

Waktu masih menunjukkan pukul 19.30 WIB. Kulirik hpku, mampir ke http://www.21cineplex.com dan menemukan bahwa film Astroboy yang lama kunanti sudah main di Djakarta 21, lihat jadwal tayangnya dan yakin bahwa 20.05 malam ini adalah waktu yang tepat untuk menonton di sana. Seorang diri saja, tidak apa-apa, aku memang belum punya pendamping.

Cepat-cepat kupacu lagi motorku untuk mengejar film yang 30 menit lagi diputar. Sudirman ke Thamrin lancar dan aku sudah bersemangat untuk menonton film itu. Sempat menimbang-nimbang apakah keputusan nonton film di mala mini adalah keputusan yang tepat.

Aku tahu sifat burukku. Aku terlalu impulsif. Bila menginginkan sesuatu, maka saat itu juga harus kudapatkan, kalau tidak dapat, bisa uring-uringan gak bisa tidur. Dengan penuh keteguhan, aku bersikeras ke Djakarta21. Malam ini aku akan menonton Astroboy!

Di tengah perjalanan, aku melihat mini market dan sempat berfikir bahwa sepulang dari menonton, aku akan mampir sebentar untuk membeli beberapa kebutuhan yang sudah habis.Tiba-tiba pikiranku seperti diarahkan untuk mengingat uang di dompetku. Seperti ada rasa tidak tenang.

Segera saat itu juga aku menepi, memeriksa tas hitamku dan tidak menemukan dompet ataupun amplop putih tempat aku bisa menyimpan uang makan bosku. Dompetku TERTINGGAL!! Tertinggal di laci kantor setelah hari yang menguras emosiku.

Iya, aku ingat meletakkan dompet berisi kartu ATM, KTP, SIM, STNK motor, beberapa lembar uang di laci itu. Sejak tadi, aku bayar parkir hanya dengan uang receh yang ada di kantong jaket, tidak sedikitpun teringat dompet itu. Ah…kesal rasanya!! Rencanaku GAGAL!

Gak kalah seru dengan ceritaku beberapa waktu lalu saat menantang Tuhan untuk memberikanku cobaan dan berakhir dengan bensin motor habis sehingga aku harus menuntun motor sepanjang sudirman sampai thamrin untuk mencari penjual bensin eceran, dan kecewa karena tiket nonton film Public Enemy yang kukejar-kejar (bahkan sampai bensin kosong itu) sudah terjual habis sampai tengah malam nanti. Baca notes itu di sini. hehe *LOL

Akhirnya aku pulang tanpa uang, tanpa tiket dan tanpa film Astroboy.

Anehnya, hatiku senang. Kesal hanya sebentar saja dan menguap dengan sukses ke udara bersama angin malam.

Mungkin memang aku tidak boleh nonton film itu malam ini. Mungkin karena aku sudah berjanji pada Anggie untuk nonton bersama sepulangnya dari diklat prajabatan, atau karena hujan akan turun di Jakarta malam ini, atau karena ternyata TV0NE menyiarkan sidang menarik dengan POLRI di televisi atau karena aku seharusnya berbagi rezeki ke penjual martabak dan bakso (yang kubeli karena perut laparku -yang bisa terbayar setelah aku pergi meminjam uang ke rumah saudara di dekat rumah), atau karena ada alasan-alasan lain yang Tuhan inginkan terhadap aku, sesederhana agar aku bisa berbagi melalui notes ini.

Kemungkinan-kemungkinan itu mungkin adalah alasan mengapa aku tidak berada di studio 2 Djakarta Theater malam ini. Kutukar Astroboy dengan semua itu!
Tidak sedikitpun sedih tersisa di hati saat kutuliskan ini.

Mungkin seperti itulah tuhan ‘bermain’ dengan aku dan kamu; Dengan memberikan apa yang aku dan kamu butuhkan, dan bukan yang diinginkan. Aku butuh untuk merasa bahagia dan Dia memberikan kebahagiaan itu dengan cara yang tidak aku inginkan pada awalnya.

Semoga hatiku bisa terus terbuka untuk menerima semua yang Dia inginkan terhadapku. Amien…

*repeatedly listening to Haven’t Met You Yet – M.Buble :: Other Side of the World – KT Tunstall :: Human Nature – M. Jackson :: Blue Eyes Blue – E. Clapton :: If – Bread :: Out of my Head – Fastball ::

.the old days.


Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba gw tertarik kembali menelusuri blog-blog lama yang sempat gw buat. Dulu blog belum setenar sekarang. Dan dengan bangga gw mengucapkan terimakasih untuk Astrid Felicia yang dulu memperkenalkan gw dengan blog dan banyak menginspirasi gw dengan tulisan-tulisan sederhananya (bahkan tetap konsisten dengan template biru dan simpel itu sejak dulu!). (I owe you much, trid..Congratz for the baby..^^)

Sempet senyum-senyum sendiri dan malu baca posting-posting lama itu. Yang paling lama adalah tahun 2003. Saat gw baru kuliah di Purwokerto.

Gw baru sadar kalau ternyata gw sukaa banget nulis puisi-puisi ‘norak’ untuk mengungkapkan perasaan gw ke orang-orang tersayang; Sebuah ‘kebiasaan’ yang sudah gak pernah muncul lagi sekarang (*entah harus merasa lega atau sedih :p). Gw gak pernah nulis pusi lagi!! *norak aja rasanya :D

Gw seperti menemukan diri gw yang berbeda dengan diri yang saat ini; lugu dan ekspresif.

Keberanian gw untuk menyayangi orang, mengatakan gw sayang. seolah-olah ‘jatuh cinta dan mengasih’ orang lain bukanlah sebuah aib yang harus ditutup-tutupi, namun harus disyukuri dan diekspresikan. Keberanian untuk terpuruk karena cinta-cinta (*bosen nyebut-nyebut cin** terus:P) yang gak berbalas dan kemudian bangkit lagi mencari orang lain yang mau menerima gw apa adanya. Pejuang tangguh yang tak pernah lelah :) *that’s who I am

Waktu dan pengalaman jelas banyak sekali merubah gw. Gw gak menemukan diri gw seperti itu lagi. Ada kerinduan terbesit, sepertinya fase-fase itu berjalan secara konstan dan sekarang gw menuju fase-fase baru yang juga tidak akan mungkin berbalik lagi saat 10 – 20 tahun ke depan, gw merenungi saat-saat ini. Hmm, alasan lain mungkinkarena perubahan horman:p *sok ilmiah

Well, kalau tertarik mau liat blog jadul nan sederhana gw, monggo berkunjung di sini

Ini beberapa pusi ‘norak’ gw yang sok roman picisan :D

Aku hanya mencoba merangkai kata …
Merangkai yang terserak …
Walaupun ku tak sadari tak akan seindah
Kesempatan yang KAU percayakan padaku…
Semoga seikat kata yang beku
Dapat mendewasakanku…

Rainy night
30 des 03

Lelahku mentolerir
ego dan rapuh hatiku…
Yang seringkali tak kasat mata
dan dengan munafiknya
Terus menerus menancap cinta
dalam harapku…
Yang acap kali menjalari
Separuh nafas yang kuhembus
…dari hari ke hari…
menanti detik, menit dan jam
yang patah oleh realita
Tetap keberharap kau sudi mendeteksiku…
24 juni 03
just for frm

bila memang cinta harus memiliki
maka yang ada hanya keegoisan
dan yang ada sekarang adalah
keegoisanku
keegoisanmu, dan
keegoisannya
Tolong pahami egoku
Seperti kau paksakan egomu
Juni 2003

Yang lainnya akan gw publish juga di notes ini :)
tunggu yah notes .surat cintaku.

.flirt me (not).


Ada saatnya saya merasa bukan diri saya sendiri. Kemarin adalah salah satu waktunya. Sejak sore itu, saya ingin sekali pergi jalan-jalan. Menonton, menikmati jakarta di petang hari dan makan di sebuah tempat yang nyaman ditemani orang yang juga membuat saya nyaman.

Alhasil, saya ‘teriak-teriak’ di status Facebook dan Twitter saya, meng-sms beberapa teman dekat untuk mengajak saya jalan, minta diajak nonton sama seorang teman, sempat hampir lepas kendali untuk meng-sms sang mantan demi bisa ditemani menghabiskan penghujung bulan Oktober itu, dan aktif sekali online di e-buddy untuk dapat di-buzz dan diajak chatting.

Saya mengundang mereka untuk hadir dan menemani kesendirian saya. Dari banyaknya hari dimana saya menikmati kesendirian dan menjaga jarak interaksi dengan orang lain, ini adalah hari dimana saya ingin melepaskan semua batas yang saya buat itu. Saya ingin berkumpul dan mendapatkan afeksi dari orang lain; bersenda gurau, bercerita. Tentang apa saja….

Dalam kelelahan mencari-cari teman, saya tersadar bahwa saya telah menjadi sangat terpencil dalam ketenggelaman saya dengan film-film yang ditonton di ruangan 4×5 m, sehingga sulit rasanya mencari teman untuk memenuhi kebutuhan saya akan eksistensi mereka secara nyata di ruang gerak saya.

Kegilaan sesaat mencari teman untuk menemani saya berjalan-jalan membuat saya menulis mulai status aneh (untuk menarik perhatian tentunya)…

“Lagi pengeeen bgt flirting sm cowok:p *OMG, Annisa is out of control *LOL..LOL” (Yesterday at 7:39pm via Mobile Web)

Tepat malam itu pula, saya sempat ‘berinteraksi’ dengan seorang teman gara-gara status ‘murahan’ tersebut. Tampaknya dia tergelitik untuk berkomentar lebih jauh dan saya mendapatkan masukan baru darinya. Dia memulai dengan bertanya:

” Which one is more important to you, Life Happily or Life Means?
*kayaknya secara grammar gak tepat, tapi biarlah saya tulis tanpa dikoreksi yah :D

“I dont get it. Dont you think that meaningful life will make you happy and vice versa?” , I said

He replied: “No, if you choose life happily, it means that you’ll focus to recent time, how to make you happy. If I may say, even free sex is a such kind of life happily. Because you’ll be loved by a guy, they behave you well, you can fulfill your desire, fantasy of handsome cute guy who obey you.. Yes, they’ll do that, because they want something from you, BUT if you choose meaningful life, it means that you’ll focus to the future and sometimes you have to forget your recent happiness, restrain yourself not to buy goods, restrain yourself to wait until you find the right one to marry.. And while waiting, you restrain yourself not to have courting.”

I was paused for a minute or two. Trying to absorb the entire meaning of what he said. Although I find it as a ‘slap in my face’, but I’m happy to hear that:)
*no offence, Pik…:p *LOL

He said sorry If he was being rude to me, but I don’t think it’s rude. It’s a wake up call!

Ada hal yang sedikit mengganggu, entah apa sebenarnya definisi ‘flirting’ menurut sang kawan. Apakah dia berfikir bahwa saya akan melakukan hal yang jauh dari batas-batas yang ada dalam berhubungan.

Dalam definisi saya, ‘flirting’ adalah sebuah upaya ‘menggoda’, berbicara dengan lebih dekat ke tingkat yang lebih dalam untuk mengetahui cara pandang, kesukaan, kebiasaan, dan sampai sejauh mana ketertarikan orang tersebut terhadap saya, mengeluarkan kata-kata manis penuh puja-puji yang mampu menyanjung dan membuat hati senang dan kalau beruntung, mungkin bisa ke tahap yang lebih serius (baca:menikah). Amien..

Karena tampaknya definisi kami berbeda. *akhirnya minta tolong mr. google untuk memperkaya perspektif.

Flirting is an expression of sexuality and a common form of social interaction whereby one person obliquely indicates a romantic or sexual interest towards another. It can consist of conversation, body language, or brief physical contact. It may be one-sided or reciprocated (encouraged) with intentions of getting to know that person on a higher level.

People flirt for a number of reasons. It is often used as a means of indicating interest and gauging the other person’s interest in a relationship. Alternatively, it may simply be a prelude to casual sex.

In other situations, it may be done simply for amusement, with no intention of developing any further relationship. This type of flirting sometimes faces disapproval from others, either because it can be misinterpreted as more serious, or it may be viewed as “cheating” if the person is already in a romantic relationship with someone else.

Flirting may consist of stylized gestures, language, body language, postures, and physiologic signs which act as cues to another person. Among these, at least in Western society, are:

* Eye contact, batting eyelashes, staring, winking, etc.
* “Protean” signals, such as touching one’s hair
* Giggling, or laughing encouragingly at any slight hint of intimacy in the other’s behavior
* Casual touches; such as a woman gently touching a man’s arm during conversation
* Smiling suggestively
* Sending notes, poems, or small gifts
* Flattery
* Online chat is a common modern tactic, as well as other one-on-one and direct messaging services
* Footsie, the “feet under the table” practice
* Teasing
* Staging of “chance” encounters
* Coyness, affectedly shy or modest, marked by cute, coquettish, or artful playfulness
(sumber: wikipedia.org)

Dan buat saya, tampaknya hanya di batas “Online chat as well as other one-on-one and direct messaging services” dan “Flattery”. Karena itu adalah batas ‘teraman’ buatku. Dan bila ternyata saya salah menggunakan ‘term’, berarti saya harus banyak baca kamus lagi:) *LOL

 

.november 2, 2009.