.temporary madness.


Malam itu, seorang perempuan menangis terisak di pojok kamarnya. Hanya gelap yang menyergapnya. Dadanya terasa tertumbuk batu raksasa puluhan ton sehingga membuatnya sulit bernafas. Suara tangisnya itu menyimpan berjuta rasa rindu. Rindu yang tak seharusnya. Rindu yang dia tahu tidak akan pernah berbalas. Namun dengan egoisnya tetap bersemayam di ruang hati yang coba dia tutupi dari semua orang di sekitarnya.

Rasa itu tidak pantas! Tidak pantas lagi baginya merendahkan diri di hadapan sosok itu. Sosok yang pernah selalu ada untuknya. Yang membawa angannya terbang namun menghempaskannya dalam waktu yang tidak terlalu lama. Entah apa alasannya. Tak juga kunjung dia temukan alasan mengapa laki-laki itu berlari darinya.

Entah bagaimana lagi caranya membungkam perasaan yang hampir saja mengolok-olok logikanya. Laki-laki itu terlalu indah, terlalu tinggi untuk dimilikinya. Terlalu sempurna. Sempurna dalam kesederhanaannya. Dalam diamnya. Dalam bisunya. Dalam keterasingan yang berhasil membuat orang lain ikut terseret di dalamnya. Perempuan rapuh itu merasa tidak cukup pantas bersanding dengan kebaikan hatinya. Hati yang tidak pernah meminta sehingga mungkin akhirnya menjadi terlalu lelah dan aus.

Sosok itu terlalu baik hingga dirinya tidak menemukan alasan-alasan yang cukup untuk membencinya. Sepertinya dia lebih membenci dirinya sendiri dibandingkan laki-laki yang membuatnya seperti saat ini. Buku cinta mereka sudah lama tertutup. Digembok dan dibuang kuncinya oleh tidak adanya harapan atas kembalinya romansa itu.

Sesaat hilang akal sehatnya. Dia ingin berlari mengejar sosok itu. Melakukan hal-hal yang dulu dia lakukan untuk menunjukkan kasihnya. Membuang harga dirinya. Mengiba padanya. Namun akalnya berperang sengit dengan perasaannya. Sang logika tahu bahwa besok pagi dia hanya akan menyesali tindakan bodohnya. Namun perasaannya begitu mengiba untuk disirami cinta, hingga rela untuk membuatnya kehilangan nilai.

Di akhir pertentangan itu, logika dan perasaannya sepakat berkompromi. Walau tertatih, bibirnya hanya mengucapkan doa-doa terindah; untuk kebahagiaannya dan dirinya. Percakapannya dengan tuhan telah menyelamatkan dirinya dari rasa malu yang tidak akan sanggup dia tahan. Doanya menahannya dari melakukan kegilaan yang akan dia sesali nanti dan menerima kenyataan itu sekali lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s