.sensasi syukur.


Di tengah perjalanan pulang, mengendarai motor dari Kuningan menuju Tanah Abang, tiba-tiba terbersit satu pemikiran di sepanjang perjalanan 7 KM itu.

Pemikiran tentang pergeseran makna syukur dan nikmat.

Kembali ke beberapa tahun lalu di masa kuliah, saat uang menjadi hal yang hanya bisa dipinta ke orang tua. Saat harus bertahan di daerah orang dengan uang seadanya. Saat keterbatasan dan kesederhanaan menjadi makanan sehari-hari.

Makan ayam saja terasa nikmat. Hanya 5000 rupiah sudah cukup. Sudah lengkap dengan nasi dan sambalnya. Termasuk mewah sebenarnya bila dibandingkan dengan beberapa teman lain, mereka bisa lebih irit karena tidak selalu harus makan ayam atau daging.

Berbeda dengan lidahku yang sudah terlalu sering dimanjakan dengan makan daging atau ayam, sehingga menolak berbagai jenis sayuran.

Jadi, dapat dipastikan bahwa tiap kali sarapan, makan siang atau makan malam, pilihan menuku terbatas pada ayam panggang, ayam goreng, ayam kremes, soto ayam, gepuk, atau daging balado.
Menu yang mudah sekali ditebak=)

Harga 5000 per porsi adalah jumlah yang relatif kecil bila kubandingkan nilainya saat ini.
Tapi waktu itu, 15000 rupiah sudah merupakan batas maksimal pengeluaran tiap harinya.

Walau terbatas dana yang bisa kukeluarkan, tapi rasanya nikmat sekali tiap kali bisa makan. Bahkan dulu masih juga berusaha irit dengan mencari tempat penjual ayam yang harganya di bawah 5000=)

Kalau ada teman yang ulang tahun, senior yang sudah bekerja datang ke Purwokerto, atau mama papa nengok, aku dapat jatah traktir. Makan gratis!

Dan rasanya?

Senang bukan kepalang. Rasanya ucapan syukur tak henti-hentinya diucapkan. Syukur yang tidak hanya sekedar diucapkan di mulut.

Sekarang, saat sudah bisa mencari uang sendiri, rasa syukur yang dulu pernah begitu besar kurasakan, tiba-tiba hilang.

Makan hidangan selezat apapun atau semahal apapun, tapi tetap saja tidak dapat kualami lagi nikmatnya makan di saat kuliah dulu.

Lalu aku menyimpulkan, mungkin semakin sulit hidup dan mencari uang, maka rasa nikmat dan syukur itu akan menyeruak dengan mudah memenuhi rongga jiwa saat kebutuhan akhirnya terpenuhi.
Hingga akhirnya aku menjadi tidak habis pikir, kebaikan apa yang telah kulakukan hingga dapat merasakan nikmat sebesar itu.

Arti makan sesederhana untuk membuat perut kenyang, pikiran tenang dan hati riang.
Bukan makan agar prestise melonjok sehingga semahal apapun harganya pasti dibayar, padahal tidak sesuai selera.

Sekarang, mungkin aku menjadi tidak lagi pandai bersyukur, Ya Allah.

Mudah sekali kau berikan rezekiMu padaku, hingga mampulah aku mencoba banyak hal yang sebelumnya tidak mampu kubayar sendiri.
Dulu begitu kuhargai nilai seribu rupiah, namun sekarang tampak tak berarti.

Satu hal yang terus coba kulakukan untuk mendapatkan sensasi syukur dan nikmat yang dulu pernah kurasakan, yaitu dengan berbagi rezeki kepada orang lain.
Semoga berbagi rezeki ke orang lain rasanya akan semudah membuang uang untuk makan atau membeli barang yang kuinginkan

Sehingga biarlah kurasakan nikmat dan syukur yang orang lain rasakan setelah mereka menerima sedikit yang aku punya.

 

.september 2, 2009.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s