.i wish i’ve never been here.


Begitulah kata seorang temanku yang sekarang sedang berkuliah di negeri seberang. Takdir membawanya ke sana. Pilihan telah diambil; melepas pekerjaan di Jakarta, meninggalkan keluarga dan teman-teman tercinta juga hingar bingar ibukota.

Yang tidak pernah habis kupikir,the option seems too good to be true in the first place. Indah sekali! Dapat beasiswa, dapat uang kuliah, uang buku dan uang saku, tidak lupa dua titel menambah panjang deretan nama. Dulu, itu tampak seperti pilihan terbaik, hal terindah dan yang paling didambakan. Kami semua berlomba, berkejaran untuk mencapainya. Walau akhirnya takdir membawa jalan masing-masing ke arah yang memang telah ditunjukNya.

Pernahkah kamu begitu menginginkan sesuatu dan saat apa yang diinginkan telah diberikan, kamu tetap merasa hampa? Tetap merasa tidak puas?

Saat aku dihadapkan pada pilihan demi pilihan, aku menjadi gamang. Seringkali tidak yakin dan merasa pilihan yang tidak aku ambil tampaknya lebih baik dibandingan konsekwensi melekat atas pilihan yang telah kuambil.

Bila aku menjadi frustasi dan terpuruk dengan perasaan bersalah karena telah memilih pilihan yang ‘salah’, bisa-bisa aku menjadi gila. Namun yang kulakukan adalah mengumpulkan poin-poin ekstra dari pilihan yang telah kubuat. Mencari justifikasi bahwa pilihan ini memang yang terbaik. Namun hikmah seringkali sulit didapat. Atau aku mungkin terlalu buta untuk melihat pelajaranNYA? Melihat makna dari takdirNYA?

Tidak.. Aku tidak menyesali harus tinggal di sini. Banyak sekali rezeki dan hikmah dengan tetap tinggal dan bertahan. Hanya saja, aku menjadi bingung mengapa beberapa temanku yang tampak sangat bersemangat untuk sekolah di sana, namun ternyata ‘menceritakan’ hal yang jauh dari bayanganku. Kupikir mereka beruntung. Beruntung bisa ada di sana. Begitu juga dengan diriku, beruntung berada di sana. Rezeki dan keberuntungan kami memang di dua tempat yang berbeda. Win-win solution kan?

Aku memang tidak tahu secara lengkap mengenai kisah di sana, namun bila memang ada beberapa hal yang harus dilewatkan demi menjadi lebih baik, bila memang ada banyak hal yang harus dikorbankan demi masa depan yang lebih baik, tolong tutup mulut kami dari mengeluarkan keluhan-keluhan atas kondisi yang ada ya, Tuhan…

Jadikan diri ini ikhlas atas pilihan yang telah kubuat. Jangan lagi ada kata-kata ‘seandainya’ atau bahkan keinginan mengulang waktu agar dapat memilih pilihan berbeda yang telah diambil di saat ini.

Bila titik cerah belum juga terlihat, setidaknya jangan hilangkan harapan untuk melihat itu ya, Tuhan…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s