.aku takut jatuh cinta


Ini adalah cerita tentang apa yang ada di pikiranku. Pikiran seorang perempuan usia 24 tahun, lajang, bekerja sebagai calon PNS dan belum memiliki pasangan. Gak bisa digeneralisir juga sih kalau pemikiran ini dimiliki oleh perempuan-perempuan lain. Tapi gak ada salahnya juga mencoba untuk menyampaikan hal ini melalui notes. Bukan mengharapkan sebuah komentar ataupun sebuah ‘judgement’. Tapi sebuah usaha untuk lebih membuka diri dan akhirnya pengaharapan menjadi diri yang lebih baik lagi ke depannya.

Aku merasa takut sekali jatuh cinta. Takut menyayangi seseorang dan ternyata tidak berbalas. Bukan berarti aku tidak pernah menyukai seseorang. Sering sekali aku menyukai mereka. Bahkan dapat kukatakan aku adalah seseorang yang mudah sekali menyukai seseorang. Mudah sekali terjebak dalam sebuah perasaan yang terlalu ingin memiliki dan dimiliki.

Sampai saat ini, tidak sedikitpun terbesit wajah seseorang yang mungkin akan mendampingi hidupku. Aku menggeleng karena tidak sedikit pun dapat menggambarkan seperti apa wajahnya kelak. Pernah kah kamu berjalan dan di dalam pikiranmu, kamu selalu bertanya-tanya “Apakah Dia adalah untukku ya, Tuhan?” setiap kali bertemu seorang laki-laki yang dikenal atau bahkan wajah-wajah asing yang jalan melintas di hadapanmu -dalam perjalanan pulang kantor, menuju kampus, di atas bus, di atas motor, di dalam sebuah mall atau bahkan seseorang yang hanya lewat saja di depan rumahmu?

Aku melakukannya. Entah menyadarinya atau tidak, namun pertanyaan yang sama terus saja menggema di dalam ruang pikirku. Sampai-sampai aku berpikir kalau pemikiran dan pertanyaan seperti itu malah akan menjauhkanku dari jodohku yang sebenarnya. Saking aku terlalu penasaran, saking aku terlalu ingin tahu siapakah gerangan orang tersebut.

Setiap kali ada seorang laki-laki yang bersikap manis, baik, dan perhatian selalu saja ada rasa ‘begitu dihargai’ dan dengan mudahnya aku menyukainya. Belakangan baru aku ketahui bahwa sikap itu hanyalah sikap ‘basa-basi’ laki-laki yang memang senang sekali bersikap manis kepada semua perempuan dan tanpa mereka sadari seringkali ‘menjebak’ perempuan. Atau mungkin maksudku, menjebak perempuan dalam pikirannya sendiri bahwa mereka (baca: laki-laki) menyukai dirinya.

Mudah sekali akal dan perasaan ini dipermainkan. Aku bukan menyalahkan laki-laki, namun menyalahkan diri ini yang demikian rapuh mendamba seseorang yang sungguh menyayangiku, sampai-sampai sedikit saja perhatian dari wujud tersebut mampu membawa angan yang begitu jauh dan indah. Fool me!

Riwayat jatuh cintaku boleh dikatakan buruk. Semua tidak berbalas.

Apakah aku menyukai orang yang salah?
Atau memang ada yang salah dengan diriku sampai perasaan itu tidak berbalas?

Kadang aku benci menjadi seorang perempuan dengan budaya dan pemikiran kolot dalam dunia yang sangat konservatif seperti ini; yang menganggap bahwa perempuan tidak seharusnya menyatakan perasaan duluan, yang merasa lebih mudah membalas menyukai bila sang laki-laki terlebih dahulu menyukainya, yang merasa tidak punya tangan dan kaki serta keberanian untuk menunjukkan perasaan sayang kepada mereka karena ketakutan dianggap sebagai perempuan ‘genit atau kegatelan’ (atau apalah label yang diberikan oleh ‘masyarakat’).

Namun aku terkungkung di dalamnya dan aku sangat takut sekali mencoba (bahkan mencoba!) untuk menunjukkan perasaan lebih yang kumiliki kepada seseorang yang kusayangi. Apakah hal tersebut tidak layak??? Tidak layakkah mencari celah hati di dalam diri laki-laki yang dapat kumasuki untuk kudiami di dalamnya?

Bukan berarti aku tidak pernah mencoba menyatakannya. Aku pernah mencobanya. Dan rasanya sangat terbuang saat mengetahui bahwa perasaan itu hanya ada di pihakku.

Saat ini aku menjadi jengah dan rasa takut itu begitu menjadi-jadi sehingga aku menjadi takut berharap.

Aku takut berharap, bahkan aku takut membayangkannya; Mengkhayalkan si A yang begitu cerdas, si B yang begitu menarik, si C yang begitu dewasa atau si D yang begitu unik dan mengharap salah satu dari mereka menyukaiku.

Rasanya aku belajar bahwa apa yang benar-benar kuinginkan seringkali tidak menjadi nyata. Aku bermimpi tinggi dan dengan mudahnya aku terjatuh oleh realita. Sakit! Sehingga aku berfikir bahwa cara terbaik untuk dapat bertahan dalam hidup ini adalah dengan tidak menginginkan apapun. Membunuh ekspektasi yang terlalu tinggi dan menjaga diri dari menginginkan sesuatu yang mungkin terlalu berlebihan untuk diri ini.

Walau mencoba untuk tidak banyak berharap, namun ada sedikiit saja harapan. Aku ingin mendapatkan kesempatan ya, Allah. Kesempatan untuk mendapatkan diri ini kesempatan untuk lebih dikenal dengan baik oleh seseorang. Biarkan orang tersebut masuk ke kehidupanku. Mengenal diriku. AKu tahu aku cukup baik untuk seorang laki-laki, walau entah kapan laki-laki tersebut sampai pada kesadaran demikian.

Please just give me one shot to be loved…

 

.october 6. 2009.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s