.teman-temanku itu.


Teman-temanku itu…
Adalah teman-teman yang selama 6 tahun terakhir berada di duniaku yang sepi.
Sepi, karena sedikit sekali orang yang kubiarkan masuk dan menjadi bagian darinya.
Bukan salah orang-orang, tapi memang aku selalu punya masalah dengan hubungan terhadap sesama. Mungkin terlalu nyaman di dunia buatanku sendiri. Terlalu takut berbaur dengan banyak orang di lingkungan -yang kupikir- tidak cukup ‘aman dan nyaman’ bagi keterasingan jiwaku.

Teman-temanku itu…
Yang sempat menjadi partner debatku, pelatih galakku, teman bermainku, seniorku, juniorku, lawan tanding debatku, teman latihanku, PO-ku, SC-ku, teman adu pendapatku, supporter sejatiku, kakakku, adikku dan semua titel yang pernah menempel pada mereka saat duniaku dan dunia mereka dipertemukan dalam naungan UNSOED, SEF, ENGLISH DEBATING SOCIETY, Jurusan KOMUINIKASI, dan beragam hal yang menjadikan kami satu.

Teman-temanku itu…
Yang pernah ‘kubuang’ hanya karena keegoisan, ketidakdewasaan serta kegagalanku membedakan antara apa HARUS dilakukan, disamping melakukan apa yang INGIN aku lakukan.
Yang kuhapus dari daftar pertemanaku karena kemarahan yang salah tempat gara-gara laki-laki bodoh dan pengecut yang takut menghadapi masa depan.

Teman-temanku itu…
Yang selalu memberiku kebebasan, privasi, cara pandang dan banyak ide brilian. Namun tidak pernah ikut campur dan sok tahu tentang jatuh bangunnya diriku. Yang tidak pernah usil dan mengusik duniaku. Yang menghargai diriku apa adanya dan menerima kelebihan serta kekurangan masing-masing.

Teman-temanku itu…
Yang membuatku selalu nyaman, sebodoh apapun aku, sejelek apapun aku, seaneh apapun aku, semiskin apapun aku, serendah diri apapun aku, sampai saat aku berada di kemapanan yang sedang kurintis saat ini. Itu karena masing-masing dari kami ingin hidup dengan diri kami yang apa adanya. Tanpa persaingan untuk menunjukkan siapa yang lebih hebat atau siapa yang lebih sukses.
Karena kami merasa jengah dengan komunitas palsu yang penuh dengan kesombongan serta angkuh diri yang hanya berkomunikasi lewat beragam cerita penuh riya tentang kehebatan pribadi serta hanya mampu menjelekkan orang lain.

Teman-temanku itu…
Yang membuatku tidak perlu menjadi diri orang lain hanya agar dapat diterima dengan baik.

Teman-temanku itu…
Yang mau menerimaku kembali walau aku telah mengecewakan mereka.

Teman-temanku itu…
Tidak datang mengikuti siang dan tidak pergi mengikuti malam.

Teman-temanku itu…
Adalah sahabat yang telah teruji.

Biarlah persahabatan kami abadi. Biarlah keunikan kami menjadi warna. Kami tidak selalu seiya sekata, tapi kami tahu bahwa kami terikat.

Dan berlapis ikatan ini, awalnya hanya dimulai dengan sebuah kata: ‘DEBAT’.

Beruntungnya aku…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s