.take care of me, and I’ll take care of you.


Kata-kata di atas adalah hal yang aku simpulkan dari hubungan-hubunganku dengan orang lain.
Kalau kita mau ‘menjaga’ orang lain, maka orang tersebut pun akan ‘menjaga’ kita. Apapun makna ‘menjaga’ yang dimaksud. Sebaliknya, kalau bersifat egois dan tidak mau peduli urusan serta kebutuhan orang lain, maka jangan harap orang lain pun mau peduli dan memahami kebutuhan kita.

Saat aku berhubungan dengan orang lain, aku selalu menjadi ‘bunglon’. Entah hal ini baik atau tidak, tapi aku ‘pandai’ membaca kebutuhan orang lain serta tahu apa ‘treatment’ yang tepat untuk membuat mereka nyaman denganku. Aku bisa melakukan pendekatan yang tepat untuk membuat mereka membuka diri terhadapku (kalau aku mau!).

Puji mereka. Dengarkan dengan hati untuk setiap cerita mereka -seberapapun gak pentingnya cerita tersebut:). Perhatikan apa kesukaan mereka -pada saat yang tepat, tunjukkan bahwa kita memperhatikan mereka, mereka akan terkejut karena tidak sadar bahwa selama ini mereka diperhatikan. Perhatikan perubahan mimik muka serta emosi mereka. Bermurah senyum. Yang paling penting, menempatkan diri ke dalam situasi mereka dan mengambil sikap yang tepat. Untuk tahu bagaimana sikap yang tepat, tempatkanlah diri kita dalam posisi mereka dan bayangkanlah respon seperti apa yang kita ingin dari orang lain.

Setidaknya itulah yang aku lakukan untuk membuat orang senang berada ada di dekatku.

Permasalahannya, seringkali aku memiliki ‘standar’ yang sama dengan ‘standar’ yang aku terapkan dalam hubunganku dengan orang lain. Saat aku kecewa, aku bisa mudah sekali menarik diri dari hubunganku dengan orang lain. Saat aku menarik diri, sebagian dari mereka ada yang merasa bahwa ada perubahan dalam sikapku. Mereka bilang, aku bersikap tidak seperti biasanya, kadang tidak bisa kujelaskan mengapa.

Mungkin aku menjadi egois dan berkata kepada diriku sendiri untuk acuh kepada mereka yang mengacuhkanku. Aku berfikir strategis untuk tidak ‘membuang waktu’ kepada orang yang memang mengecewakanku.

Hubungan memang seharusnya bersifat resiprokal. Dalam bahasa sederhananya, harus ada timbal balik antara satu individu dengan individu lainnya. Artinya, dalam berhubungan ada kepentingan yang saling terpenuhi. Ada kebutuhan yang saling terlengkapi. Ada mimpi yang didukung. Ada banyak pemikiran yang diamini. Ada rasa sayang dan perhatian yang berbalas. Apapun dalam kesetaraan antara keduanya. Saat hubungan ini menjadi berat sebelah, maka sudah tidak mungkin setara dan semuanya menjadi tidak ‘seimbang’ bagi kedua belah pihak.

Mengenal diri sendiri dengan baik akan membantu proses mengenal orang lain dengan lebih baik.
Kita sebenarnya selalu tahu bagaimana caranya membuat orang menyayangi dan peduli kita.
Pertanyaannya, sampai sejauh mana kita mau menekan sikap egois yang ada di diri dan menyadari arti penting hadirnya orang lain. Sehingga tidak selalu menganggap bahwa dunia ini milik sendiri dan kita bebas melakukan apapun sesuka kita. Ini termasuk bagaimana memperlakukan orang lain.

Aku selalu percaya; apa yang kutanam adalah apa yang akan kutuai.
Semoga Tuhan memberikan banyak kesempatan untukku menanam kebaikan-kebaikan dalam hidup orang lain di sekitarku. Amien…

At the end, even if they don’t care about me, God will take care of me… Amien:)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s