.so long and goodbye, my dear.


Seorang teman baik akan pergi mengejar cita-cita dan kuliah di negeri orang… Oops… Sebenarnya ada 5 teman yang akan pergi, tapi karena kedekatan yang lebih-dari-sekedar-kedekatan-antar-teman-biasa, maka rasa kehilangan sudah pasti akan terasa di dalam diri.

Dia bukanlah gambaran teman baik yang ideal buatku (oops…sorry to say, but it’s true,mba=)).

Terlalu lugas, ceplas-ceplos, kadang klo ngomong tuh pedas, kasar, dan gak pandang bulu.

No… No… Aku gak terlalu suka teman yang kurang bisa memilih diksi yang ‘tepat’ dalam menyampaikan emosinya (well, simpelnya, aku ga suka teman yang terlalu banyak ceplas-ceplos=)

Tapi karena satu, dua, tiga, empat, lima dan ternyata banyak kesamaan, kedekatan itu terjalin tanpa kusadari.

Saat itu mungkin dimulai dengan kesamaan kisah cinta (halah!:p) kita berdua.

Kita berdua sama-sama lemah, rapuh dan tahu bahwa selama ini kita berpura-pura untuk kuat dan menerima kenyataan bahwa kami sebenarnya dicampakkan.
Mencari berbagai alasan untuk membenarkan perlakuan yang sebenarnya (menurut kami!:p) tidak pantas kami terima.

Saat dia terpuruk, akulah si kuat.

Saat aku menjadi si lemah, dialah yang berdiri tegak dan menyampaikan semua kata-kata penuh keoptimisan tentang betapa tuhan adil dan bahwa kita akan menemukan ‘the man who cant be moved.’

Kata-kata penuh semangat itu sangat familiar aku dengar.
Oia, aku ingat, kata-kata itulah yang pernah terlontar dari mulutku dulu saat dia terpuruk. Sekarang dia memuntahkan kembali kata-kata yang mirip dengan yang pernah kukatakan untuk ‘menampar’ dia saat rapuh.

Siklus ‘si kuat dan si lemah’ itu selalu saja berputar, bergantian. Tidak pernah berhenti. (Stidaknya sampai sekarang=).

Lucu bila kau merasa bahwa seseorang tidak akan pernah jadi teman baikmu hanya karena kesan pertamanya yang tidak terlalu baik. Kemudian pada kenyataannya, semua berbalik 180 derajat.

Namun, itulah yang terjadi antara diriku dengan teman-baikku-yang-minggu-depan-akan-berangkat-ke-KL-setelah-beragam-ketidakjelasan-program-beasiswa-diknas-ditambah-isu-manohara-ambalat-dan-ganyang-malaysia:p

Banyak hal yang tidak jelas di masa depan (Hmm, tomorrow is a mystery,huh?:p). Tapi jelas sekali aku akan merindukan dia nanti.

Anehnya, saat ini aku tidak (baca: belum) merasa sedih. (Well, sejujurnya lebih terasa sedih karena gak bisa ikut berangkat kuliah bareng mereka di negeri orang:)).

Atau jangan-jangan selama ini aku membohongi diri bahwa aku akan kuat, tidak menangis dan sedih saat dia pergi?

Sama seperti saat dulu az pergi dari hidupku.
I kept pretending that I’ll be ok, I’ll be strong, and I’ll be just fine.
As a matter of fact, 6 months passed by and I am still stranded in the same old place:p (well,it’s NOT something I am proud of!)

Saat ini aku masih kuat. Aku tidak menangis. Aku tidak sedih. Tapi entahlah saat berhari-hari kemudian saat aku mulai sadar bahwa dia tidak ‘benar-benar’ ada di dekat aku, bekerja di daerah Kramat yang dekat dengan kantorku, nebeng ke kampus dengan motorku, berjalan-jalan ke kota tua dengan tas backpack dan kameranya, dan berceloteh dengan gaya ceplas-ceplosnya (yang dulu pernah tidak kusuka!).

Tapi apalagi yang bisa kulakukan?

Aku bilang padanya, ‘ No tears for a brighter future!’
Iya, ini adalah untuk masa depannya.. masa depanku.. masa depan yang lebih baik tentunya=)

At the end, I should be smiling when I see her back slowly moves against me.

Things will never be the same again. But the last two semesters were stories to be remembered and cherished=)

So long and good bye, my dear=)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s