.ramadhan tahun lalu denganmu.


Ramadhan tahun lalu, kamu masih ada di sisiku.
Kamu bilang, ‘Bangunkanku saat sahur nanti ya…’

Berjam-jam kita habiskan untuk bercerita lewat telepon. Padahal pukul 12 malam baru saja usai, begitu juga jam kerjamu. Namun menghabiskan waktu bersamamu lewat handphone ini, bahkan sampai Sahur menjelang terasa sangat menyenangkan.

Kamu selalu mendengarkan cerita membosankanku tentang sulitnya mencari kerja, tentang kegagalanku dalam ujian saringan masuk, tentang bosannya menunggu di rumah, tentang kuliah yang mulai menarik perhatianku, begitu juga dengan teman baru di kampus yang punya segudang cerita dan keunikan. Kamu ada di cerita itu. Di malam-malam panjang itu. Hanya sekedar meminjamkan telingamu dan mengatakan betapa menariknya cerita-cerita hidupku dibandingkan dengan 9 jam yang kamu habiskan di belakang meja kantormu menerima semua keluhan pelanggan.
Aku ingin sekali berhenti bercerita, tapi kamu terus meminta cerita lain.

Ya, begitulah malam-malam di bulan Ramadhan tahun lalu berakhir.
Aku punya daya ingat yang sangat buruk, tapi aku ingat bahwa Ramadhan tahun lalu teman baikmu menginap di rumahmu. Mengatakan betapa beruntungnya kamu memiliki aku.

Aku juga ingat saat kamu sengaja menjemputku sepulang kuliah. Kita sama-sama merasa lelah setelah seharian beraktivitas dan berpuasa, namun kaki kita tetap melangkah. Melangkah ke sebuah tempat makan malam yang indah di atas gedung pencakar langit.
Saat itu, aku berharap bahwa moment indah ini akan terus terjadi di antara kita.

Tapi saat ini, aku berharap agar ingatanku menjadi buruk sehingga aku tidak bisa lagi mengenang saat-saat itu.

Ramadhan tahun lalu, aku berdoa pada Tuhan. Agar tetap menjagamu dan mendekatkan ikatan ini bila memang kamu ditakdirkan untukku. Aku juga memohon padaNya, bila memang diriku bukan untukmu, maka jauhkanlah diri ini. Agar tidak sakit bila memang harus berakhir.
Ternyata perih itu masih terasa hingga detik ini.
Ramadhanku tahun lalu hanya sekedar cerita dalam ‘notes’, kisah indah yang menjadi sedih. Tidak seromantis kisah Romeo dan Juliet, Nick dan Norah, Pasangan Juno, atau pasangan lainnya. Karena kamu memang tidak romantis.

Semoga kisah Ramadhanku tahun ini akan membuatku tersenyum setiap saat aku mengingatnya. Walau tidak lagi ada dirimu di dalamnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s