.my personal lab of life.


Kemarin, seorang teman menelepon dari Aussie. Sengaja menanyakan nomor hapeku setelah membaca status serta notes-ku. Aku gak pernah mengira akan menerima telepon itu, terlebih hubungan kami juga tidak terlalu dekat, tapi aku bersyukur, ternyata banyak teman yang ternyata perhatian dengan kondisiku.

Kami ngobrol cukup lama di telepon, berbagi dan aku mendapat banyak sekali masukan. Kemudian aku teringat, betapa Facebook mampu menunjukkan sisi manusiawi tiap manusia, bahkan orang yang kuanggap sempurna dan bahagia seperti temanku itu pun ternyata mengalami jatuh bangun selayaknya diriku. Hm, but that’s not what I’m about to share in this notes:)

Mungkin tepat sekali ungkapan yang mengatakan ‘what you give is what you get’ , karena sungguh, aku yakin bahwa niat baik akan kembali ke kita dalam bentuk kebaikan, selayaknya niat buruk akan menghampiri dalam bentuk keburukan yang akan dialami.

Akhir-akhir ini aku intens ‘berbagi’ lewat facebook, namun di sisi lain, intensitasku menelepon, bahkan mengirim sms berkurang drastis.

Tapi, ternyata aku tetap bisa ‘memantau’ kondisi teman-temanku melalui situs ini.

Aku seperti memiliki ‘laboratorium pribadi’ yang di dalamnya terdapat banyak interaksi yang terjalin antara satu orang dengan orang lainnya. Laboratorium pribadi ini memungkinkanku ‘bereksperimen’ dalam kehidupan. Bukan dalam artian yang negatif tentunya, tapi aku merasa bahwa jalinan pertemanan yang terbentuk di situs ini sebagai ‘dunia kecil’ milikku. Sebuah dunia yang membuatku mampu mengidentifikasi beragam sikap, reaksi, perasaan, bahkan kepribadian teman-temanku. Sebuah hal yang sangat sulit dilakukan di dunia nyata karena adanya keterbatasan waktu dan kesempatan untuk berinteraksi.

Dunia kecil ini adalah tempatku belajar bagaimana bersikap, berfikir serta berbagi.

Aku suka memperhatikan orang, hal ini sudah sejak dulu aku lakukan. Entah mengapa mengamati perilaku orang lain sangat menarik untukku. Aku suka mengetahui apa yang mereka rasakan atau pikirkan dan mencari tahu, apa yang bisa aku lakukan.

Bahkan aku juga mengidentifikasikan diriku ke dalam sikap-sikap tertentu yang ditunjukkan teman-temanku dalam situasi tertentu. Aku belajar bahwa kekecewaan tidak harus selalu direspon dengan kemarahan atau kesedihan (seperti yang selama ini aku lakukan), aku melihat dari orang lain bahwa cara mengatasi kekecewaan sangatlah beragam. Aku mendapatkan alternatif sikap yang bisa juga kuambil dan inilah yang kusebut dengan ‘belajar’.

Lewat status atau notes, bisa aku ketahui bahwa banyak orang yang bersedih, terluka, merasa tersakiti dan kecewa. Terkadang aku memilih diam, tidak memberikan komentar apapun karena kupikir ‘moment’nya tidak pas.

I try to put myself in other’s shoes
Saat mereka mengungkapkannya, bukan berarti mereka berteriak minta dikasihani atau minta bantuan. Seringkali hanya mengungkapkan apa yang dirasa, melepaskan sedikit beban serta ingin didengar.Tanpa perlu penilaian, penghakiman ataupun ceramah panjang lebar tentang apa yang seharusnya dilakukan untuk keluar dari keterpurukan tersebut. Aku berfikir demikian karena itulah yang aku rasakan dalam situasi yang sama.

Oleh karena itu, aku memilih diam. Menunggu waktu yang tepat untuk menunjukkan bahwa aku siap membantu, bahwa aku tahu beban hidup mereka berat, dan aku bersedia meminjamkan bahu, telinga dan hatiku bila mereka mengizinkanku untuk berbagi tangis itu.

Di lain kesempatan, aku melihat betapa kebahagiaan menjadi bagian dari kehidupan teman-temanku, lebih banyak berita tersebar. Hmm, biasanya berita bahagia menyebar dengan lebih cepat. Menurutku, orang lebih mudah berbagi perasaan bahagia dibandingkan perasaan sedih. Bahkan, sebagian orang cenderung tertutup menunjukkan perasaan sakit dan terluka karena tidak mau disebut cengeng, lemah, tidak dewasa, melankolis, atau karena ingin ‘terlihat’ sempurna (sehingga orang lain berfikir bahwa kehidupannya bahagia, semua masalah bisa dihadapi dan diselesaikan, kondisi emosional juga stabil dan semua baik-baik saja dengan dirinya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan -padahal tidak demikian!).

Namun di sisi lain, ada pula orang-orang yang senang berbagi perasaannya, mudah sekali bagi mereka mununjukkan rasa sedih, bahagia, atau kesal. Latar belakang yang berbeda, tentu saja mendasari perbedaan sikap ini.

Perbedaan-perbedaan ini membuatku semakin kaya akan pemahaman tentang manusia.

Aku selalu mencoba memperlakukan teman-temanku dengan istimewa (seistimewa arti hadir mereka dalam hidupku). Dan laboratorium pribadiku ‘mengajariku’ bagaimana memperlakukan mereka dengan tepat.

Lab pribadi ini memberikan ‘kunci’ akan ‘misteri’ sikap manusia dan ‘rahasia’ untuk dekat dengan teman-temanku. Aku belajar bahwa dengan pendekatan dan sikap yang tepat, akan mudah bagi orang lain untuk berbagi apa yang mereka rasakan. Aku belajar ‘membaca’ orang lain melalui tiap perubahan sikap, perasaan, dan pilihan kata yang digunakan. Dan hingga saat ini aku masih belajar untuk bersikap dengan tepat. Inilah manfaat lain yang kudapat dari ‘kecanduanku’ terhadap Facebook.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s