.doubt.


Saat aku mencari pekerjaan, entah apa yang aku kejar. Sejujurnya, aku takut untuk segera lulus kuliah waktu itu. Bahkan menunda kelulusan hingga 4,5 tahun dengan berbagai alasan; karena masa jabatanku yang belum selesai di SEF lah, karena ambisiku untuk jadi juara debat tingkat nasional lah, karena menunggu kepastian beasiswa unggulanku ke Malaysia lah dan beragam alasan semu lainnya..

Stlh 4,5 tahun, aku tahu aku harus segera pergi dari Purwokerto. Targetku hanya ingin cumlaude, artinya, sebelum tahun ke-5 aku harus sudah menyelesaikan semuanya. Aku ingin membanggakan orang tuaku. Ingin mereka bisa salaman dengan pak rektor dan ingin mereka mendengar namaku menggaung di seantero gedung Soemardjito. Tapi setelah lulus, aku takut dan khawatir tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Hm, bahkan makna layak pun tidak bisa aku terjemahkan. Aku benar-benar tidak punya cita-cita, pekerjaan seperti apa yang kuinginkan. Untuk itulah, aku bahkan tidak tahu apa yang harus aku kejar. Pekerjaan apa yang harus kumiliki.

Setiap kali orang bertanya, aku bingung menjawabnya. Aku tidak cantik, tidak pernah aku cukup percaya diri untuk menjadi PR di perusahaan ternama.

Aku pula tidak cukup kritis dalam menulis, sehingga tidak yakinlah diriku untuk menjadi wartawan.

Aku juga merasa bosan mengajar, maka menjadi guru/ instruktur/ fasilitator/ mentor atau apapun namanya pun aku tidak mau.

Aku seperti tahu apa yang tidak kuinginkan, tapi aku tidak tahu apa yang benar-benar kuinginkan.

Dalam setiap sholatku, aku gagap meminta pada tuhan, pekerjaan apa yang kuingikan, hanya bisa memohon petunjukNya agar aku segera mendapat pekerjaan terbaik -apapun itu.

Satu tahun aku tidak punya pekerjaan tetap. Untung saja, di bulan ke-7, aku mendapat kesempatan beasiswa kuliah S2. Tidak perlulah lagi aku malu bila ada yang bertanya dimana tempatku bekerja. Dengan enteng bisa kujawab, ‘saya sedang melanjutkan studi saya.’

Tapi tetap saja resah terasa. Mau makan dan dapat ongkos transportasi dari mana bila aku tidak bekerja? Bapak ibupun sedang kesulitan. Tidaklah layak aku menengadahkan tangan terus-menerus kepada mereka.

Tiap kali gagal tes di Asian Tiger, Freeport, Premiere Oil, BKPM, DEPKEU dan DEPLU, tiap kali itu pulalah intelektualitasku dipertaruhkan. Tuhan, pekerjaan apa yang layak untukku? Gagal terus, membuatku semakin tidak percaya diri. Atau mungkin karena memang saya melangkah dengan setengah hati kesana, sehingga Tuhan tidak kunjung memberikan amanat pekerjaan itu kepada saya.

Di tengah masa frustasi dan kecewa, seorang teman pernah berkata kepada saya, “Tuhan sedang sibuk mencarikan pekerjaan yang cocok dengan talentamu. Bersabarlah.”

Iya, mgkn tuhan sibuk mencari pekerjaan yang tepat untukku, bahkan diriku sendiri tidak tahu pekerjaan apa yang benar-benar kuinginkan, bagaimana mungkin tuhan bisa meng-ijabah doaku?

Tiap roda akhirnya akan berputar ke atas dan ke bawah.

Tibalah saatnya rodaku di atas. Tiga ujianku di KPPU, DEPT PERDAGANGAN dan DEPT PERHUBUNGAN ternyata diterima hingga tahap akhir. Aku kembali percaya diri. Bahkan menjadi terlalu bingung.

Mana yang harus aku pilih?

Kalaupun sudah kupilih, bagaimana dengan kuliah S2ku?

Bagaimana dengan kesempatanku mendapat double degree di Malaysia?

Banyak sekali kebimbangan. Sungguh manusia memang lemah. Menganggap telah mengerti apa yang diinginkan, namun kemudian menjadi bimbang setelah mendapatkan yang diinginkan.

Aneh! Menjadi seorang PNS tidak pernah ada dalam imajiku. Awalnya hanya tertarik mengikuti euphoria tes CPNS yang bertebaran dimana-mana. Mungkin inilah jalan tuhan untukku. Entah apa yang menggerakkanku untuk ikut melamar.

Mungkin tangan Tuhan yang tak tampak yang membantuku. Sekarang aku hanya menjalankan semua yang ada dihadapanku dan mensyukuri semua yang telah kumiliki. Menikmati tiap rangkaian rencana tuhan atas hidup ini. Begitu pula dengan urusan jodoh.

Hampir 24 tahun hidupku, tidak ada seorang laki-lakipun yang pernah benar-benar peduli padaku. Mereka bilang, aku terlalu sibuk belajar. Apa benar demikian? Tidak! Aku sebenarnya ingin juga merasakan dicintai dan disayangi. Namun, tampaknya aku harus bersabar.

Biarlah nanti aku tidak punya pengalaman berpacaran, tapi sungguh-sungguh akan kuhargai dan sayangi laki-laki kiriman Tuhan untukku. Membayangkan bisa dilamar dan menikah pun terlalu takut kulakukan. Siapa yang mau menerimaku apa adanya?

Sama seperti mencari pekerjaan, aku hanya berpasrah. Lagi-lagi aku tidak tahu laki-laki seperti apa yang kuinginkan. Aku tidak percaya diri. Hanya bisa meminta Tuhan memilihkan yang terbaik untukku. Kemudian, apakah memilih pekerjaan sama dengan menikah? Aku mencari dia. Terlalu berharap dia segera datang.

Tapi apa aku benar-benar siap? Entahlah… Ketidaktahuanku akan masa depan yang membuatku sedih. Mengingat kembali perkataan temanku, mungkin saat ini tuhan sedang sibuk mencarikan pasangan untukku agar nanti bisa saling melengkapi.

Genapkanlah kebahagiaanku ya Allah. Jangan biarkan aku menunggunya terlalu lama… Amin ya rabbal’alamiin..

*seringkali kita tidak tahu apa yang diinginkan. Bila demikian adanya, semoga cahaya Tuhan mampu memberikan arahan menuju kebahagiaan hakiki.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s