.bertahanlah baby.


Minggu malam, seperti biasa aku pulang menuju Jakarta untuk kembali beraktivitas lagi di esok hari.
Ini sudah menjadi semacam ritual karena aku gak mau terjebak macet di hari senin pagi dalam perjalanan Tangerang – Jakarta.

Sekarang aku selalu berangkat kerja dan kuliah dengan motor bututku.
13 tahun usianya. Dan sudah 9 tahun dia menemani hidupku.

Mulai dari SMA -sempat ada tragedi nabrak motor guru di tempat parkir=) Motor itu juga yang nemenin aku kursus. Jadi ojek untuk teman-teman yang pulangnya searah denganku. Saat aku kuliah, si baby motor juga setia menemani di Purwokerto. Diajak jalan keliling kampus, kota Purwokerto, dagang sprei di GOR satria, bahkan keliling Barlingmascakeb -Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen- untuk memenuhi tawaran menjadi adju debat.
Si baby motor selalu setia dan membantuku meraih gelar sarjana.

Sekarang, saat aku bekerja pun, sang motor tetap ada di sampingku. Sudah terlalu tua memang, namun dia tidak pernah banyak merongrong. Tampaknya paham bahwa sang pemilik tidak terlalu telaten. 9 tahun bersamanya, aku tahu apa saja ‘penyakit kambuhan’ si baby; oli samping harus terus tersedia, busi sering brmasalah, penunjuk bensin yang tidak bekerja, aki yang soak, kesulitan menyelah dan sambungan knalpot sering terlepas.

Sering kali banyak orang ‘menyerah’ kalau mau naik si baby. Katanya, terlalu banyak rongrongan. Tapi entah knp, baby selalu ‘nurut’ sama aku.

Di samping dipakai untuk bekerja, baby motor juga diajak ke kampusku di daerah Sudirman. Ya, alasan praktis lah yang membuatku memakai motor di Jakarta ini. Karena kalau tidak, akan habis waktuku menunggu patas yang hanya datang pada jam-jam tertentu dari Tanah Abang ke Kramat (red. Tempat aku kerja). Selain itu, perjalanan dari Kramat ke Sudirman juga menjadi masalah lain. Keluar kantor jam 5 sore dan menuju kampus selalu saja macet. Naik busway ribet ngantri, naik patas 67, lemotnya minta ampun -bisa-bisa sampai kampus udah bubar. Sang baby motor lagi-lagi setia menemani. Bahkan ada langganan tetap kalau mau ke kampus. Jadilah sang baby ojek langganan.

Lalu lintas Jakarta yang padat, membuat baby tampak kelelahan. Tornado 1996-ku kalah bersaing dengan motor-motor keluaran terbaru. Tidak dapat lagi kupacu kencang atau meliuk-liuk melewati mobil serta motor yang mengantri di jalanan padat. Yang terjadi, aku malah kelelahan sampai kampus karena terlalu capek mengendarai motor tua ini.

Mama dan bapak ingin aku mengumpulkan uang untuk membeli motor pengganti. Menunggu gaji ke-13, saran mereka. Setidaknya harus mencari yang lebih muda tahunnya dari pada si Baby.
Tapi ada rasa kehilangan yang amat sangat bila aku harus menjual baby. well, baby memang gak bisa bertahan terlalu lama di Jakarta. Sudah saatnya dia beristirahat.

Aku sayang baby motorku. Satu-satunya sahabat setia yang tidak pernah mengeluh dan selalu ada saat aku membutuhkannya.

Tetap bertahan ya, baby.. Sampai aku dapat gelar masterku.. Amien…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s