.15000.


Rp. 15000 uang yang aku pegang tiap kali berangkat ke kampus untuk kuliah. Namanya juga kuliah gratis, makanya nominal uang yang kupegang sebagai ongkos berangkat dan pulang kuliah terlihat ‘wajar’. Gak mampu diriku atau orang tuaku membiayai kuliah S2. Untung ada beasiswa. Jadi walau cuma ada 15.000 di tangan, kuliah tetap jalan=) Alhamdulillah…

Sejak dulu, gw gak pernah mau kuliah di Jakarta (selain di UI – yang tyt gak ksampaian=)) ataupun di universitas swasta (yang ternyata luluh oleh tawaran beasiswa DIKNAS=)).

Knp gak mau di Jakarta?
Karena gak mau macet-macetan dan berdiri di atas bus kejar-kejaran waktu dengan jadwal kuliah.
Dulu, kalau gw naik bus, gw suka aneh dan bingung sama anak-anak sekolah dan kuliah yang ‘rela’ sekolah dan kuliah dengan berdesak-desakan di atas bus menuju Jakarta.

Eh, malah kena karma sndiri. Skrg gw bolak/ik naik bus ke Jakarta.
Uwft..

Kenapa gak mau swasta?
Karena menurut gw, bangga banget bisa kuliah di univ. Negeri dan lolos SPMB (baca: SNMPTN). Waaa…bangga banget lah bisa ngalahin ratusan ribu pesaing masuk perguruan tinggi negeri. Kalau di swasta mah yang penting punya uang. Bayar uang masuk puluhan juta, biaya semesteran berjuta-juta. Beda sama UNSOED yg cuma bayar biaya masuk (waktu itu!) kurang dari 1 juta dan biaya per semester 400rb rupiah saja.

Yah, jangan heran, keluargaku memang pas-pasan. Jadi, bapak selalu mewanti-wanti. Kalau mau kuliah, harus di Univ. Negeri. Klo gagal, gak usah kuliah sekalian. Bapak Ibu gak sanggup membiayai.

Nah, dari situ jadi tambah termotivasi untuk msk univ. Negeri. Selain karena kebanggaan, juga urusan duit yang gak bikin pusing bapak ibu.

Jadi, walaupun orang-orang gak ngerti UNSOED Purwokerto. Lama2 juga nanti paham betapa hebatnya kampus itu:D hahaha…
Kalah saing hanya karena akses ke daerah lebih sulit aja kok. SDMnya? Gak kalah hebring euy=) wkwkwk…

Nah, balik ke uang Rp. 15.000,-
Tiap ke kampus yang 3 kali dalam seminggu, aku dikasih ongkos hanya 15.000. Bapak ibu gak bisa kasih ongkos lebih karena memang punya masalah keuangan.

Uang 15.000 tuh berarti bgt.
Dari rumah menuju ke Prapatan Sinta (untuk naik patas ke Jakarta) : Rp. 2000

Alternatif 1:
Naik patas AC 62 dan berhenti langsung di depan kampus di daerah Sudirman: Rp. 6500,-
(Dulu, sebelum sadar betapa hidup harus irit, aku lebih suka naik bus AC. Batinku, wong cuma beda 3rb perak aja kok milih naik bus non AC yg super panas? 3rb kan gak tll besar nilainya!

Wah, ternyata pikiranku dulu sama sekali gak ekonomis. Sejak tahu hidup di Jakarta tuh susah, aku beralih ke Patas non AC, sebut saja bus favoritku, patas 45. Yang super reot, lama kalau ngetem, penuh sesak, bergoncang, namun murah dan cepat kalau jalan di tol:D

Alternatif 2:
Ya, sekarang aku lebih memilih naik patas 45 daripada bus AC. Lumayan irit. Ongkosnya dulu 3000 (sekarang turun jadi Rp.2500). Trus turun di Slipi Bawah dan nyambung lagi naik patas 213 turun di Sahid Sudirman. Biayanya 2000.
Lumayan bisa irit Rp.1500 dibandingkan naik patas AC yang 6500 itu.
Nah, total biaya brngkat ke kampus adalah 2000 + 3000 + 2000 = 7000,-

Dari 15.000, masih ada sisa 8000 utk ongkos plg. Untung aja di kampus dapat snack gratis, jadi ga perlu makan malam lagi (mksudnya, bias menunda lapar nanti sampai di rumah=)).
Pulang kuliah, naik patas 213 lg ke Slipi, Rp.2000. Kalau Non Elda lg dijemput dan pulang ke Rawa Belong, lumayan bisa numpang mobilnya sampai Slipi. Gratis! Irit 2000. Lumayan bisa nabung=)

Trus naik patas 45 lg, 3000 perak. Sampai Tangerang, Bapak sering jemput di Prapatan Kantor, jadi sisa uang 3000ku utuh…
Alhamdulillah, kadang bisa kasih ke pengamen, kadang kalau lagi pelit, aku simpan sendiri. Biar ada pegangan klo bolak/ik Jakarta. Trus di akhir minggu, aku bisa ngumpulin uang untuk beli pulsa m3 yang 10rb. Pokoknya, kalau bisa, ga boleh minta terus sama bapak/ibu. Pulsa harus irit, seminggu 10rb. Itupun dibeli dari sisa uang 15rb yang sbnrnya pas-pasan!

Hebatnya, Tuhan selalu menjaga umatnya. Alhamdulillah gak ada kejadian yang aneh walau aku hanya pegang uang pas-pasan. Emang pas bgt utk ongkos! Walau dengan malu hati tidak bisa kasih uang ke pengamen atau pengemis yang lewat. Bukannya pelit, tapi memang benar-benar tidak punya uang.

Tapi siapa percaya?
Hape Nokia N70, baju rapih, gaya anak kuliahan banget, tentengan buku-buku tebal karya Kotler, O’Brien, Inskeep, etc.
Masa 500-1000 rupiah aja gak bisa kasih?

Sejak itu, aku brjanji klo sudah kerja, gak mau hidup ‘susah’ lg. Gak mau py dompet yang gak ada uangnya, gak mau berpaling muka dari pengemis atau pengamen yang lewat. Gak mau!!
Gw benar-benar merasa hidup susah saat itu. Gak ada tempat mengadu. Gak ada yang bisa bantu.
Begitulah kehidupanku, seorang pengangguran yang kuliah S2, mengantongi hanya 15.000 rupiah demi mencari kehidupan yang lebih baik.

Mungkin terdengar ironis, bohong, atau palsu. Tapi itu kenyataannya. Yang ironislah yang selalu menarik untuk didengar dan diceritakan. Selama itu pula gw bertahan. Sering kali, semangat kuliah yang berkobar bisa mengalahkan masalah finansial. Yang penting gw pegang uang 15rb. Gw bs kuliah, gw bisa balik ke rumah.

Yang aneh, gw tyt menikmati perjalanan naik bus itu. Selalu saja ada inspirasi yang muncul saat duduk (atau berdiri!) di patas 45. Gw tyt mrasa nyaman. Gak lagi mrasa terganggu atau gak nyaman. Kebiasaan hidup susah, membuat diri bradaptasi untuk bs bertahan hidup. Wlau untuk sampai rumah bisa sampai jam 12malam (kuliah dari jam5-10 malam). Tapi aku menikmatinya.

Sekarang, stlh sudah bekerja, aku tahu bahwa aku semakin tidak layak mengeluh.
Dulu gak mengeluh (well, skali2 suka mengeluh dan iri sih. Pgn py kendaraan sndr. Pgn beli jajan. Pgn beli makanan enak,etc, tp duit cuma 15rb=), tp kebanyakan hanya menikmati fase ‘bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian’=)). Sekarang juga tidak boleh mengeluh! Hehe

Gak ada lagi rasa khwtr krn di dompet tdk ada uang. Gak ada lagi rasa malu karena harus pura-pura berpaling dari pengamen atau pengemis yang lewat. Gak ada lagi rasa minder kepada teman-teman. Gak perlu lagi menengadahkan tangan ke bapak ibu.

Gak ada lagi Annisa yang manja. Kalau dunia tidak ramah, masih ada Tuhan yang membantu menghadapi semua. Hanya perlu KEYAKINAN bahwa aku akan baik-baik saja.
Sekarang, tiap kali naik patas 45, aku ingin menangis. Kagum bgmn diri ini bs brtahan dgn uang 15.000 di tangan. Di kota besar bernama Jakarta yang katanya lebih kejam dari ibu tiri.

Tapi aku bertahan..
Alhamdulillah..

Tuhan, kumohon, jangan berikan hamba cobaan yang tidak sanggup hamba pikul. Tunjukkanlah cahayaMu dalam kegelapan yang menyelimuti jalan hamba. Jadikan aku selalu bersyukur atas semua nikmatMu.

Sampai saat ini pun aku masih belum kaya, tapi aku pasti akan membahagiakan orang-orang di sekelilingku dengan rezeki yang kumiliki.

Hidup susah ternyata tidak selalu buruk. Itu menjadikanku lebih bersyukur. Semoga aku tidak menjadi lupa diri. Amien..

Hmm..kayaknya cocok deh kalau lagu JANGAN MENYERAH-nya D’Masiv jadi soundtrack notes ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s