.it (will be) (is) (was) our very first date.


Hm, Sabtu (12 Juli) itu aku diajak ke PRJ oleh nyokap dan juga beberapa ibu-ibu PKK di RW. Sempet dag dig dug juga saat dia telepon dan sekalian ngajak ketemuan di PRJ. Yang pasti, rasanya senang bangett…

It will be our very first date!

Tragedi PRJ ?

Aku sempet mengalami tragedi Valentine’s Day dan sempat berfikir jangan-jangan akan terjadi tragedi lainnya. Soalnya aku merasa susaah banget mau ketemu dia :( Dia sempet salah tempat (dikiranya sudah sampai PRJ tapi ternyata itu Balai Kota:) hehe), kita juga sempet saling cari di PRJ yang luas bangettt. Panik di telepon dan saling menunjuk arah agar pada akhirnya kita janjian bertemu di satu titik yang sama, akan tapi, lagi-lagi gak ketemu karena ada kesalahpahaman.
Sampai akhirnya tiba juga saat pertemuan itu… Rasanya kaget dan senang =) (Waaa..gak sengaja dress code kita sama…all in black…hmm, Kok dia tambah kurus yah!? Tapi tetap cakep=)).

I laughed, he laughed, and we laughed…together…
Walking along the entire crowd…

Hm, waktu udah hampir menunjukkan pukul setengah 6, mama dan para ibu-ibu PKK bersiap untuk pulang dan aku gak rela pergi dengan hanya memori 15 menit bersamanya.

Akhirnya, aku memutuskan untuk tinggal dan menunggunya shalat Ashar.

Saat dia kembali, Dia tampak senang karena aku memutuskan untuk tidak ikut pulang naik mobil bersama keluargaku.

We talked and we shared…
Banyak banget cerita, tentang pekerjaannya, tentang keluargaku, tentang teman-teman kami…Sebuah percakapan yang berbeda dari ratusan percakapan sebelumnya (saat kami masih berteman).

Dia makan, kemudian kami bercerita…lagi-lagi saling berbagi…kami shalat Maghrib…Dia membelikanku minum…mengkhawatirkanku dan sakitku karena ternyata angin berhembus dengan kencang di PRJ…malam itu…

It is our very first date…

Rasanya aku tidak ingin beranjak dan berjarak darinya. Ingin selalu dekat dengannya. Tapi waktu semakin larut. Akhirnya kita pulang. Dia berniat mengantarku ke Semanggi –tempatku akan naik bus menuju Tangerang. Perjalanan ke sana ternyata cukup rumit (terlebih karena aku tidak mengerti jalur busway dan jalan2 di kota Jakarta!). Tapi Dia menjagaku!

Beberapa kali kami berganti busway. Menikmati saat2 duduk, bahkan saat harus berdiri, bergantungan tangan di ‘pegangan’ busway, berdesakan, dan dari semua momen itu, saat yang paling kunikmati adalah saat Dia sengaja memegang tasku agar kedua tanganku bisa kokoh berpegangan di ‘pegangan’ busway (begitu juga saat akhirnya dia mengakui bahwa dia mengkhawatirkan kondisiku yang sedang sakit, namun harus berdesak-desakan, berdiri, dan terkena angin malam tanpa jaket membalut tubuhku).

Can’t he see that all this illness is NOTHING compared to my happiness being with him?!

Waktu ternyata telah larut dan bahkan aku belum separuh perjalanan menuju Tangerang. Akhirnya dia memutuskan untuk ikut naik busku dan mengantarku ke Tangerang. Sedikit melupakan bahwa besok dia akan bekerja dan dihadapkan pada kemungkinan sudah tidak ada bus yang menuju Jakarta untuk mengantarnya kembali ke kosannya di Benhil.

Sepanjang perjalanan, Dia terlihat lelah, tapi ternyata cerita terus mengalir. Alhamdulillah jalan tol Jakarta-Tangerang sudah agak lengang, sehingga bus melaju dengan cepat.

Sesampainya di Islamic, aku memintanya turun dan naik patas 45 yang telah standby di depan gerbang tol, tapi dia tetap memaksa untuk mengantarku pulang sampai rumah. Padahal aku curiga bahwa patas itu adalah bus terakhir di malam itu yang akan menuju Jakarta. (Tuhan, dia begitu bertanggungjawab dan mengkhawatirkanku…)

Akhirnya kita sampai rumah setelah dua kali berganti angkot. Mama, papa, Arief tampak sudah tertidur, namun mama tiba-tiba bangun dan mengucapkan terima kasih padanya karena mengantarku pulang. Saat aku berinisiatif untuk mengantarnya naik motor ke gerbang tol, papa terbangun dan mencoba membujuknya untuk bermalam di rumah kami karena beliau yakin bahwa sudah tidak ada lagi bus yang beroperasi malam itu. Tapi Dia menolak untuk tinggal, akhirnya papa mengantarnya ke gerbang tol.

Apa mau dikata, sudah tidak ada lagi bus yang beroperasi malam itu, akhirnya dia sms dan bilang bahwa dia akan menginap. Aku senang=)

Aku menyiapkan kamarku, berniat untuk pindah sementara ke kamarnya mama agar dia bisa tidur di kamarku. Di ujung malam itu, kita smsan. Isi smsnya membuat pipiku merona merah=) I Luv You…

Subuh, kita sudah bangun, jam 5 pagi itu, kita keluar untuk beli nasi uduk di kompleks rumah…membuatkannya teh dan sarapan bersama.

Pukul 6 pagi, aku bersiap mengantarnya naik bus menggunakan motor Tornado 1996-ku yang setia sampai sekarang.
Sesampainya di Kavling Pemda, bus tidak lama datang, aku mengucapkan salam perpisahan. Hiks…
Waktu cepat sekali berlalu bila kita bersama dengan orang yang kita sayangi dan peduli kepada kita.

It was our very first date…

Dia bukan pujangga yang punya pabrik kata-kata romantis, tapi sikapnya ‘berbicara dan menunjukkan’ lebih. Hampir lima tahun aku menunggunya, menjaga rasaku padanya, sekarang semua mimpi dan doa tampak nyata. Terima kasih, Tuhan…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s