February 4, 2010

.aku, dia dan ‘dia’.

Gw ternyata gak pernah belajar untuk lebih bijak menyikapi masalah yang datang dalam hidup gw. Mungkin gw terlalu bodoh kayak keledai kali yah, sampai-sampai terperosok ke lubang yang sama berulang kali dan gak sadar sampai akhirnya sudah berada di dalam lubang. Nama lubangnya adalah lubang cinta. Emang dasar perasaan gak bisa diajak kompromi. Panca indra menstimulus, hati berbicara.

Dua hari belakangan gw sempet kecewa sangat. Mungkin dalam definisi yang lebih gila, gw merasa sangat depresi. Teman-teman komentar tentang status negatif gw dan gw sangat bersyukur sekarang karena mereka hadir menyampaikan kata-kata yang sangat sulit gw cerna saat itu. Apalah yang ingin didengar orang derpresi? Bukan kata-kata ‘Sabar ya..’ atau ‘Semangat ya…’ apalagi ‘Kenapa sih lo, kok bawaannya negatif mlulu. Cheer up..!’ Karena telinga dan mata gw udah kebas terhadap perhatian-perhatian kecil seperti itu. Perasaan gw mati rasa menerima limpahan kasih sayang yang orang-orang di sekitar gw ekspresikan (mungkin) sebagai bentuk kekhawatiran mereka terhadap kondisi gw.

Gw hanya ingin ‘dia’ yang ada buat gw. ‘Dia’ yang buat gw terpuruk dan marah sedemikan rupa tanpa pernah ‘dia’ sadar.Tapi ‘dia’ nyata-nyata gak pernah peduli. Si Boi tidak peduli padamu, perasaanmu dan malah senang-senang sama temanmu.

Trus ‘dia’ salah? Salah karena mau bersenang-senang? Salah karena ‘dia’ tersenyum atau tertawa padahal kamu nangis, sakit, merasa tidak bertulang karena hatimu yang tidak tahu diri kapan seharusnya mencintai orang?

Tentu gak! Gw yang salah. Gw yang bego.

Tapi gw gak mau mengasihani diri sendiri. Baru aja gak sengaja gw baca tweet dari temannya Yosier. Dan kata-katanya bagus banget. Gw kutip ya, “…how can u be in the middle when both points aren’t walkin towards each other?”

Yah, gw tahu kalau ‘dia’ gak peduli sama gw, trus gw kecewa karena temen gw ngedeketin ‘dia’ padahal dia tahu gw suka ‘dia’. Gw jadi marah dan kecewa (wew..redundant kata-kata ‘dia’ ya??:p haha). Tapi kalau membaca kata-kata di atas, gak ada yang salah dong. Toh gw dan ‘dia’ gak saling berjalan mendekat. Kalau tiba-tiba temen gw ada di antaranya, bukan berarti dia merusak gw dan ‘dia’ ( silly statement, I know..just keep reading, ok?:P I am at the position where I become so dumb, blind, and losing my common ground :p)

Apapun situasinya, gw, dia dan ‘dia’ punya argumentasi untuk memuaskan ego masing-masing. Gw akan selalu merasa benar dan jadi korban, dia juga akan merasa tidak salah, bahkan ‘dia’ merasa gak peduli apa yang terjadi dengan gw dan dia. Yang pasti, cinta itu merusak jalinan pertemanan.

I have to deal with that!! I hate it!!

Gw bukan orang bijak yang mampu melihat sesuatu hanya dari segi positifnya saja, karena dampak negatifnya nyata-nyata kelihatan (dari sisi gw loh!:p); gw kehilangan teman dan ‘teman’, kehilangan orang yang bisa buat gw senyum-senyum sendiri, mimpi nikah, orang yang membuat gw kabita terhadap apa yang dia tulisakan melalui twit-nya, yang membuat gw melirik mr. google untuk tahu siapa itu Imogen Heap, Owl City, Landon Pigg, ngecek gmail gw, plurk, multiply, beragam situs social networking lainnya, membuat telinga gw gak bosen ngebedain lagu Dont Stop The Music versi Jamie Cullum dan Rihanna (Sorry, Rihanna is still my fav…), ingin membaca novel-novel yang dia baca, senang tiap kali dia lewat di depan kantor gw (itu juga kebetulan lewat karena kantor gw searah tempat kursusnya), ingin berada di Gramedia Matraman tempat dia suka hang out, cari tahu ke temen-temen gw dimana letak persisnya Nasi Goreng Gila atau Mie Ayam favoritnya yang katanya ada di daerah Sabang, pengen bawain dia cream soup dan beef prosperity saat dia lembur kerja atau sakit karena kebanyakan lembur, yang blog-nya selalu gw baca, yang suaranya bikin dada gw berdetak cepat, dan berhenti seketika waktu tahu kalau dia ternyata lebih suka berada bersama teman gw.

Gw pikir udah gak jaman yah ngebahas masalah cinta-cintaan norak, bertepuk sebelah tanga. Tapi lagi-lagi kejadian.
Dasar keledai!! (laughing at myself:)))

Gw pengen berhenti menghukum diri gw sendiri, pikiran dan perasaan gw dari hal-hal yang menyakitkan. Ingin mampu memilah mana informasi yang bisa gw masukkan ke otak dan memproses lebih lanjut agar tidak berbentuk nota kebencian saat dibaca oleh hati. Gw gak mau menjadi orang yang gw benci, yang menebar kebencian ke orang-orang lain karena gw benci dia. Cukup!

Kata Ang, kita punya endorfin yang mampu diproduksi sendiri untuk dapat bangkit dari segala macam luka. Kata Tami, aku masih muda dan masih banyak yang bisa aku lakukan selain ngurusin masalah cinta kayak begini. kata Riri, Jangan sampai dua orang membuat kamu jadi begini. Kamu cantik Nisa..!(bener ngomong gitu kan, mbakyu:P hahahaha *narsis)

Aku ingin tersenyum, tuhan.. Berbahagia untuk diriku, dia dan ‘dia’. Membuat kebahagiaanku TIDAK melulu tentang ‘dia’ dan kesedihanku TIDAK melulu tentang apa yang ‘dia’ lakukan dengan dia.

Bismillah… Bila memang ini cobaanku, Tuhan.. Jadikan hatiku kuat dari rasa sakit namun tidak jengah untuk terus mencinta sampai nanti hadir orang yang juga mencintaku. Jangan sampai aku menjadi kufur akan nikmatMu….

*Thanks untuk semua support-nya, temans…
** Aku menulis ini dengan miris dan mentertawai diri sendiri

February 4, 2010

.kisah si neng, menikah dan tiket-tiket di kotak ajaib.

And So I wake up in the verge of morning, looking for some papers and suddenly have the inspiration to write stories about movie tickets.

Malam itu gw tidur agak terlambat, jam di HP menunjukkan pukul 11 malam. Setelah pamit tidur melalui sms dan ke beberapa teman di twitter, gw pilih modus ‘Diam’ di HP. Gw gak mau terganggu dengan suara telepon atau SMS di tengah malam buta saat gw mimpi nikah dengan si Boi. Setidaknya itu yang gw harapkan setelah semalam wajah gw rasanya tersenyum sepanjang waktu tidur gw. Ada rasa nyaman menyelusup dan gw merasa bahwa semua akan baik-baik saja.

Seumur hidup gw, baru pertama kali itu gw bermimpi menikah dengan seseorang. Mungkin gak spesial bagi kebanyakan orang, tapi sungguh ini bagaikan sebuah pertanda dari tuhan. Gw selalu takut akan masa depan pernikahan gw. Mungkinkah gw akan menikah akhirnya, siapakah pendamping setia hidup gw nanti, akan seperti apa hidup gw setelah pengejaran cinta berakhir. Ah, banyak pertanyaan-pertanyaan kelabu lainnya yang muncul.

Ketakutan ini bukan tidak beralasan; ada beberapa orang yang memilih tidak menikah dan berambisi tinggi untuk pencapaian karir hidupnya.Gak salah juga, toh memilih lajang atau menikah adalah preferensi masing-masing orang. Dan gw pribadi takut banget kalau gw jadi orang-orang seperti ini. Menjadi perawan tua -sebuah label nista yang biasa dilontarkan masyarakat melihat perempuan yang matang belum menikah. Naudzubillah.

Gw bisa membayangkan diri gw melanjutkan sekolah ke luar negeri, membelikan rumah untuk bapak ibu, memiliki mobil pribadi, apartemen di tengah kota, dan pekerjaan yang baik. Tapi, gw gak pernah memiliki bayangan apapun tentang menjadi seorang istri, menikah, memiliki anak dan membangun keluarga gw sendiri. Dengan cara yang miris, gw menangis. Menangis karena tidak memiliki bayangan apapun tentang memiliki sesuatu yang lebih besar dan sakral selain diri gw sendiri dan keluarga, yaitu menjadi makmum bagi seseorang.

Harapan ternyata tidak terwujud dalam mimpi; berharap melihat (lagi) si Boi memeluk gw di masjid putih dan mengucapkan janji suci ternyata terlalu muluk, gw malah dikejar-kejar setan kantor. Terlalu banyak hal yang ‘gak sesuai’ di tempat gw bekerja, tapi gw terlalu lemah untuk melawan. Alhasil, saat terbangun pukul 3 pagi, gw terengah-engah karena merasa disudutkan.

Terbangun dengan mata sangat silau melihat pendar cahaya dari layar HP yang gw gunakan melihat waktu, gw terperanjat dan segera menurunkan kaki dari dipan. Berkas-berkas pengangkatan CPNS belum gw siapkan. Ah, malas sebenarnya harus menyalakan lampu kamar, tapi mungkin itu lebih baik daripada tidur tidak tenang karena setan kantor membayangi gw.

Gw buka lemari gw, mencari tumpukan berkas yang dibutuhkan. Ah, naluri pembantu tampaknya tidak terpengaruh dengan dinginnya dini hari ini. Tidak hanya sekedar mengambil bahan yang dibutuhkan, gw juga beres-beres beberapa berkas yang sudah tidak terpakai. Kebanyakan hanya tugas-tugas kuliah sejak semester satu. Satu tamparan keras buat gw yang terlena nikmatnya dunia dan melupakan thesis. Sudah lebih dari 3 minggu lalu gw bertemu pembimbing ke-2 dan sampai detik ini, perkembangan thesis yang gw buat adalah NOL BESAR. Stupid!!! (Gak buruk juga ternyata pagi-pagi buta beres kamar:p ), sambil memilah berkas, gw liat tumpukan novel-novel yang belum gw baca. Kebanyakan masih tersegel plastik. Buku-buku rata-rata itu dibeli karena ada diskon besar-besaran:) Hm, bahkan buku Negeri Van Oranje yang sempat memotivasi gw untuk apply StuNED dan studi ke Belanda aja tergeletak manis dengan sebuah pembatas buku di halaman 327; tak terbaca!

Gak cuma soal-soal ujian dari kampus, paper kuliah, dan buku novel yang gw temuin dengan-tidak-sengaja. Tumpukan credentials yang gw cari akhirnya ketemu juga. Gw teliti halaman demi halaman transparan di dalamnya; SK CPNS, sertifikat Prajab, ijazah S1, transkrip nilai cumlaude *sombong sedikit:p, sertifikat-sertifikat kejuaraan debat, juri nasional, lomba quicky macky, mapres, kartu keluarga, SK pengangkatan organizer dan PO, surat rekomendasi kerjaan gw di Bali, cover letter dan resume untuk apply kerjaan, fotokopi KTP sampai SKCK dan juga formulir pendaftaran CPNS Departemen Perdagangan yang 2008 lalu membawa gw menjadi abdi negara. Semua Lengkap. Rapih. Dan merupakan bukti otentik atas pencapaian pribadi gw selama 24 tahun ke belakang. Semua kertas bertanda-tangan-bercap-dan

-certified itu gak didapat dengan tidur dan nonton. Semangat itu sudah mulai surut sekarang. I wish I could still have the spirit to always be the best in everything just like what i did back then.

Setelah gw pilih dan pisahkan semua dokumen yang dibutuhkan, gw mulai menjelajah kotak lain di lemari. Gw menemukan kotak ajaib hadiah dari paokuwh, di dalamnya ada banyak resi pembayaran melalui ATM yang tercetak untuk berbagai macam pembayaran yang gw lakukan (Indahnya hidup dengan kartu ajaib. NO CASH! Seandainya kartu-kartu itu juga memberikan keamanan total).
Selain resi, gw nemuin beberapa tiket bioskop yang sengaja gw simpan. Entah kenapa gw simpan-simpan tuh tiket, sekarang baru gw tahu bahwa tiket itu gw simpan untuk gw ceritakan kisahnya:p
Ya, tiket-tiket itulah yang memaksa gw untuk menulis ini.

Here’s some movie tickets I keep:

VALKYRIE – Friday, 20 Feb 2009 – Studio 1 – Semanggi 21 – Bareng Ang
KNOWING – Monday, 4 May 2009 – Studio 1 – Metropole – Bareng Tami
2012 – Thursday, 19 Nov 2009 – Studio 1- Hollywood KC – Gak akan terlupakan karena ini satu-satunya tiket tersulit yang gw dapat; kabur sebentar dari kantor, datang ke Metropole – TIKET HARI INI HABIS, trus motor hampir mogok, untung aja nemu pom bensin. Trus menuju ke TIM 21 -(lagi-lagI TIKET HARI INI HABIS. Akhirnya telepon ke Hollywood KC dan masih tersisa kursi, gw kejar naik motor ke sana. Di jalan Surabaya, tiba-tiba hujan turun derassss bangett. Baju basah, berhenti untuk pakai mantel di Menteng. Lanjut ke Gatot Subroto. Sepatu dan kaos kaki isinya air semua. Hujan dan badai gak menghalangi, sampai di KC, gw tinggal motor di dekat halte di sana, kebetulan banyak orang berteduh di sana. Gw lepas mantel dan baru sadar kalau air menggenang semata kaki. Alhasil, kaki gw tenggelam dalam genangan air. Sumpah, memalukan banget masuk ke Hollywood KC dengan baju basah dan sepatu netes air:p, tidak ada antrian, tiket masih banyak. Gw dapat tiket jam 18.15. Langsung balik kantor. Durasi 2 jam bolak-balik parkir, hujan2an, cuma buat dapat tiket 2012! – Nonton bareng Ang:)
THE TAKING OF PELHAM 123 – Friday, 14 Aug 2009 – Studio 1 – Metropole – nonton sendiri (saat bos dinas ke luar kota:p)
THIS IS IT – Tuesday, 3 Nov 2009 – Studio 1 – Djakarta Theatre – bareng om nong, kemal, dan ibu soto
ANGELS AND DEMONS – Monday, 18 May 2009 – Studio 1 – Semanggi 21 – Nonton bareng sang mantan sepulang kuliah. Mau coba merasakan kembali nonton bersamanya setelah 3 bulan putus. Masih belum mau sadar kenyataan bahwa gw dan dia udah gak bareng lagi:(
AVATAR – Saturday, 19 Dec 2009 – Studi 2 – Hollywood KC – Nonton bareng Paokwuh dan Pita setelah capek Kemang Festival:p
LAST CHANCE HARVEY – Saturday, 29 Aug 2009 – Studio 2 – Setiabudi 21 – Sekali-kalinya nonton midnight bareng wina, sinta, pita dan paokuwh sambil bermalam di rumah:)
WHITEOUT – 15 Oct 2009 – Studio 1 – Djakarta Theatre – Nonton bareng Atha
SHERLOCK HOLMES – Thursday, 31 Dec 2009 – Studi 2 – Djakarta Theatre – Nonton di penghujung tahun 2009 bareng ang dan Pita. Dilanjut makan malam bersama dan merayakan pergantian tahun di bundaran HI. Whatta great year!!

Ternyata masih banyak film yang gw tonton di bioskop, tapi gak penting juga deh ditulis satu per satu:p hehe

January 26, 2010

.kisah perempuan dengan kesukaan menonton/ membeli/ menyewa film yang kronis.

Sudah sejak lama gw pengen banget bisa menulis dan membuat review singkat saja tentang film-film yang gw tonton. Bukan hitungan 10 atau 20 film aja yang gw tonton dalam sebulan, jumlahnya bisa banyak sekali karena ternyata entah gw sadar atau gak, gw punya masalah complex obsessive compulsive disorder mengenai menonton film.

Setiap minggu, gw menghabiskan uang gak sedikit untuk menyewa film di dua disc rental favorit gw -Pelangi Disc dan Ultra Disc. Sekali menyewa di satu tempat bisa sampai 5 bahkan 10 judul film. Gak ada genre favorit, yang penting cover-nya menarik, pemainnya familiar di telinga dan mata, judulnya menarik. Tapi yang paling menentukan ‘buying power’ gw adalah cover tuh film. Dan rasanya menyenangkan banget bisa melihat banyak cover film keren yang ternyata filmnya juga keren:)

Selain sewa film, hampir setiap minggu gw juga suka beli DVD-DVD favorit di ITC Kuningan. Piracy is a Crime, rite? Gw tahu ini salah, tapi ternyata pemikiran ini hanya sebatas aspek kognisi gw aja, belum sampai konatif:) (Kesimpulannya, Iklan PELE berbahasa latin selama 31 detik yang terputar setelah tombol ‘play’ di remote dipencet dan mengingatkan bahwa ‘Piracy is a Crime’ itu SANGAT TIDAK EFEKTIF *gak perlu penelitian khusus untuk tahu :D)

Walau demikian, gw punya alasan juga kok kenapa tetep maksa beli DVD. Dan alasan ini cukup ‘masuk akal’ dan dapat dijadikan pembelaan kalau gw dituntut di pengadilan:P *jangan sampai kejadian

Petama, hanya DVD bajakan yang punya judul-judul film yang baru akan muncul di 21 atau blitz setelah 2/3/4 bulan ke depan. Liat aja film He’s Not That Into You, bajakan yang ‘asli’ (baca: membajak dari DVD Original sehingga gambar dan subtitle bagus) sudah muncul saat film itu baru diberi label ‘Coming Soon’ di bioskop-bioskop. Kedua, yang gak kalah penting adalah harganya yang murah:) hehe

Dont worry, gw salah satu yang berikrar untuk gak ngebajak produk dalam negeri. Jadi, gw gak pernah beli MP3/ CD lagu dari penyanyi Indonesia atau beli bajakan film-film Indonesia (*padahal film Indonesia emang jarang ada yang bagus sih:P).

Balik lagi ke masalah di awal, Kenapa sewa film bisa jadi masalah? Ya, alasannya adalah karena kadang hati gw berontak untuk gak melangkahkan kaki ke tampat rental, sering juga otak gw gak bisa mengendalikan tangan gw yang dengan lincahnya memilih film dan meletakkannya di counter bayar. Bahkan temen deket gw bisa melihat binar-binar jatuh cinta dari mata gw, wajah sumringah serta memancarkan cahaya hanya karena melihat tumpukan film-film yang ada. Katanya, mata gw sampai gak berkedip. Saat gak jadi beli pun, nih mata masih aja gak bisa melepaskan pandangan dari rak-rak film.

Masalah lain, setelah film-film tersebut dibeli dan menumpuk, gw bahkan tetep aja gak bisa nyetop kaki melangkah ke tempat rental atau membeli judul-judul lain yang belum gw miliki. Entah karena tuh tempat sudah diguna-gunai, sampai gw betah bolak-balik ksana, atau jangan-jangan malah gw yang emang sudah dijampi-jampi untuk selalu balik ke sana.

Parahnya, kalaupun gw tahu bahwa minggu itu gw gak bisa standby di depan layar TV lama-lama karena harus tugas dinas/ ada ujian di kampus/ banyak kerjaan dan tugas kuliah. Gw tetep ngotot datang ke tempat rental atau ke penjual DVD di Kuningan. Kalau sampai gak datang tuh bawaannya jadi resah, kepikiran, sampai gak bisa tidur, ada rasa menyesal, trus berniat besok pagi harus ke rental atau pergi ke Kuningan sepulang kantor. Alhasil, DVD bajakan numpuk di rumah, dan film-film  sewaan juga ngantri untuk ditonton. Kadang jadi stres kalau sudah deadline balikin film, ternyata tuh film belum gw tonton.

Perlu disampaikan, ada rasa puas dan senang sekali tiap kali melihat tumpukan film yang gw beli atau melihat daftar ratusan film yang gw tonton. Rasanya gak ada yang membahagiakan hidup selain menonton film (*lebay). Rasanya gw tenggelam dalam kisah-kisahnya si Ryan Bingham (Up In The Air), Rose Lokowski (Sunshine Cleaning), Mark Bellison (The Invention of Lying), Ryden Malby (Post Grad), Julie Powell & Julia Child (Julie and Julia) atau Clyde Shelton (Law Abiding Citizen). Seolah-olah cerita-cerita ‘fiksi’ mereka melengkapi cerita ‘nyata’ hidup gw yang datar dan biasa saja ini.

Dengan simptom seperti itu, sudah dapatkah perempuan ini diklasifikasikan sebagai perempuan dengan kesukaan menonton/membeli/ menyewa film yang kronis?

December 22, 2009

.enam rapor merahku.

Entah ini merupakan kutukan atau memang ‘hadiah’ Tuhan untuk aku yang sombong ini, kok rasanya selalu saja ada hal yang bisa diceritakan setiap kali aku nonton di bioskop.

Siang ini dengan malas sekali aku beranjak dari rumahku di Tangerang untuk menuju Jakarta. Memang ritual setiap hari Minggu untuk kembali ke Jakarta untuk menghindari kemacetan di Senin pagi.
Nah, karena baby sudah dipensiunkan sejenak, maka aku pakai motor bapak untuk ke Jakarta (Uwft, gak pernah semangat rasanya kalau kembali dari Tangerang menuju Jakarta).
Rasanya badanku sudah dipantek di tempat tidur menghadap TV dan tumpukan film-film yang siap aku tonton di kamar:) Tapi karena ada janji yang gak bisa dibatalkan, berangkatlah aku naik motor jam 12 siang.

Itu matahari benar-benar ada di ubun-ubun kepala. Panassss banget! Mana bawa satu tas backpack besar banget yang isinya baju-bajuku selama seminggu yang sudah rapi disetrika. Karena berkendara dengan kecepatan tinggi, kurang dari satu jam, aku sudah sampai di Tanah Abang.

Trus kenapa notes ini perlu ditulis?

Marilah kita lihat satu per satu kesalahan gw yang layak dapat ‘rapor merah’ dari Tuhan.

#1 Gw meremehkan janji kepada orang lain, menunda-nunda kepergian gw ke FX atas dalih kemalasan.
Hmm, tepat jam 14.25 WIB, ada film Sang Pemimpi yang siap diputar di Studi FX. Sudah sejak minggu lalu kami merencanakan untuk nonton film ini sebelum Tami ‘pulang ke hutan’ untuk belajar :) Sebenarnya gw sudah punya janji ke Anggie untuk nonton film itu bareng-bareng karena memang nilai historis buku itu yang tinggi, tapi karena satu dan lain hal, maka terpaksa banget membuat Anggie ‘mengelus dada’ *maaf ya, Ang…

Karena panas yang menyengat, gw memutuskan untuk istirahat, santai, tiduran *ketiduran beneran! Niatnya mau berangkat 15 menit sebelum film itu dimulai. Toh dari Tanah Abang ke FX tuh deket. Cuma beberapa menit lewat Kebon Kacang. So, berangkatlah gw ke sana pukul 14.10. Tadinya malah berniat jalan lebih mepet lagi dengan waktu penayangan, tapi khawatir terlambat :p, akhirnya gw jalan juga.

Dimana-mana, janji tuh kan harus ditepati, wh, karena gw gak menepati janji dan malah menunda-nunda apa yang telah gw janjikan kepada orang lain, maka gw layak dapat 1 (satu) hukuman. Satu rapor merah buat gw.

#2 Gw gak pamit sama bapak saat mau berangkat ke FX.
Hmm, bapak lagi jaga warung di Tanah Abang, sebelum berangkat gw sudah pamit ke mama, tapi karena buru-buru (Alesan bangett lah! :p), gw cepet-cepet naik motor, Bapak yang sedang di ruangan sebelah gak gw sapa atau pamiti. Hm, sempet ragu sih, melirik sebentar ke arah Bapak yang sedang sibuk dari atas motor, khawatir ada hal yang ‘aneh’ kalau gak pamit, tapi pikiran itu segera gw tepis, my time is running out.. I gotta ride fast… Akhirnya gw hanya pamit sama bapak di dalam hati saja. Kesalahan kedua layak dapat satu poin hukuman juga.

#3 Gw menerobos jalan satu arah di samping Grand Indonesia *ngikutin motor di depanku kok, aku gak liat tanda satu arah.. Sungguh!! :p
Nah, karena yakin kalau FX tuh ada di sebelah situ, deket dengan Grand Indonesia, maka gw melaju cepat lewat Kebon Kacang, tembus di bagian belakang GI dan Bunderan HI. Karena sudah ‘desperate’ karena kesalahan pertama -menunda-nunda janji, maka gw nekat ikutin motor di depanku lewat di antara mobil-mobil mewah yang sedang jalan. Belakangan baru sadar kalau jalanan ini sebenarnya satu arah, tapi karena sudah terlanjur, maka lanjut gaaan… Sampailah di dekat Bunderan HI dan berbelok ke kiri. FX tuh tepat disebelah GI kan? Yang dekat dengan Kedutaan Besar Jepang itu loh.. Iya kan?

Gw santai melaju dan melewati pinggiran jalan Thamrin hanya untuk menyadari kalau gw melakukan kesalahan bodoh untuk kedua kalinya. Salah mengingat letak FX dan EX -Kebodohan pertama saat Mas Ardi traktir nonton Transformer setelah kelulusannya. Bodohnya gw, masih aja gak belajar dari kesalahan!
Motor gw lewat di samping EX, bukan FX (*damn! Stupid memory!! Gara-gara telat nih, makanya otak sudah gak konek dan lemot mikirnya :( ) Kesalahan ketiga layak dapat poin hukuman juga.

#4 Ngebut di jalan raya
Saking paniknya, gw ngebut sekencang-kencangnya. Dasar otak memang sedang tidak sinkron, gw seharusnya bisa belok kanan ke daerah Djakarta 21 dan putar balik ke arah Sudirman -biar bisa muter di kolong jembatan dekat Plasa Semanggi -untuk akhirnya menuju ke FX -yang akhirnya sudah gw sadari terletak di SENAYAN!!

Gw malah belok ke kiri lewat daerah Kebon Kacang lagi yang menuju ke Tanah Abang. Di situ gw memacu gas dan tebaklah…

Ada satu motor bodoh yang menerobos kencang melewati jalan yang sedang gw lalui untuk bisa berada di bahu jalan lainnya. *susah dijelasain lah, pokoknya tuh motor tiba-tiba keluar gang dan melaju di depan gw yang juga lagi ngebut. Adrenalin gw sudah sangat tinggi, dalam kalkulasi singkat yang dilakukan otak gw, gw gak yakin bisa memberhentikan motor dengan tepat sebelum badan motor gw dan tuh orang menabrak satu sama lain -apalagi gw sangat tidak terbiasa dan berpengalaman dengan motor Bapak..Oh, How I miss you so, Baby…

Entah bagaimana, kecelakaan bisa terhindari, motor itu bisa melaju lebih kencang dan berhasil menghindari kejadian fatal.. Tuhan masih sayang sama gw.. Alhamdulillah.. Terima Kasih ya, Allah…
Selepas kejadian itu, cuma bisa istigfar sambil mengucap syukur…. astagfirullahaladziim…
Kesalahan keempat memang layak untuk dapat poin hukuman juga. Sudah ada aturannya, di jalan tuh gak boleh ngebut-ngebut, eh gw malah tetap ngotot ngebut… *sedikit sadar untuk tidak memacu motor sampai kecepatan 100km/jam lagi :p

#5 Sesumbar dalam berkata dan berfikir, bahkan menganggapnya bagai lelucon jenaka
Setelah beragam kebodohan yang gw lakukan, gw berkata di dalam diri gw “hmm..cerita gw hari ini bakalan komplit kalau gw harus ditilang sama pak polisi.
Buru-buru gw hapus ‘permohonan’ itu, berharap gak ada lagi hal yang lebih buruk menimpa gw. Gak cuma satu dua kali permohonan gw langsung dibayar lunas oleh Tuhan..
Be very careful to what you wish for….

#6 Menerobos jalur cepat di kawasan jalan Asia Afrika *pokoknya yang deket Kantor Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara, entah apa namanya.
Sambil mulut gw berkomat-kamit karena sudah lolos dari kecelakaan, gw mulai melaju lagi melewati jalur kebon kacang, melewati karet naik jembatan terus menuju Plasa Semanggi untuk akhirnya bisa mutar ke kolong jembatan.

Belakangan, gw baru nyadar, harusnya gw pilih lewat Slipi untuk bisa ke Senayan. Hm, bisa aja sih lewat Sudirman, tapi karena gw berada di ruas jalan yang berseberangan dengan FX, otomatis gw harus cari jalan mutar arah -faktanya, gw sangat tidak familiar dengan daerah itu! Gw dengan pedenya jalan terus saja dan menemukan persimpangan, gw pilih belok ke kiri dan menyadari sepertinya gw salah jalan. Akhirnya gw tanya ke supir bajaj. Dengan petunjuk minimnya itu, gw putar balik dan melaju terus.

Senang melihat patung dan bunderan, gw bersiap untuk melaju dengan yakin. Kemudian gw mulai menyadari, kenapa gak ada motor yah di jalur ini… Crap!! Gw ada di jalur cepat… -Entah kenapa sepanjang perjalanan yang aneh ini, alam bawah sadar gw terus menerus mengingatkan diri ini untuk melaju di jalur lambat. Lintasan rambu-rambu ‘Jalur Cepat Hanya Untuk Kendaraan Beroda Empat atau Lebih’ terus menarik perhatian mata gw, lebih dari 6 kali gw baca rambu tersebut, tapi gw gak ‘ngeh’ kalau itu merupakan sinyal untuk gw. Dan sungguh, gw gak baca rambu tersebut saat gw mulai melaju di jalur cepat ini. It’s soooo tricky! Dua orang polisi sudah siap men-stop gw. Damn!! *contoh buruk! terus menerus mengutuk sepanjang perjalanan. Jangan ditiru yaa.. :)

Mulai dari basa-basi salam, hormat, meminta gw minggir, meminta SIM, dan STNK dilakoni oleh sang petugas penjaga lalu lintas. Dan muka gw sudah pucat pasi.. Ampuun ya, Allah… Ini kali pertama gw ditilang *track record berlalu lintas gw sempurna (sebelumnya!) :p
Gw diminta untuk ke pos polisi yang besar yang berdiri kokoh di tengah jalan, menemukan ada 7 orang polisi lain dengan rompi hijau mentereng khas kepolisian.

Dengan wajah memelas, gw minta maaf sama Pak TN (nama lengkap disamarkan :P). Dia periksa semua SIM dan STNK gw. Gak ada masalah di sana. Dia mulai mengancam untuk membuatkan surat tilang. Tapi gw bersikeras dan memohon untuk tidak diperkarakan. Gw tahu gw salah, tapi gw bener2 gak sadar kalau gw melalui lajur yang salah.

Polisi TN : Mau kemana, mba?
Gw : FX, pak..Saya mohon maaf, Pak. Saya memang salah. Saya tidak tahu bagaimana berputar untuk sampai ke daerah Senayan. Tadi sempat nanya ke supir bajaj, trus ditunjukkan ke arah sini.
Polisi TN : Mba sudah melanggar lalu lintas. Peraturan tetap harus ditegakkan, mba… Kan sudah ada rambunya di sana. Mau dibuat surat tilang atau bagaimana?
Gw : Maaf, pak. Saya tidak tahu dan saya gak akan lebih hati-hati. Saya tidak melihat rambunya.
Polisi TN : Emang mau kemana sih?
Gw : FX, pak… Maaf ya pak..
Polisi TN : Saya buatkan surat tilang saja yah. Mba tinggal transfer ke Bank saja uangnya. Kan gak boleh terima uang di sini (pliss deh, Pak, siapa juga yang mau kasih bapak sogokan??)
Gw : Saya gak pegang uang, pak. Maaf ya, Pak (Duhh..gw bodoh banget yah..alesannya klasik!:p)
Polisi TN : Mau ngapain ke Senayan?
Gw : (dengan modal nekad dan muka pucat!), saya mau liputan di FX, pak. Ada kegiatan yang harus dibuat beritanya.
Polisi TN : Dari media mana?
Gw : Metro TV, pak. (gak yakin dia percaya, tapi gw tetep nekad! Gak layak ditiru!)
Polisi TN : Sudah, dibikinkan surat saja ya.. Teman-teman Anda juga kalau (red. polisi) ada salah-salah aja langsung di-blow up di media, dibuat ramai, Anda juga kan salah, biar dibuatkan surat saja.
Gw : Maaf, Pak. Yah, itu kan memang tugas kami untuk nulis berita. Maaf ya, pak… (bismillah, jangan sampai nih polisi minta kartu pers gw! Gw cuma pernah magang di Metro TV dan gak punya tuh kartu ajaib)
Polisi TN : Yaudah, kali ini saya maafkan. Lain kali hati-hati di jalan.
Gw : (alhamdulillah)..Iya, pak. Saya akan lebih hati-hati…

Hahaha…(sekarang bisa ketawa), alhamdulillah lolos dari lubang buaya. Tindakan gw ceroboh banget! Tapi gak ada cara lain, tuh polisi gak bisa maafin gw sih, kan cuma lewat jalur cepat sedikit aja. Mau muter balik gak ada jalan, terpaksa bohong:( Hikss…*I’m not proud of it

Dengan sopan, pak TM menunjukki jalan gw, dan dengan ramah dan tenang, gw menyapa polisi-polis lain yang ada di sana. Mohon pamit dan lekas-lekas menyalakan motor sebelum mereka berubah pikiran dan mendeteksi kebohongan gw. Kabuuurrrr…

Pelan-pelan gw berjalan melewati Ratu Plaza hingga akhirnya sampai di FX, parkir di kawasan hotel Senayan Athlete dan berjalan gontai menuju ke Studio 1 FX. Badan sudah lemas, pikiran terkuras, hampir membatalkan janji dan memilih untuk pulang saja. Kisah enam puluh menit gw itu merupakan enam rapor merah gw yang layak dapat banyak pemikiran mendalam.

Sungguh sayang Tuhan akan diriku, memberikan ‘pelajaran’ sebagai konsekwensi atas perbuatan yang gw lakukan dan pikirkan. Alhamdulillah pelajaranNya masih memberikan gw waktu dan kesempatan untuk berfikir dan berubah menjadi lebih baik. Seandainya umur belum sampai, gak bisa lah gw menulis notes ini… astagfirullah…

Semoga selalu menjadi pengingat yang nyata bagi diri yang bodoh dan kikuk ini.

*however, terimakasih untuk acara nontonnya dengan Tami, Ara, Atha, Atta&Boyfriend. Hope to gather with y’all again.. sometimes:)

December 22, 2009

.aku sembuh, Tuhan.

Tepat tanggal 13 Februari 2009 gw berkata bahwa gak akan pernah lg mau mengunjungi Purwokerto. Terlalu banyak kenangan tentangnya yang tidak ingin gw ingat kembali. Terlalu banyak orang-orang yang hadir di antara kehidupan gw dan dia. Entah kenapa gw begitu takut sekali untuk kembali. Takut melihat mimik wajah-wajah yang terbaca bagai pertanyaan-pertanyaan seputar aku, dia, kenapa pisah, apa yang trjadi, kenapa, bagaimana hubungan kami sekarang, bla bla bla. Bahkan gw menghindari kawan-kawan terbaik sejak kuliah dulu. Terlalu lama skali waktu yang gw habiskan hanya untuk dapat berjalan lagi tanpa menengok ke belakang -ke dirinya, dan meyakinkan diri bahwa gw akan baik-baik saja. Dan seperti kata Wina, God knows when it’s time. Dalam rangkaian kebetulannya, kantor mengirim gw ke Banjarnegara. Artinya berhenti di Purwokerto, menengok Ardhie, melirik kampus, menjelajah kuliner murah&enak, melihat SEF lagi, bahkan mungkin melaju motor dengan kencang lg menuju purbalingga dan menikmati smua sawah serta keindahan alam ini. Entah bagaimana, rasa takutku utk kembali ke PWT sudah hilang. Tawaran dinas itu datang di saat gw telah berani untuk menginjakkan kaki lagi di sini. Rasanya menjadi sangat tepat dan indah. Bahkan gw gak percaya keberanian itu akan muncul. Aku sudah mulai sembuh, Tuhan. Terimakasih:)
Dia yang aku tunggu juga kuyakin akan datang tepat pada waktuMu. Saat smua menjadi terasa begitu tepat dan indah seperti yang kurasakan saat ini.

Stasiun Bumiayu; 15 Desember 2009; 10.48 WIB.
*Catatan kecil perjalananku setelah 18bulan ke PWT dan dinas pertamaku untuk kegiatan Monitoring Perkembangan Pembangunan Gudang SRG Program Stimulus Fiskal 2009.

December 22, 2009

.the girl who never.

Terinspirasi oleh lagunya Landon Pigg (LP) yang berjudul ‘The Boy Who Never’, gw tulis notes ini.
Seseorang yang gw anggap dekat mengirimkan satu album lagu-lagu yang katanya ‘cozy, enak, romantis, cocok didengarkan di kala hujan’. Deskripsi kata-katanya tentu membuat gw sangat ingin membuktikannya. So I start hearing the songs…

Bukan tipe lagu yangear-catching (*bahkan mѐntal di telinga Ang:p) , tapi ternyata perlahan gw semakin menyukainya, dimulai dari Falling in Love at The Coffee Shop (*yang punya videoklip yang menarik dan gw suka banget!), A Ghost (*yang agak mistis :p) dan yang terakhir sering gw dengerin adalah lagu The Boy Who Never yang juga merupakan judul albumnya si LP. And so he sings:

The strongest structures ever built are the ones that don’t get built at all.
The kinda bricks that don’t get laid are the only kind that never fall…
I’m afraid of what might happen if together we build a wall.
Cause the only kinda love that never gets built is the only kinda love that never falls.

Betulkah demikian? Bahwa cinta yang tidak akan pernah hancur adalah cinta yang tidak akan pernah dibangun. Bahwa sebuah hubungan yang paling kuat adalah sebuah hubungan yang tidak pernah dibangun sama sekali?

Pertama kali mendengar lagu ini, gw secara ‘mistis’ tertarik. Bahkan bertanya ‘what the heck is wrong with this boy? what things he NEVER do??’ Langsung gw cari liriknya di google dan membacanya dengan sangat hati-hati.

Satu dua kali gw baca, gw sama sekali gak paham, apa sebenarnya maksud dari LP nulis lagu ini. Tapi semakin lama, semakin nyata maksud lagu ini. Sungguh sederhana sekali, tapi layak dapat pemikiran mendalam buat gw. ‘The Boy’ tidak pernah menyatakan perasaannya, tidak pernah berani membangun sebuah hubungan, tidak pernah berani mendekati, tidak pernah bilang ‘I LOVE YOU’, tapi dia sadar bahwa hati gak akan pernah bisa berbohong’

I never let my heart speak through my lips
I’ll never let my hands rest on your hips
I never said i love you, but the heart never lies
I know you heard me say it when i said it with my eyes

Dan tahu apa alasan dia?

So i forfeit future tears of joy
To save us both from pain
I could kiss you now, but i’d only miss you more
When i walk away
When i walk away

Ternyata karena takut bahwa pada akhirnya dia akan pergi meninggalkan perempuan ini dan cuma menyisakan tangis dan sakit bagi keduanya.

Lalu, haruskan gw juga begitu takutnya untuk jatuh cinta? Gw pengen banget menipu diri sendiri bahwa perasaan sayang terhadapnya TIDAK membuat dunia benar-benar terasa lebih berwarna, TIDAK membawa senyum di saat gw menyendiri di atas motor butut gw, TIDAK membuat jiwa gw melambung tinggi bangett *mulai lebay:p, dan TIDAK membuat gw rajin update twitter.

Gw mau menipu diri sendiri supaya gak jatuh terlalu jauh karena di satu sisi gw menikmati semua sensasi perasaan ini. Perasaan yang cuma milik gw. Dan gw tahu mungkin hanya akan menjadi milik gw seorang. Gak salah kan untuk memiliki perasaan ini? Yang salah mungkin perasaan ini membuat gw menjadi terlalu sensitif. Tapi gw yakin, pada batas tertentu, gw bisa menahan semua perasaan ini. Dan pada akhirnya, kalaupun ini hanya akan menjadi kisah-cinta-tak-berbalas lainnya, gw telah membuktikan bahwa gw tetep bisa move on:D Setahun, dua tahun, tiga tahun ‘berlari’ dari orang-orang yang tidak membalas dan orang-orang yang ‘mengambil’nya *tambah lebay, pacaran aja gak pernah, tapi sok egois dan merasa memiliki sampai gak rela orang lain juga suka sama laki-laki ini:p, tapi pada akhirnya gw pasti kembali bersosialisasi dengan mereka. *Gw harus terus belajar memaafkan dan menerima kenyataan dengan lebih cepat!

Belakangan ini gw berfikir dan bertanya, “Ya Tuhan, Bagaimana caranya membuat dia tahu bahwa gw sayang tanpa membuatnya jengah?” Haruskan gw simpan saja perasaan gw, agar gw tidak terluka? Haruskah gw diam? Apakah yang dimaksud dengan ‘just set him free’? Melepaskannya tanpa pernah dia tahu apa yang gw rasakan? Membiarkan dia tidak tahu bahwa dia sempat berarti? Bersikap biasa saja selayaknya dulu?

Tuhan, gw gak tahu bagaimana bersikap dengan benar di dekatnya -bahkan saat jauh dari dia. Kenapa gak ada pelajaran seperti ini di sekolah dasar, di SMP, di SMA bahkan di universitas? Kenapa gak pernah ada SKS khusus untuk tahu bagaimana bersikap dengan benar terhadap orang yang kita sayangi tanpa membuatnya lari atau jengah? Kenapa gak ada kurikulum khusus untuk membuat gw lebih paham, bagaimana caranya jatuh cinta dengan benar? Bagaimana agar perasaan-perasaan gw berbalas? Kenapa orang tua gw gak pernah memperingatkan gw untuk hal seperti ini?

Kalau memang alam dan lingkungan yang akan mengajarkan semuanya, pengalaman-pengalaman gw menunjukkan bahwa ternyata gw belum juga berhasil menemukan kunci atas pertanyaan-pertanyaan itu.

Gw tahu bahwa perasaan bukanlah sesuatu yang bisa dimanipulasi, dia tidak berbohong dan tidak dapat diganggu gugat. Rasa sayang itupun muncul tanpa pernah disadari. Tapi pernahkah kamu begitu letih untuk mencari seseorang yang tepat untukmu? Di saat yang sama gw juga terlalu takut untuk jatuh lagi dan memiliki perasaan ini.

Jangan hukum aku yang menyayangimu dengan memunggungi diriku atau berlari dariku. Berilah penolakan yang nyata namun tolong sampaikan sehalus mungkin. Bayangkan dirimu jatuh cinta dan begitu menginginkan seseorang, namun perasaanmu tak berbalas. Berdirilah di sepatuku dan pikirkan bagaimana penolakan terhalus dan terindah yang ingin kamu dengar dari orang yang kamu sayangi ini tanpa membuat egomu terluka dan harga dirimu terjaga. Lalu lakukanlah hal itu terhadapku… Aku akan menghargaimu…

This is me.. The Girl Who Never… Never find someone to spend my life with (yet).
But I will find you.. and You will also find me…
And together will make our own stories…

December 10, 2009

.we are not meant to be together.

Pagi ini gw menahan diri untuk tidak terlalu ‘usil’ memberi komentar lain di notes dia. Dia pernah banyak berarti buat gw, tapi apa pula hak gw untuk mengkritisi hidupnya yang memang sudah seperti itu? Dan ini semakin membuka mata gw bahwa memang kami tidak cocok satu sama lain. Bahwa pilihannya untuk ‘melepas’ gw merupakan pilihan bijak yang dia lakukan untuk ‘menyelamatkan’ hidup gw dan dia. *tapi apalah arti pernyataan tersebut, toh semua Allah yang mengatur alam semesta dan seisinya.

Gw selalu tahu bahwa kami gak terlalu ‘hebat’ kalau bersama. Apakah karena gw yang terlalu ambisus atau dia yang terlalu santai? Gw yang visioner atau dia yang hanya hidup untuk hari ini? Gw yang impulsif serta ekspresif atau dia yang terlalu datar dalam menyikapi hidup atas dalih ‘mensyukuri apa yang ada”? Gw yang api atau dia yang air? Gw yang terlalu punya bayak keinginan atau dia yang cenderung ‘takut’ untuk punya banyak keinginan? We are opposite to each other… *kalau dalam film-film, yang kayak begini malah jadi pasangan :p

Is my point of view about life WRONG? Is his point of view about life is RIGHT? or vice versa?

Gak ada yang salah atau benar menurut gw. Gak ada orang yang mau dijatuhkan dan dihakimi. Pilihan hidup gw atau pilihan hidup dia gak ada yang salah. *As if I would like to propose a win-win solution :p

Tapi kadang gw suka ‘gatel’ aja untuk mengkritisi sesuatu yang beda dengan cara gw memandangnya. Dan gw terus belajar untuk lebih bijak dalam menyampaikannya, atau bahkan akhirnya gw tutup mulut sekalian kalau gw memang sudah tidak peduli. * I remember all my rebellion years back in university :p LOL

Toh gw berhasil menahan jari gw untuk tidak mengetik kata-kata yang akan gw sesali belakangan *tapi ternyata tetap gak bisa menahan diri untuk mengetik di notes sendiri :p wkwkw

Notes inipun bukan untuk menentukan siapa yang benar, salah atau lebih baik. Lebih merupakan ungkapan perasaan gw. I need to release this feeling so I wont stock it inside…

Gw suka hidup dengan perbedaan-perbedaan yang ada. Gw suka hidup dengan argumen-argumen. Gw suka hidup yang gak cuma diam saja. dan gw suka berdebat tentang banyak hal. dan Notes ini merupakan salah satunya :D

I know there’s someone out there for me… I’ll be waiting.. To find someone whose way of thinking accordance to mine…

*missing the old debate time with my fellow teammate and coaches…

December 7, 2009

.and so you tweet.

#1 Now on my ear: Zigas – Sahabat Jadi Cinta *smg bukan pertanda

If he hopes that it’s not a sign, I myself do hope that it’s not a sign. More than three times I heard that song this whole day. Terngiang-ngiang seluruh scene dalam videoklipnya. Meresapi setiap kata-katanya. Dan tahu gak? Yang membuat semakin menakutkan adalah ‘ramalan’ zodiak di acara Planet Remaja yang diputar di sebuah stasiun TV. Kebetulan banget gw pencet channel-nya, ternyata SMA 1 Tangerang jadi venue acara itu. It was my highschool. Setelah selesai mandi, ternyata ada rubrik zodiak. (doesnt mean i believe superstitious things, it’s just a joke *LOL ). Secara keseluruhan, Cancer akan baik-baik saja, yang menarik adalah tentang Asmara. It’s literally written ‘ Sahabat jadi Cinta’! *surprise..surprise,,, what a coincidence right?? Yes, it’s just a coincidence!

Jadi, sepanjang hari ini –entah mengapa- lagu itu menjadi tema hari gw dan asmara gw dengan jelas tertulis judul lagu yang sama. I cant deny my mind flies aways to him when I hear the song. I know he’s not tweeting about me at the first place, but this ‘coincidental things’ really got me worried and sad *could it be possible? Is this real? Am i expecting too much? why he tweet the exact thing that haunt me the whole day?

#2 Breakfast @ McD atrium senen, triple cheese burger, hmmm… so so yummy!

I cant believe this. I swear I didn’t open his twitter this whole day. It’s just me on the bus heading to Jakarta and at a place near the bus stop, I see an interesting banner “McD Triple Cheese Burger – 24/7” I thought it’s gonna be great to have that for lunch. I just wish I could stop by and eat some. I’d love to have Triple Cheese Burger to serve my hunger :p Why on earth he spoke similar thing to what I said? Is this another coincidence? Yes, it is… It is a coincidence right, God?? But why it happened? Couldnt it be any reasons why?

Do you know, dear God? *yes YOU know. You always know.. Having multiple coincidences are not good for me. Why dont you stop ‘playing’ with me? I have said that I misinterpret ‘the sign’, i said the ‘sign’ in no longer exist, but why are there more signs between me and him? I am burying all my hopes, we’d be friend. I tried. I know I’ve tried to lose all the feelings.. it doesnt give me any good to be able to see ‘the sign’. So, please stop…

November 30, 2009

.the lost symbol.

Aku terbiasa ‘membaca’ ‘tanda’, makna-makna yang terselubung di dalam hidupku. Kuyakin itu semua bukan kebetulan belaka. Entah sudah mampu terbaca sejak awal ataupun baru di akhir waktu, namun kuyakin tanda-tanda itu selalu ada. Bukankan Tuhan bahkan seringkali mengakhir kalam-nya dengan kata-kata: “Yang demikian itu adalah tanda-tanda bagi orang yang berfikir”?

Dalam pengalamanku, bila akhirnya aku menjadi dekat dengan orang lain, sepertinya ada tanda-tanda yang muncul di awal yang mampu membuatku merasa bahwa kisahku dengan orang ini tidak akan berakhir dalam menit itu saja. Entah dari mana sumber keyakinan itu, namun aku tahu kisah kami akan terjalin lama, bahwa sebagian dari hidupku akan terhubung dan terpengaruh dengan orang ini, dan beragam hal-hal lain yang sulit kujelaskan dengan baik karena keterbatasanku mengungkapkan sesuatu.

Bahkan bila ternyata kami tidak dapat menjalin hubungan lebih jauh, selalu saja ada tanda-tanda yang ‘menghalangiku’ untuk melanjutkan apa yang telah ada. Hingga membuatku berfikir, ‘mungkin dia memang bukan jodohku, banyak jalan tidak membawa kami satu.’ Dengan membaca tanda-tanda itu, aku menentukan langkah yang harus aku ambil; melangkah maju, tetap di tempat atau mundur perlahan. Seringkali tanda-tanda yang ‘baik’ menjadi justifikasi diriku bahwa ‘we’re PROBABLY meant to be together’, bahwa alam mengatur semuanya itu.

Kebetulan..kebetulan dan kebetulan…

Kebetulan bertemu di tempat tak terduga, kebetulan mengungkapkan status serupa lewat twitter/ facebook di saat yang relatif sama tanpa pernah saling berhubungan sebelumnya, kebetulan muncul bersamaan di yahoo! messenger dan entah bagaimana tergerak untuk bertegur sapa, kebetulan muncul di saat diri ini membutuhkan seseorang seperti yang dia munculkan saat itu, kebetulan membaca buku yang sama, kebetulan mendengarkan musik yang sama pada saat bersamaan, kebetulan sama-sama percaya bahwa ada tanda-tanda yang terserak yang siap untuk dibuka tabirnya, dan betapa kita pernah (kebetulan) membicarakan kebetulan-kebetulan nan aneh yang kamu alami dengan orang lain.

Kebetulan-kebetulan yang entah bagaimana hadir di antara aku dan kamu. Yang di dalam pandangan mataku sempat terbaca sebagai skenario nan indah dan jalan takdirku dengan dirimu. Atau jangan-jangan di matamu, hal-hal tersebut terbaca hanya sebagai rangkaian kebetulan acak yang terjadi begitu saja. Semua kebetulan itu, apakah memang sekedar kebetulan? Atau harus dengan naifnya kuanggap sebagai tanda-tanda dari Tuhan untuk mengisi sisi yang sedikit kosong di rongga hatiku?

Sekarang aku merasa kehilanganmu…

Aku bahkan tidak pernah memilikimu, lalu kenapa aku harus merasa kehilanganmu? Hanya hatiku yang memiliki perasaan terhadapmu dan bila itu terampas karena memang tidak ada tanda-tanda lagi yang menghubungkan kita, maka aku harus siap menghilangkan rasa itu.

Bukankah seharusnya ini menjadi lebih mudah?

Karena aku tidak pernah memilikimu!

Tidak ada yang merampasmu dariku, memang Tuhan tidak lagi mempertemukan kita dalam kebetulan-kebetulan indah yang sempat kunikmati di awal itu.

Aku memang memiliki ketertarikan itu pertama kali bertemu dirimu, kemudian kutahu kamu sudah dimiliki orang lain, dan seketika itupun aku berbalik.

Namun tiba-tiba -entah dapatkah disebut kebetulan?- kamu datang -kecewa&sendirian- mengintervensi hidupku, dan dengan sigapnya kubaca sebagai tanda-tanda yang ‘baik’. Namun belakangan ini, tanda-tanda yang kucari semakin nihil. Tidak ada lagi tanda yang dapat kubaca. Kamu hilang bersama tanda-tanda itu.

Aku salah membaca tanda.

Hanya satu tanda akhir yang muncul, sebuah program aplikasi dunia maya yang biasanya menghubungkanku dengan dirimu, yang ku’paksa’ nikmati untuk dapat sedikit saja terkait denganmu, yang ku-install karena saran darimu, hilang tiba-tiba di dalam handphone-ku. Hilang dengan sempurna tanpa bisa kutemui di folder manapun.

Mungkinkah ada virus yang menyembunyikan aplikasi itu? Atau mungkin itu merupakan tanda baru bahwa aku pun harus menghapusmu dari diriku. Berhenti ‘melirik’ sedikit aktivitasmu, berhenti membuat diriku tenggelam lebih jauh lagi. YA! Karena kamu bahkan bukan milikku, dan sudah sepatutnya aku tidak merasa kehilanganmu.

 

*currently listening to Tanya Hati – Pasto

November 6, 2009

.kutukar Astroboy dengan semua itu!

Kulaju motorku sampai ke batas kecepatan yang masih sanggup kutahan, 100km/ jam, angin petang itu menyapu seluruh tubuhku yang hanya berbalut jaket denim bergambar tengkorak; melewati Kramat Raya, Raden Saleh, Cikini, Menteng melewati Taman Suropati, kantor lamaku di Bumi Daya Plaza hingga aku sampai di jalan utama Sudirman, berbelok ke kanan melalui Hotel Shangri La hingga akhirnya aku tiba di kampusku yang terletak persis di Hotel Sahid Jaya Sudirman.

Hari ini aku terlambat sampai ke kampus. Pekerjaan di kantor datang bertubi-tubi hingga aku tidak sempat memainkan permainan-permainan ‘konyol nan menghibur’ yang ditawarkan oleh facebook untuk mengisi waktu kosong. Aku bertahan sampai adzan maghrib berkumandang, memandangi berkas-berkas yang datang pergi tanpa jeda panjang sejak pagi tadi.

Jarum panjang menunjuk ke angka enam, sedangkan jarum pendeknya perlahan menjauhi angka itu. Kelasku sudah dimulai sejak pukul lima tadi, beberapa temanku sudah mengirimkan sms untuk memastikan kedatanganku ke kampus. Namun kaki dan tanganku sudah dipaku di kursi ini.

Hari ini Bapak memimpin beberapa rapat, persiapan yang remeh temeh sampai yang esensial pun menjadi tanggungjawabku. Aku seorang diri mengerjakannya, untung saja pelaksanannya melibatkan beberapa orang lain. Bolak-balik lantai 2, 3, 4 dan 5 sudah jadi olahragaku hari ini. Entah mengapa aku menjadi sedikit emosional menghadapi beberapa hal yang berjalan di luar rencanaku, Alhamdulillah aku masih bisa bertahan untuk tidak mencaci maki orang lain. I really have a bad temper!!

Setelah menyelesaikan semua yang ada di atas meja, aku pamit untuk kuliah. Suasana di kantor masih sangat ramai, mereka sibuk menyelesaikan pekerjaan masing-masing. Ah.. entah mengapa mereka betah sekali berlama-lama duduk di kubikel 2×2m itu. Menurut peraturan pemerintah, jam kerja pegawai negeri sipil hanya pukul 08.00 sampai pukul 16.00 WIB. Kenyataannya, jarang sekali bisa keluar dari kantor saat matahari masih tampak. Untung saja aku kuliah, sehingga punya alasan kuat untuk ‘kabur’ dari kantor -walau sebenarnya gak bisa disebut kabur juga sih, wong jam kantor sudah kupenuhi kuotanya.

Sampai di kampus, aku bergegas menuju kelas, ternyata masih ada beberapa kawan yang istirahat untuk shalat Maghrib. Baru duduk sebentar, kuliah sudah diakhiri. Diakhiri dengan tugas-tugas menumpuk karena dua minggu lagi Ujian Akhir Semester akan dilaksanakan. Salah satu dosen berhalangan hadir karena ada tugas ke luar kota, maka aku pulang cepat. Yippie…

Saatnya bersenang-senang!!

Waktu masih menunjukkan pukul 19.30 WIB. Kulirik hpku, mampir ke www.21cineplex.com dan menemukan bahwa film Astroboy yang lama kunanti sudah main di Djakarta 21, lihat jadwal tayangnya dan yakin bahwa 20.05 malam ini adalah waktu yang tepat untuk menonton di sana. Seorang diri saja, tidak apa-apa, aku memang belum punya pendamping.

Cepat-cepat kupacu lagi motorku untuk mengejar film yang 30 menit lagi diputar. Sudirman ke Thamrin lancar dan aku sudah bersemangat untuk menonton film itu. Sempat menimbang-nimbang apakah keputusan nonton film di mala mini adalah keputusan yang tepat.

Aku tahu sifat burukku. Aku terlalu impulsif. Bila menginginkan sesuatu, maka saat itu juga harus kudapatkan, kalau tidak dapat, bisa uring-uringan gak bisa tidur. Dengan penuh keteguhan, aku bersikeras ke Djakarta21. Malam ini aku akan menonton Astroboy!

Di tengah perjalanan, aku melihat mini market dan sempat berfikir bahwa sepulang dari menonton, aku akan mampir sebentar untuk membeli beberapa kebutuhan yang sudah habis.Tiba-tiba pikiranku seperti diarahkan untuk mengingat uang di dompetku. Seperti ada rasa tidak tenang.

Segera saat itu juga aku menepi, memeriksa tas hitamku dan tidak menemukan dompet ataupun amplop putih tempat aku bisa menyimpan uang makan bosku. Dompetku TERTINGGAL!! Tertinggal di laci kantor setelah hari yang menguras emosiku.

Iya, aku ingat meletakkan dompet berisi kartu ATM, KTP, SIM, STNK motor, beberapa lembar uang di laci itu. Sejak tadi, aku bayar parkir hanya dengan uang receh yang ada di kantong jaket, tidak sedikitpun teringat dompet itu. Ah…kesal rasanya!! Rencanaku GAGAL!

Gak kalah seru dengan ceritaku beberapa waktu lalu saat menantang Tuhan untuk memberikanku cobaan dan berakhir dengan bensin motor habis sehingga aku harus menuntun motor sepanjang sudirman sampai thamrin untuk mencari penjual bensin eceran, dan kecewa karena tiket nonton film Public Enemy yang kukejar-kejar (bahkan sampai bensin kosong itu) sudah terjual habis sampai tengah malam nanti. Baca notes itu di sini. hehe *LOL

Akhirnya aku pulang tanpa uang, tanpa tiket dan tanpa film Astroboy.

Anehnya, hatiku senang. Kesal hanya sebentar saja dan menguap dengan sukses ke udara bersama angin malam.

Mungkin memang aku tidak boleh nonton film itu malam ini. Mungkin karena aku sudah berjanji pada Anggie untuk nonton bersama sepulangnya dari diklat prajabatan, atau karena hujan akan turun di Jakarta malam ini, atau karena ternyata TV0NE menyiarkan sidang menarik dengan POLRI di televisi atau karena aku seharusnya berbagi rezeki ke penjual martabak dan bakso (yang kubeli karena perut laparku -yang bisa terbayar setelah aku pergi meminjam uang ke rumah saudara di dekat rumah), atau karena ada alasan-alasan lain yang Tuhan inginkan terhadap aku, sesederhana agar aku bisa berbagi melalui notes ini.

Kemungkinan-kemungkinan itu mungkin adalah alasan mengapa aku tidak berada di studio 2 Djakarta Theater malam ini. Kutukar Astroboy dengan semua itu!
Tidak sedikitpun sedih tersisa di hati saat kutuliskan ini.

Mungkin seperti itulah tuhan ‘bermain’ dengan aku dan kamu; Dengan memberikan apa yang aku dan kamu butuhkan, dan bukan yang diinginkan. Aku butuh untuk merasa bahagia dan Dia memberikan kebahagiaan itu dengan cara yang tidak aku inginkan pada awalnya.

Semoga hatiku bisa terus terbuka untuk menerima semua yang Dia inginkan terhadapku. Amien…

*repeatedly listening to Haven’t Met You Yet – M.Buble :: Other Side of the World – KT Tunstall :: Human Nature – M. Jackson :: Blue Eyes Blue – E. Clapton :: If – Bread :: Out of my Head – Fastball ::